TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Bos Mafia


__ADS_3

Sudah sekitar satu bulan, Gabriel belajar agama, dan sedikit demi sedikit dia sudah mengerti dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, dia juga sebisa mungkin menjalankan sholat lima waktu di mushola seperti yang di sarankan oleh calon mertuanya.


Seperti yang saat ini baru saja dia lakukan, Briel baru saja selesai melaksanakan sholat ashar di mushola, dia membawa serta putrinya, Naura. Putrinya yang cantik tampak masih mengenakan mukena, dia berjalan bersama sang ayah yang menegangkan baju koko berwarna putih seta sarung, lengkap dengan peci hitam yang menutup kepalanya.


Dia berpapasan dengan calon ayah mertuanya yang sama-sama baru pulang dari mushola. Bapak Ismail yang merupakan ayah Jasmine menghampiri Naura.


''Assalamualaikum, Pak...'' Briel menyapa dan bersalaman dengan Bapak begitupun dengan Naura.


''Waalaikumsalam...! Naura, cantik banget deh pakai mukena seperti ini,'' Bapak berjongkok dan menatap wajah cantik Naura.


''Makasih, kek...'' jawab Naura tersenyum.


''Eu... habis dari sini, Naura mau kemana? mau main ke rumah kakek?'' Bapak menawarkan.


Naura mengangkat kepalanya dan menatap wajah sang ayah seolah meminta izin kepadanya untuk menerima ajakan Bapak, Gabriel pun mengangguk lalu tersenyum.


''Mau, kakek,'' jawab Naura setelah mendapatkan izin dari ayahnya.


''Ayo kita ke rumah kakek, nanti di masakin makanan yang enak sama Nenek, kakek juga punya mainan untuk kamu,'' kakek meraih lengan Naura dan menuntunnya. Keduanya berjalan menuju rumah orang tua Jasmine yang memang terletak tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


Gabriel menatap punggung sang Putri serta calon mertuanya, dirinya merasa bahagia karena sebentar lagi Naura akan memiliki keluarga yang lengkap, dimana di dalamnya, ada Ayah, ibu, Kakek dan juga nenek, sungguh hati Briel merasa sangat bersyukur dengan kehidupannya saat ini. Dia pun berbalik dan meneruskan langkahnya untuk pulang ke rumah.


***


''Suamiku, apakah sudah ada kabar dari polisi, tentang keberadaan keponakan kita yang hilang lima tahun yang lalu?'' tanya seorang wanita berumur sekitar 35 tahunan, berdiri di depan kolam renang menatap jernihnya air yang memenuhi kolam.


''Belum ada, mah. Polisi seperti sudah menyerah, dan keberadaan Lili seperti hilang di telan bumi,'' jawab sang suami berdiri di samping istrinya.


''Kemana sebenarnya pembunuh itu membawa Lili pergi? aku sungguh takut dia menyakiti keponakan kita itu, seperti yang di lakukan kepada kakak kita, hiks hiks hiks...'' tanya sang istri dengan terisak.


Kakak kandungnya di bunuh begitu saja lima tahun yang lalu, dan keponakannya yang berumur satu tahun pun hilang tepat di hari kejadian, dan sampai saat ini mereka pun bisa menemukan keponakannya tersebut.

__ADS_1


''Sabar, mah. Suatu saat nanti kita pasti bisa menemukan Lili.''


''Tapi sampai kapan,mas? Apa jangan-jangan pembunuh itu sudah menyakiti Lili, dan mayatnya di kubur di suatu tempat? hiks hiks hiks...''


''Jangan berfikiran seperti itu, mah. Kita berdoa saja, semoga Lili baik-baik saja,'' sang suami memeluk tubuh istrinya.


Mereka berdua adalah salah satu orang terkaya di negara ini, perusahaannya bergerak di bidang batu bara, dan telah mempunyai cabang dimana-mana, sang suami bernama Tuan Richard dan istrinya bernama Nyonya Maurin.


Kekayaan mereka melimpah, dan tidak memiliki anak, sehingga mereka sangat mengharapkan untuk dapat menemukan anak dari kakaknya mati terbunuh Lima tahun yang lalu.


''Apa kita meminta bantuan kepada Mafia saja? mereka akan melakukan apapun yang kita perintahkan apabila kita membayar mereka dengan uang yang sangat banyak,'' Tuan Richard mengusulkan.


''Lakukan apapun, dan bayar berapapun yang mereka pinta yang penting keponakanku bisa kembali,'' jawab sang istri menyetujui usulan suaminya.


''Baiklah, aku akan menghubungi temanku, kebetulan Dia mempunyai kenalan seorang mafia,'' jawab Tuan Richard melepaskan pelukan sang istri dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


***


''Tugas apa, bos.''


''Ada klien baru, dia meminta kita untuk mencari keponakannya yang hilang lima tahun yang lalu, bayaran nya lumayan besar,'' jelas Bos mafia yang bernama Alberto, menatap satu-persatu anak buahnya.


''Apa bos tidak curiga? jangan-jangan bayi yang sedang di cari ini adalah bayi yang menghilang berbarengan dengan hilangnya Gabriel lima tahun yang lalu?'' tanya salah satu anak buahnya yang berdiri paling depan.


Alberto nampak terdiam, dia seperti sedang memikirkan perkataan yang baru saja diucapkan oleh salah satu anak buahnya tersebut, dan apabila yang dikatakan oleh dia benar berarti ini sama saja memancing dua ikan sekaligus.


Selain mendapatkan uang, dia juga bisa sekalian menangkap anak buahnya yang telah berkhianat, yaitu, Gabriel. Anak buahnya yang satu ini kabur begitu saja setelah menyelesaikan tugas terakhir darinya.


Bagi Alberto, tidak mudah bagi seorang mafia untuk pergi begitu saja meninggalkan dunia mafia, apalagi tanpa mengatakan apapun, menurutnya hal seperti itu sama saja dengan sebuah pengkhianatan.


''Baiklah, apabila yang kamu katakan itu adalah benar, maka, kita kan sekalian menangkap Gabriel dan memberinya hukuman yang layak, karena telah mengkhianati kita, yang selama ini telah mempercayakan setiap misi besar kepadanya, apalagi kalau dia sampai membuka mulut dan berbicara kepada polisi tentang keberadaan kita, itu akan sangat berbahaya untuk kelangsungan organisasi yang sudah kita bangun dengan susah payah ini,'' ujar Alberto menatap ke arah depan melayangkan tatapan tajam.

__ADS_1


''Baik, bos. Kami akan segera bergerak mencari keberadaanya, kami akan mencari ke setiap penjuru negara ini, kalau perlu, kita juga akan mengirim orang keluar negeri,'' jawab anak buahnya yang berdiri paling depan.


''Bagus, kerjakan dengan baik, dan segera temukan dia.''


''Siap, bos.''


_____-----_____


''Bolehkah Naura memanggil Tante dengan sebutan ibu?'' tanya Naura yang duduk di atas pangkuan Jasmine, di dalam rumahnya.


''Iya, boleh sayang,'' Jasmine mengusap rambut panjang Naura penuh kasih sayang.


''Terus, kapan Ibu Jasmine menikah sama papah?'' tanya Naura dengan wajah polos seperti biasanya.


Jasmine terdiam sejenak, dia memandang wajah cantik calon putrinya, sepertinya Naura sudah tidak sabar untuk memiliki keluarga lengkap seperti anak lain. Mata Naura pun memandang wajah calon ibu sambungnya, memandang dengan tatapan penuh harap.


''Sayang, nanti Ibu bicara dulu sama papah kamu ya, kamu tidak usah khawatir, tidak lama lagi Tante akan beneran menjadi ibu kamu ko,'' Jasmine mencoba menenangkan.


Naura pun mengangguk masih dengan raut wajah penuh harap.


''Assalammualaiku...!'' Gabriel datang dan mengucapkan salam, dia berdiri di depan pintu, dan sedari tadi mendengar percakapan putrinya dengan Jasmine.


''Papah...'' Naura pun turun dari pangkuan Jasmine dan berlari menghampiri ayahnya.


''Sayang, maaf ya papah terlambat menjemput kamu, gimana, senang tidak main di rumah kakek?'' Briel meraih tubuh sang putri lalu menggendongnya.


''Senang, Pah. Besok boleh tidak aku main lagi ke sini?'' tanya Naura penuh harap.


''Iya, boleh. Sayang...'' jawab Briel masuk lalu duduk berhadapan dengan Jasmine.


''Eu... Jasmine, bisa kamu sampaikan sama Bapak dan ibu, Minggu depan aku akan melamar'mu secara resmi,'' ucap Gabriel membuat Jasmine terkejut seketika.

__ADS_1


*****


__ADS_2