TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Menerima Lamaran


__ADS_3

Jasmine berdiri dan berjalan menghampiri Gabriel, dia berdiri berhadapan dengan Briel dengan Naura berada tepat di tengahnya.


''Jasmine Salsabila, apakah kau menerima lamaran'ku? dan bersedia menjadi calon istriku? menemani hari-hari ku dan menjadi ibu untuk anakku?'' Gabriel mengulangi ucapannya, menatap wajah Jasmine dengan tatapan penuh cinta, dan mata yang sedikit berkaca-kaca.


''Iya, Gabriel. Aku bersedia, aku bersedia menjadi calon istrimu, menjalani setiap hariku bersamamu, dan menjadi ibu yang baik untuk Naura, anak'mu,'' jawab Naura dengan lelehan air mata yang tiba-tiba saja mengalir dengan derasnya.


Gabriel mengucap syukur seketika, dengan air mata yang memenuhi pelupuknya, lalu tanpa di sangka air mata itupun jatuh, menemani kebahagiaan sekaligus rasa haru yang saat ini dia rasakan.


Setelah mengucapkan hal tersebut cincin pun di sematkan di jari manis Jasmine, dengan penuh suka cita, semua yang hadir di sana pun bertepuk tangan merasakan bahagia.


Naura pun tanpa di sangka menangis secara diam-diam, dia yang sedari tadi hanya berdiri di tengah-tengah calon ibu serta ayahnya ternyata terisak tanpa di sadari oleh kedua orang yang berada di sebelahnya.


Sungguh gadis kecil ini merasakan kebahagiaan yang tiada Tara, impiannya untuk memiliki keluarga lengkap pun sebentar lagi akan segera tercapai.


Jasmine berjongkok dan menatap wajah Naura, dia mengusap air mata lalu memeluk tubuh kecil calon putrinya, sungguh keduanya merasa sangat bahagia sehingga kebahagiaan itu di luapkan dengan lelehan air mata yang saling membasahi pipi keduanya, membuat semua yang hadir di sana merasa terharu seketika.


Kesepakatan pun di buat, bahwa mereka berdua akan segera melangsungkan akad nikah dalam waktu tiga bulan dari sekarang.


***


Keesokan harinya.


Seperti biasa, pagi-pagi Naura sudah bersiap untuk berangkat sekolah, pukul setengah tujuh pagi dia sudah siap dengan seragam sekolah'nya, Naura duduk di ruang tamu menunggu sang ayah yang sedang membersihkan diri di kamar mandi.


Naura nampak sedang memeriksa buku sekolahnya, dia membolak-balikkan lembar demi lembar halaman buku tebal yang berada di atas pangkuannya.


''Assalammualaikum...'' Jasmine masuk ke dalam rumah, tersenyum melihat Naura.


''Ibu...?'' Naura bangkit lalu menghampiri sang ibu.


''Kamu belum berangkat?'' tanya Jasmin memangku tubuh mungil Naura lalu menyimpan bungkusan di atas meja.

__ADS_1


''Sebentar lagi, Bu. Papa lagi mandi dulu,'' jawab Naura.


''Kamu sudah sarapan?''


Naura menggelengkan kepala.


''Kebetulan Ibu bawa nasi goreng, kamu sarapan dulu ya, sebentar ibu ambilkan dulu piringnya,'' Jasmine menurunkan Naura lalu berjalan menuju dapur.


Tidak lama kemudian Jasmine pun kembali dengan membawa 3 piring lengkap dengan sendok serta air minum, kemudian dia duduk bersama Naura di kursi di ruang tamu.


''Nah, sekarang sarapan dulu ya, Ibu spesial buatkan nasi goreng ini untuk kamu dan papa kamu,'' dengan tangan lembutnya, Jasmine menuangkan nasi goreng ke dalam piring dari wadah besar yang di bawanya.


''Terima kasih, Bu.''


''Sama-sama, sayang.''


Tanpa di sangka Gabriel yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk kecil yang menutup bagian bawah tubuhnya, berjalan dari arah depan menuju kamar'nya yang terletak di depan ruang tamu.


Sungguh Jasmine pun merasa sangat malu di buatnya, harus melihat aurat Laki-laki yang belum menjadi muhrimnya, wajahnya memerah seketika, dengan jantung yang juga berdebar, meski hanya melihat sekilas karena dirinya langsung menutup wajah dengan kerudungnya, namun dia merasa sedikit gemetar karena baru pertama kali menyaksikan hal seperti itu.


''Papa...?'' Naura memanggil sang ayah.


Jasmine segera membuka penutup wajah, saat mengetahui bahwa Briel sudah masuk ke dalam kamarnya, dia sedikit merapikan hijab yang di kenalannya, dengan wajah yang masih terlihat memerah.


Gabriel yang sudah berada di dalam kamar pun segera mengambil pakaian dari dalam lemari, mengenakannya secara tergesa-gesa, dengan dada yang masih terlihat naik turun merasa gemetar.


Setelah pakaiannya selesai dikenakan, dia pun duduk sebentar di atas tempat tidur, menenangkan perasaannya yang sempat gemetar, dan menata napasnya yang sempat berhembus tidak beraturan, setelah semuanya tenang, barulah dia keluar dari dalam kamar.


Briel membuka pintu kamar secara perlahan, dia menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, setelah itu barulah dia melangkah keluar dari dalam kamar.


''Eh, ada Tante Jasmine,'' sapa Briel dengan wajah yang sedikit cengengesan, mencoba bersikap setenang mungkin seolah tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


''Papa, mandinya lama banget sih? Ibu dari tadi ada di sini, bawa sarapan untuk kita,'' ujar Naura menatap wajah sang ayah, dengan mulut yang terisi dengan makanan.


''O ya...? sepertinya enak...?'' Briel berjalan menghampiri lalu duduk di kursi, masih bersikap setenang mungkin, meski sebenarnya jantung'nya masih berdebar.


''Eu... tadi aku memasak nasi goreng, kebetulan masaknya lumayan banyak, jadi aku bawa saja ke sini, untuk kamu dan juga Naura,'' ucap Jasmine tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.


''Terima kasih, ya. Kebetulan pagi ini aku memang tidak sempat memasak sarapan, karena bangun kesiangan,'' Briel berucap.


''Sama-sama, sebentar nya aku siapkan dulu punya kamu,'' Jasmine mengisi piring untuk Briel dengan nasi goreng, lengkap dengan kerupuknya juga.


Gabriel menatap wajah calon istrinya, wajah anggun berbalut kerudung berwarna coklat muda. Sungguh dirinya tidak menyangka bahwa Laki-laki seperti dia akan memiliki calon istri yang Sholeha, berhijab pula, hatinya di hujan'ni dengan rasa syukur yang tiada Tara.


Jasmine meletakan piring itu tepat di depan dirinya di atas meja, dan Gabriel pun segera meraih piring tersebut, lalu memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.


''Gimana rasanya, pah? enak kan?'' tanya Naura.


''Hmmm... enak sekali, Tante Jasmine pintar masak juga ternyata,'' jawab Briel mengunyah makanan lalu menelannya.


Jasmine tersenyum, menatap wajah calon suaminya yang dengan lahap memakan masakan dirinya, membuat perasaan gadis berjilbab itu merasa senang, apalagi saat wajah tampan dengan alis yang sedikit tebal itu melirik ke arah dirinya, membuat jantungnya semakin berdebar.


''Naura, apa ibu boleh ikut mengantarmu ke sekolah?'' tanya Jasmine, menatap wajah cantik calon putri sambung'nya.


''Tentu saja boleh, Bu. Teman aku juga setiap hari di antar sama ibu'nya, rasanya hanya aku seorang yang tidak pernah di antar ke sekolah oleh seorang ibu,'' Naura menunduk merasa sedih.


''Benarkah...? kalau begitu, mulai hari ini, ibu akan selalu mengantar kamu sekolah, jangan sedih lagi ya,'' Jasmine mengusap punggung Naura dengan lembut.


''Ibu serius...?'' tanya Naura tersenyum senang.


Jasmine pun mengangguk dengan tersenyum.


*****

__ADS_1


__ADS_2