TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Pulang Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Naura sudah di perbolehkan pulang dari rumah sakit, dan hari ini Jasmine sudah bersiap membawa Naura keluar setelah menyelesaikan proses administrasi terlebih dahulu.


''Kita pulang sekarang ya, sayang.''


''Iya, Bu.'' jawab Naura dengan wajah muram.


''Ibu gendong, ya...''


Naura mengangguk.


Saat Jasmine hendak menggendong Naura, tiba-tiba pintu kamar pun di ketuk dan Tania masuk ke dalam kamar dengan tersenyum.


''Assalamualaikum...''


Naura dan Jasmani menoleh ke arah pintu, seraya menjawab salam.


''Waalaikumsalam...''


''Apa Naura sudah diperbolehkan pulang?'' tanya Tania menatap ke arah Naura yang siap untuk di gendong.


''Iya, Alhamdulillah, keadaan Naura sudah membaik, jadi Dokter memperbolehkan dia pulang sekarang,'' jawab Jasmine.


''Kalau begitu, saya akan mengantar kalian pulang, ya..."


"Tidak usah, kami bisa naik bus ke sana, saya tidak mau merepotkan mbak Tania."


"Tidak, ko. Sungguh... aku ikhlas, kebetulan aku juga akan mengunjungi saudara ke sana, jadi sekalian jalan, lagi pula kasian Naura jika harus berdesak-desakan di dalam mobil bus.''


''Iya juga,'' jawab Jasmine, berfikir sejenak lalu mengangguk tanda setuju.

__ADS_1


''Ya sudah, sini biar saya yang bawa tas pakaiannya,'' Tania tersenyum lalu meraih tas besar berisi pakaian.


''Terima kasih ya, Tania.''


''Sama-sama mbak, kalian berdua adalah keluarga Gabriel, jadi akan sangat senang jika saya bisa membantu kalian.''


''Mari, kita berangkat sekarang,'' pinta Jasmine setelah Naura berada di dalam gendongannya.


Mereka pun berjalan keluar dari dalam kamar, berjalan beriringan dengan Naura di dalam gendongan Jasmine.


Di perjalanan menuju parkiran, tidak sengaja mereka berpapasan dengan Nyonya Maurin, yang sama-sama akan pulang hari itu juga, Maurin menatap wajah gadis kecil yang saat ini sedang di dalam gendongan ibunya.


''Tunggu, mbak...!'' Maurin menghentikan langkah Jasmine, dan Jasmine pun sontak menghentikan langkah kakinya seketika lalu berbalik menoleh ke arah sumber suara.


''Nyonya memanggil saya?'' tanya Jasmine menatap wajah Maurin.


''Iya, mbak. Bisakah saya bertemu sebentar dengan putri mbak, kami pernah bertemu sewaktu hendak di operasi, kebetulan saya juga menjalani operasi usus buntu berbarengan dengan putrinya mbak.''


Ucap Maurin menatap wajah Naura yang berada di dalam gendongan Jasmine dengan kepalan yang di sandarkan di bahunya.


''Tante...?'' sapa Naura lembut.


''Sayang, siapa nama kamu?''


''Nama saya Naura, bagaimana keadaan Tante?''


''Alhamdulillah Tante sudah baik-baik saja, kamu bagaimana? apakah perutmu masih terasa sakit?''


''Tidak, Tante. Naura juga sudah baik-baik saja,'' jawab Naura masih dengan suara lembut'nya dan tatapan sayu.


''Syukurlah, Tante beharap kamu sehat selalu ya, sayang.''

__ADS_1


''Iya, Terima kasih atas perhatian Tante.''


''Mohon maaf, Tante. Tapi saya harus segera pergi,'' Jasmine menyela.


''Ya sudah, hati-hati di jalan ya, sayang,'' Maurin menatap lekat wajah Naura, yang terlihat sangat mirip dengan Almarhumah Kakaknya.


Dia pun menatap kepergian gadis kecil itu, menatap kepergiannya dengan perasaan penuh tanda tanya, apabila Lily masih masih ada, mungkin sekarang dia seusia Naura, apa mungkin Naura itu sebenarnya adalah Lily? Akh... rasanya tidak mungkin, jelas-jelas ibunya ada bersamanya? batin Maurin bergejolak.


Lamunannya buyar seketika saat sang suami, Richard, menepuk pundaknya.


''Sayang... Kamu sedang melihat siapa?'' tanya Richard berdiri di hadapan sang istri.


''Aku bertemu kembali dengan anak yang mirip dengan Lily, Pah.''


''Mana? tidak ada siapa-siapa di sana?''


''Mereka baru saja pergi.''


Richard pun berlari mengejar, berharap bahwa yang di lihat oleh istrinya benar-benar Lily, anak yang selama ini dia cari.


*****


*Jangan lupa


Like


komen


vote


hadiah

__ADS_1


Agar Author semangat dalam berkarya.


terima kasih ❤️❤️*


__ADS_2