TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Bertemu Kembali Dengan Tania


__ADS_3

''Maaf, mungkin anda salah orang, tidak mungkin seorang pengusaha seperti kamu mengenal saya, yang hanya orang biasa, pengangguran pula,'' Briel mengusap lengannya yang di tepis begitu saja oleh Ilham.


''Benarkah...? tapi rasa-rasanya wajahmu ini aku pernah melihatnya, tapi entah dimana ya, saya juga lupa,'' Ilham menatap lekat wajah Gabriel sambil terus mengingat, namun usahanya sia-sia, karena dia sama sekali tidak dapat mengingatnya.


''Sudah jangan terlalu di fikirkan,di sini saya hanya ingin memperkenalkan diri, bahwa saya adalah calon suami wanita yang bernama Jasmine,'' Briel berucap dengan penuh percaya diri menatap wajah Ilham lalu bergantian ke arah Jasmine dan tersenyum padanya.


''Iya, saya sudah dapat menebaknya, saya hanya merasa heran saja, apa yang membuat Jasmine tertarik padamu, duda, beranak satu pula, pekerjaan tidak jelas, rumah pun masih ngontrak,'' Ilham menatap tubuh Briel, di lihatnya dari ujung kaki sampai ujung rambut, dengan tatapan yang penuh cibiran.


''Cukup, Ilham. Saya minta kamu segera pulang, saya tidak suka kamu menghina calon suami saya seperti itu,'' Jasmine merasa tersinggung mendengar ucapan Ilham, yang dengan sombongnya mencibir calon suaminya di depan dirinya.


''Baiklah, aku akan pulang sekarang, kamu sudah dua kali mengusirku hari ini,'' Ilham hendak berbalik.


''Ilham...! Ingat, kebahagiaan tidak hanya berasal dari harta yang kau punya dan gelar yang melekat di depan nama, harta tidak akan pernah di bawa mati, dan gelar tidak akan dapat menolong kita di akhirat, hanya amal Sholeh yang akan benar-benar mengikuti kita sampai ke liang lahat, jadi jangan pernah sombong dengan apa yang kamu miliki sekarang, ingat Allah membenci kesombongan,'' Jasmin berbicara dengan penuh penekanan sebagai balasan atas hinaan yang tadi di lontarkan oleh Ilham.


Ilham pun diam mematung, ucapan gadis berhijab itu seolah menohok hatinya, wajahnya pun sedikit memerah dengan tangan yang di kepalkan, dan tanpa sepatah katapun lagi, dirinya pun berbalik dan berjalan meninggalkan halaman.


Gabriel sungguh terkesima mendengar ucapan calon istrinya, lagi-lagi hatinya diliputi rasa kagum yang tak terhingga pada sosok wanita yang akan segera menjadi istrinya.


Dia pun berjalan mendekat, dan menatap Naura yang berada di dalam gendongan Jasmine dalam terpejam.


''Apa Naura tertidur lagi?'' tanya Gabriel masih dengan menatap wajah putrinya.


''Tadi dia sempat terbangun, tapi tidur lagi saat aku gendong seperti ini,'' jawab Jasmine, kembali duduk di kursi.


''Sini, biar Naura aku gendong, sekalian mau aku bawa pulang, tidak enak terus ngerepotin kamu,'' Briel meraih tubuh kecil Naura dan mendekapnya dalam pelukan dirinya.


''Tidak sama sekali, aku tidak merasa direpotkan, justru aku merasa senang karena tidurku ada yang menemani,'' jawab Jasmine.


''Tenang saja, sebentar lagi kita bertiga bisa tidur bersama,'' celetuk Briel dengan tersipu malu.


Jasmine tertawa mendengar candaan yang di layangkan oleh calon suaminya tersebut, rasanya dia sudah tidak sabar untuk dapat segera tiba di hari dimana pria pujaan hatinya ini mengesahkan dirinya menjadi seorang istri.

__ADS_1


''Aku pamit dulu, ya,'' Gabriel hendak melangkah.


''Tunggu...''


Briel menghentikan langkahnya.


''Ada apa?'' tanya Briel menatap wajah anggun calon istrinya.


''Mengapa kamu tidak bertanya apapun tentang pria yang tadi ada di sini?'' tanya Jasmine melayangkan tatapan heran.


''Aku tidak perlu bertanya apapun padamu, karena aku percaya sama kamu, kamu bukanlah wanita yang pantas di curigai apalagi berani bermain Laki laki, jadi kamu tidak usah khawatir, kamu tidak perlu menjelaskan apapun, karena jika kamu jelaskan pun itu tidak akan pernah merubah perasaan dalam hatiku, karena aku benar-benar yakin bahwa kamu adalah wanita spesial yang dikirimkan oleh Allah kepada'ku, wahai calon istriku...'' jawab Briel tersenyum manis.


Bahkan senyumnya terlihat sangat manis, membuat jantung Jasmine kembali berdebar, kali ini bahkan lebih kencang, dia sampai meraba dada kirinya dimana tempat jantungnya berada.


''Aku pamit, sayang. Assalamualaikum...'' ucap Briel.


''Waalaikum salam...'' Jasmine menjawab salam.


Lalu dirinya benar-benar pergi meninggalkan halaman dimana Jasmine berada, yang sedang menatap punggung calon suaminya, dengan perasaan penuh cinta, bibirnya terlihat tersenyum bahagia tatkala mendengar ucapan 'sayang' yang baru saja di lontarkan oleh suaminya.


Dia pun bergumam pelan menepuk pipinya dengan telapak tangan kanan, lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


***


Satu bulan kemudian.


Akhirnya usaha yang di rencanakan oleh Gabriel pun mulai berjalan, halaman luas di depan rumahnya telah di sulap menjadi sebuah bengkel, berukuran sedang.


Meski awalnya bengkel yang di kelolanya belum mempunyai pelanggan, dan belum dapat menghasilan, namun lambat laun pelanggan pun datang sendiri'nya, dan dia pun akhirnya mendapatkan pemasukan.


Siang ini, Briel baru saja selesai memperbaiki motor yang tiba-tiba saja mogok tepat di depan bengkel miliknya, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk nya benar-benar bisa membuat motor tersebut kembali normal.

__ADS_1


Baru saja Briel hendak duduk dengan berselonjor kaki di depan bengkelnya, tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang seperti di rem mendadak, hingga terdengar pula suara berdecit lalu kemudian...


Duar...


Terdengar suara ban mobil yang meledak.


Briel segera bangkit dan berdiri menatap ke arah jalan dimana mobil itu berada, dan benar saja, tidak jauh dari tempat nya berdiri, sebuah mobil berwarna hitam tampak sudah terparkir begitu saja di pinggir jalan, dan tidak lama kemudian seorang wanita pun keluar dari dalam mobil tersebut.


Berniat akan menolong, Briel pun berjalan menghampiri wanita yang kini terlihat sedang berjongkok menatap ban mobilnya yang telah berlubang.


''Ada apa mbak? apa ada yang bisa saya bantu?'' Briel menundukkan kepalanya menatap wanita berambut panjang dan berpakaian kasual itu dari arah belakang, dan saat wanita itu menoleh...


''Gabriel...?'' wanita tersebut tampak mengenali Gabriel, dan tersenyum menyebut namanya.


''Ta-tania...?'' jawab Briel pelan.


Tanpa di sangka Tania mantan kekasihnya tersebut langsung merentangkan lengannya dan memeluk tubuh tinggi nan tegap Briel, membuat pria tampan dengan alis yang sedikit tebal itu merasa tidak nyaman di buatnya.


Briel pun melepaskan pelukan Tania dengan sedikit kasar.


''Jangan seperti ini, tidak enak jika nanti ada yang melihat kita,'' pinta Briel melepaskan lengan Tania yang melingkar di lehernya.


''Kenapa? bukankah waktu itu kamu menolak untuk mengakhiri hubungan kita? seharusnya kamu senang dong sekarang kita bisa bertemu kembali?'' ucap Tania penuh percaya diri.


''Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi. Aku bukan Gabriel yang sama seperti yang dahulu,'' jawab Briel datar.


Tanpa di sangka, Naura pun menghampiri Gabriel dan memanggil namanya.


''Papa...? papa sedang apa di situ?'' tanya Naura berjalan menghampiri.


Tania pun dibuat terkejut seketika dia menatap tubuh Naura dan bertanya.

__ADS_1


''Apakah dia bayi yang waktu itu?''


*****


__ADS_2