TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Bersyukur


__ADS_3

''Bagaimana kabarmu, nak?'' Gabriel memeluk tubuh kecil putrinya yang terasa semakin kurus.


''Aku baik-baik saja, Pah. Hiks hiks hiks...'' Naura menangis sesenggukan, meluapkan kesedihan yang selama ini dia pendam.


''Maafkan papa karena baru pulang sekarang, ya.'' Briel pun tidak kuasa menahan keharuan, alhasil dia pun ikut menangis seraya memeluk sang Putri.


''Mas... Mas Gabriel...?''


Terdengar suara Jasmine memanggil namanya dari arah dalam, Briel mengalihkan pandangannya, menatap wajah calon istrinya yang saat ini berdiri menatap wajahnya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca, seolah tidak percaya bahwa dia sudah berada di sana.


Briel berjalan menghampiri, andai saja mereka sudah sah menjadi suami-istri, mungkin saja saat ini dia sudah memeluk erat tubuh ramping Jasmine, seraya mengucapkan kata maaf.


Namun, dia hanya bisa menatap wajah anggun nan teduh itu dengan tatapan penuh dengan rasa penyesalan, sungguh Gabriel sangat bersyukur dan merasa senang akhirnya dia masih di beri kesempatan oleh yang maha kuasa untuk melihat wajah ayu dan cantik calon istrinya tersebut.


Akhirnya dia hanya bisa berdiri di samping Jasmine, menatap wajahnya pancaran penuh kasih sayangnya, hingga akhirnya dia menyalami kedua calon mertuanya, saat ibu dan bapak sampai di sana.


''Bu, pak. Maaf telah membuat kalian berdua cemas, ada sesuatu yang harus di selesaikan, itu sebabnya saya baru bisa datang,'' ucap Briel sesaat setelah menyalami keduanya.


''Terima kasih karena sudah datang tepat waktu, kami hampir saja membatalkan pernikahan, tapi untungnya kau segera datang,'' jawab bapak berbohong.


''Terima kasih karena masih memberikan kepercayaan kepada saya, kedepannya saya berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi, jika nanti saya telah sah menjadi suami Jasmine, saya berjanji tidak akan pernah meninggalkan dia, dan akan menjaganya dengan sepenuh hati saya.'' Gabriel bersungguh-sungguh.


''Bapak pegang janjimu, tapi ingat kalau sampai kamu melakukan hal ini lagi, pergi begitu saja tanpa kabar, bapak tidak akan segan mengambil kembali putri bapak darimu, mengerti...?''


''Baik, pak. Saya mengerti.''


''Nak Gabriel, kamu pasti capek, mari beristirahat di dalam, ibu siapkan makanan, ya?''

__ADS_1


''Tidak usah, Bu. Saya akan beristirahat di rumah saja, sepertinya saya harus menyiapkan mental serta menghapal ijab qobul, karena jujur saja, melihat janur kuning ini membuat perasaan saya terasa sangat gugup, lagi pula saya juga harus segera pergi ke pasar, untuk membeli mas kawin serta seserahan, karena jujur saja, saya belum mempersiapkan apapun,'' jawab Briel merasa malu, karena sama sekali belum menyiapkan apapun sebagai seorang pria yang akan meminang anak gadis orang.


''Kalau untuk seserahan, aku sudah menyiapkannya sendiri, memakai uangmu yang berada ATM yang waktu itu kamu berikan,'' ucap Jasmine.


''Baiklah...! Maaf karena kamu harus menyiapkan'nya sendiri, aku sungguh menyesal.'' Briel menunduk kembali merasa malu.


Jasmine hanya tersenyum.


''Ya sudah, nanti ibu mengutus orang untuk mengantarkan makanan ke rumahmu, ya...''


''Baik, Bu. Sekali lagi terima kasih, mobil saya biar di parkir di depan saja ya, tidak apa-apa?''


Briel meminta ijin untuk menyimpan mobilnya di halaman, di samping janur kuning, untung saja mobil kesayangan'nya itu sempat di ambil oleh Tania, di area parkiran Apartemen milik Alberto, jika tidak, mungkin saja dia telah kehilangan mobil kesayangan yang telah dia miliki dari semenjak dirinya masih remaja tersebut.


''Iya, tidak apa-apa, kamu bisa beristirahat dengan tenang, siapkan mental dan fisikmu untuk menghadapi pernikahan dua hari lagi,'' ucap Bapak.


''Iya, pak. Saya permisi sekarang, Bu, Jasmine,'' Briel menatap wajah ibu dan calon istrinya secara bergantian, sedikit membungkuk lalu berbalik dan berjalan.


***


Ceklek...


Gabriel membuka pintu rumahnya, rumah yang sudah sekitar dua Minggu ini dia tinggalkan, keadaan rumah begitu terlihat rapi meski sempat tidak di huni, sepertinya calon istrinya tersebut selalu rutin membersihkan rumah itu, meski dirinya sedang tidak berada di sana.


Sungguh Briel kembali mengucapkan syukur karena memiliki calon istri yang Sholeha dan pengertian seperti Jasmine, dia pun bersyukur bahwa, Allah masih memberinya kesempatan untuk bernapas setelah hampir saja menghadapi kematian, dan yang paling dia syukuri di antara semua itu adalah, Allah masih memberinya kesempatan untuk bertemu kembali dan memeluk gadis kecil yang saat ini berada di dalam gendongan, putri'nya bercinta, Naura.


Briel pun masuk ke dalam rumahnya, dengan Naura yang masih berada di dalam gendongannya, dia pun membuka gorden lalu duduk di kursi ruang tamu.

__ADS_1


''Naura, sayang. Papa minta maaf ya, karena baru pulang sekarang, papa juga minta maaf karena tidak bisa menemani kamu di Rumah Sakit, papa sungguh menyesal,'' lirih Gabriel menatap wajah sang putri seraya mengusap rambut panjangnya penuh dengan kasih sayang.


''Iya, pah. Tidak apa-apa ko, ada ibu yang selalu menemani aku selama papa tidak ada, ibu juga merawatku dengan baik, dan tidak pernah sedikitpun meninggalkan aku,'' jawab Naura tersenyum, lalu memeluk tubuh ayahnya, menyandarkan kepalanya di dada sang ayah.


''Terima kasih, sayang. Sudah mau mengerti, papa sayang sekali sama kamu. Papa janji tidak akan pernah meninggalkan kamu dan ibu seperti ini lagi.''


''Janji...?''


Naura mengangkat kepalanya, lalu mengulurkan jari kelingking'nya, dan Briel pun segera menautkan jari kelingking miliknya, saling menautkan'nya.


''Iya, papa janji sayang,'' Briel mengecup kening sang putri yang kini kembali menyandarkan kepala di dada bidang miliknya.


***


Hari itu pun akhirnya tiba, hari dimana pernikahan akan segera di langsungkan, Gabriel tampak sudah bersiap, mengenakan baju pengantin berwarna putih lengkap dengan penutup kepala berwana putih pula, dia duduk di kursi ruang tamu rumahnya dengan perasaan gugup, menanti jemputan dari pihak mempelai wanita yang akan membawanya ke kursi pelaminan.


Naura pun sudah terlihat cantik dengan kebaya berwarna senada dengan sang ayah, tampak duduk menemani, menatap wajah sang ayah yang terlihat pucat pasi.


''Papa gugup, ya?'' tanya Naura.


''Heuh, apa, sayang? tidak ko, papa hanya... Eu--'' jawab Briel dengan dengan nada suara yang terdengar terbata-bata, tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


''Wajah papa, pucat. Papa beneran gugup,'' Naura menunjuk jari telunjuknya tepat di depan wajah sang ayah.


''Benarkah? masa sih?'' Briel memegang kedua sisi pipinya dengan telapak tangan'nya.


''Pah, jangan gugup, kan ada Naura di sini, Naura akan selalu menemani papa, agar papa tidak gugup lagi, ya?'' Naura meraih lengan sang ayah, lalu menggenggam erat jemari'nya, memberikan ketenangan, dan benar saja, perasaan Briel berangsur tenang hanya dengan memegang erat jemari putri'nya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, rombongan dari pihak mempelai wanita pun datang, Briel dan Naura pun segera berdiri dan bersiap untuk berangkat ke pelaminan.


*****


__ADS_2