TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Menunggu


__ADS_3

Gabriel mengintip dari lubang pintu, melihat siapa yang berada di luar sana, Tania sedang tidak ada di rumah, membuatnya harus ekstra waspada, siapa tahu Alberto yang merupakan kekasih Tania sekarang berkunjung ke sana.


Dia pun terkejut seketika, saat matanya melihat dengan seksama, wajah Laki-laki yang saat ini berdiri di balik pintu, ternyata ketakutannya terjadi juga, Alberto sedang berdiri di luar sana, berteriak memanggil nama Tania.


Trok


Trok


Trok


''Tania, ini aku sayang...! buka pintu,'' ucap Alberto di luar sana.


Briel memundurkan langkahnya seraya menutup mulut dengan tangan'nya, hatinya di selimuti rasa takut yang mendalam, bukan karena dirinya takut mati, namun dia takut jika akan kembali terluka parah, sementara luka yang lama pun belum pulih benar, sementara jauh di sana, ada dua orang yang sangat di cintai sedang menunggu kepulangan'nya dengan selamat.


Sementara itu, di luar sana, Alberto masih mengetuk pintu dengan memanggil nama kekasihnya, karena sudah beberapa hari ini dia sama sekali tidak bertemu dengan Tania, ataupun mendapatkan kabar darinya, membuat Alberto pun mencari alamat Apartemen dimana tempat tinggal Tania.


''Apakah kamu yakin ini tempat tinggal kekasih'ku?'' tanya Alberto kepada anak buahnya.


''Yakin sekali, bos. Aku susah payah mendapatkan alamat ini.''


''Tapi mana? di dalam seperti'nya tidak ada siapa-siapa,'' Alberto mulai merasa kesal.


''Kenapa bos tidak mencoba menelpon dia saja? siapa tahu dia ada di dalam tapi tidak mendengar suara ketukan kita?''


''Baiklah...''


Alberto merogoh saku celananya, mengambil ponsel lalu mencoba menelpon Tania.

__ADS_1


Tut... Tut... Tut...


Suara telpon yang tidak di angkat.


''Telpon aku gak di angkat,'' Alberto kesal.


Dia pun kembali mengetuk pintu, kali ini dengan lebih bertenaga, membuat Gabriel yang berada di dalamnya merasa sedikit ketakutan, dan tubuhnya pun sedikit bergetar.


'Sialan kenapa dia belum juga pergi dari sana?' (Briel bergumam).


Dia pun kembali maju dua langkah, dengan kaki yang sedikit bergetar, dia memberanikan diri untuk kembali mengintip dari lubang pintu.


Untung saja, Alberto akhirnya menyerah dan pergi dari sana, membuat Briel akhirnya dapat bernapas lega.


''Huuuh...'' Briel pun menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan.


'Akhirnya mereka pergi juga' ( batin Gabriel).


***


"Bu...! Kenapa papa belum juga pulang?'' tanya Naura merindukan ayah'nya, berbaring di atas ranjang.


''Nanti juga pulang, sayang. mungkin urusan papa belum selesai,'' jawab Jasmine menyembunyikan rasa kecewanya, karena sampai saat ini calon suaminya tersebut belum juga pulang ataupun sekedar memberi kabar.


''Apakah begitu? Tapi Naura kangen banget sama papa, Bu,'' ucap Naura dengan sedikit terisak.


''Iya, sayang. Ibu juga kangen sekali sama papa kamu. Sabar sebentar lagi ya, ibu yakin papa akan segera pulang,'' Jasmine berbaring di samping Naura.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, pintu pun di ketuk dan ibu masuk ke dalam kamar.


''Jasmine, bapak memanggil kamu, tuh. Katanya ada hal penting Nyang harus di bicarakan.''


"Baik, Bu...? Naura sayang, ibu keluar dulu sebentar ya, nanti ibu balik lagi, jika sudah ngantuk kamu tidur duluan saja.''


Naura menganggukan kepala.


Jasmine pun bangkit lalu duduk, setelah itu dia turun dari atas pembaringan dan mulai berjalan keluar dari dalam kamar.


''Bapak memanggil saya?'' tanya Jasmine duduk di samping sang ayah si ruang keluarga.


''Iya, nak. ada sesuatu yang ingin bapak tanyakan sama kamu.''


''Apa yang ingin bapak tanyakan.''


''Mengapa Gabriel masih belum juga kembali? tanggal pernikahan tinggal sebentar lagi, lho. Mumpung undangan belum di sebar, sebaiknya kamu fikirkan ulang, tentang rencana'mu itu,'' ucap bapak tanpa basa basi.


''Jasmine yakin mas Gabriel pasti akan kembali, pak. Bapak tidak usah khawatir, dia sudah mewanti-wanti bahwa dia akan segera kembali sebelum tanggal pernikahan kami.''


''Tapi mana, kenyataannya sampai sekarang dia belum kembali, tanggal pernikahan'nya tinggal dua Minggu lagi, lho.''


''Bapak sabar dulu, ya, Jasmine mengerti tentang kekhwatiran bapak, tapi Jasmine tetap akan menggelar pernikahan, karena Jasmine yakin mas Gabriel pasti akan kembali,'' jawab Jasmine menunduk menahan kesedihan.


''Kamu yakin dengan keputusan'mu itu? bapak takut kamu kecewa nantinya, jika terlalu berharap.'' Bapak memandang dengan tatapan penuh rasa iba.


Jasmine mengangguk penuh dengan keyakinan, yakin bahwa calon suaminya itu pasti akan menepati janjinya.

__ADS_1


''Ya sudah, Bapak sebagai orang tua, hanya bisa mendukung apapun keputusan kamu.''


*****


__ADS_2