TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Bukan Tandingan


__ADS_3

Sudah hampir dini hari, Briel belum juga kembali, Jasmine masih menunggu dengan perasaan tidak tenang, dia bahkan belum memejamkan mata sedikitpun, berdiri di depan pintu kamar dengan kedua tangan yang di lingkarkan di bahunya.


'Kamu dimana mas? kenapa kamu masih belum kembali juga?' (Jasmine berucap dalam hatinya)


''Papa... Ibu... Kalian dimana?'' terdengar suara Naura dari dalam kamar.


Jasmine pun segera masuk ke dalam, dia berdiri tepat di samping ranjang Naura, menatap wajah Naura lalu mengusap kepalanya lembut dan penuh kasih sayang.


''Ada apa, sayang? kok sudah bangun? masih malam, lho?'' tanya Jasmine.


''Papa, mana bu?''


''Papa...? Eu... Anu, tadi papa pamit ke ibu, katanya ada urusan, sebentar lagi juga pulang.''


''Memangnya papa kemana? kenapa malam-malam begini keluar?'''


''Ibu juga kurang tahu, sayang. Tapi tadi sebelum pergi, katanya papa tidak akan lama. Kamu tidur saja lagi, ya. Mari ibu temani di sini,'' Jasmani naik ke atas ranjang, lalu dia berbaring tepat di samping tubuh Naura.


Jasmine pun melantunkan sholawat nabi seraya mengusap kepala Naura, hingga Naura pun akhirnya kembali terpejam, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk'nya benar-benar tertidur lelap. Kemudian, Jasmine pun tertidur di samping tubuh Naura.


***


Briel akhirnya sampai di Apartemen tempat tinggal Alberto, Dia turun bersama orang yang diutus oleh Alberto, berjalan beriringan masih dengan menempelkan pistol di punggung orang tersebut, agar dia tidak berani melarikan diri ataupun berbuat yang macam-macam kepada dirinya.


Mereka pun tiba di sebuah lift, lalu beberapa detik kemudian lift pun terbuka setelah orang tersebut memencet tombol naik ke lantai atas.


Tempat tinggal Alberto berada di lantai 15, hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk mereka berdua sampai di sana, lift pun segera terbuka lalu keduanya keluar dari dalam lift, masih dengan posisi yang sama sewaktu mereka berjalan di bawah tadi.


Briel menekan bel Apartemen, selama berkali-kali, namun mungkin karena sekarang masih dini hari, butuh waktu hampir setengah jam, untuk pemilik apartemen tersebut benar-benar membukakan pintu.


Ceklek


Pintu apartemen pun terbuka, seorang pelayan Laki-laki nampak membukakan pintu dengan wajah yang terlihat masih mengantuk dan sedikit memejamkan mata.


''Ada apa malam-malam begini kemari? Kenapa tidak menunggu besok pagi saja? ganggu orang yang lagi tidur, Hua...'' pelayan tersebut menguap, lalu kembali berjalan ke dalam kamar, tanpa melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Memang Apartemen tempatnya bekerja itu, selalu di kunjungi oleh siapapun, yang yang merupakan anak buah dari majikan tersebut, jadi dia sudah tidak heran lagi, jika malam-malam begini masih ada orang yang berkunjung ke sana, karena apartemen itu juga dijadikan markas besar Mafia, oleh Alberto.


Gabriel dan pria yang di bawanya berjalan secara perlahan dan dengan tatapan penuh waspada melihat ke sekeliling ruangan.


Sampai tidak lama kemudian, Alberto pun keluar dari dalam kamar, lalu bertepuk tangan, merasa takjub dengan keberanian anak buahnya yang bernama Gabriel. Dari mana Alberto tahu bahwa yang datang adalah Gabriel? orang yang selama ini sedang dia cari.


Gabriel pun di buat bingung, apa mungkin dia bukan hanya mengutus satu orang saja untuk mengikuti'nya? dari mana dia tahu bahwa Gabriel sedang berada di kota ini? apa mungkin dari Tania?


Tidak, bukan Tania yang memberitahukan keberadaan Briel, namun karena rumah lama yang di kunjungi Briel selalu di jaga dan pantau dari kejauhan selama 24 jam oleh anak buah Alberto, itu sebabnya saat melihat Gabriel pulang, orang yang sedang memantau rumah tersebut langsung melaporkannya kepada Alberto.


Prok


Prok


Prok


''Selamat datang Gabriel, anak buah terhebat aku, selamat pulang kembali ke rumah, aku sudah lama sekali menunggu kepulangan'mu,'' ujar Alberto berjalan menghampiri Gabriel.


''Siapa bilang aku pulang? justru aku datang kemari untuk berpamitan, sepertinya tidak baik untuk keselamatan'ku jika aku pergi diam-diam, terimalah rasa hormatku untuk terakhir kalinya, aku ingin meninggalkan dunia mafia dan memulai hidup baru'ku sebagai orang biasa,'' jawab Briel.


Dan apabila dia selamat dan bisa kembali berkumpul bersama putrinya, dia akan menganggap itu sebagai anugerah yang tidak terkira. Intinya, dia pasrah dengan apa yang akan terjadi dalam hidupnya, menyerahkan semua takdirnya kepada Allah Subhana wataalla.


''Apa? berpamitan...? Ha... ha... ha...! kamu pikir semudah itu untuk keluar dari dunia hitam? kamu pikir aku akan membiarkan kamu hidup? setelah sekian lama menjadi anak buah'ku dan mengetahui semua kejahatan'ku? Hah...?''


Gabriel merogoh saku celananya, dan meraih flash disk yang tadi dia bawa, lalu menunjukannya kepada Alberto, lalu mengangkatnya dan ke udara.


''Aku akan memberikan ini, jika kamu bersedia melepaskan aku, dan membiarkan aku hidup tenang, namun jika kau menolak, maka aku akan membawa ini ke kantor polisi sekarang juga,'' ucap Briel mengancam.


Mata Alberto berbinar seketika saat menatap benda yang saat ini berada di dalam genggaman Gabriel. Sudah lama sekali dia mencari benda itu.


''Cepat berikan benda itu padaku, lagipula kau tidak akan pernah bisa melaporkan aku ke polisi, karena jika aku masuk ke penjara, maka kau juga akan ikut dengan'ku, apa kau lupa, kau siapa? pembunuh, ingat... Gabriel, sudah berapa orang yang kau bunuh atas perintah dari'ku?''


''Aku tidak perduli, mari kita pergi ke penjara bersama,'' Ancam Briel, berbalik dan hendak berjalan.


Buk

__ADS_1


Namun dari arah belakang, Alberto menendang tubuh Gabriel hingga dia pun jatuh tersungkur ke atas lantai, Briel hendak meraih pistol dari dalam pinggang'nya, namun gerakan'nya kalah cepat dengan tendangan yang kembali di layangkan oleh Alberto, dan tepat mengenai wajah, hingga darah segar pun keluar dari hidung dan bahkan mulutnya pun memuntahkan darah.


''Cuih...'' Briel memuntahkan darah.


Gabriel tidak menyerah, dia berdiri meski dengan wajah yang sudah bersimbah darah, dia mengepalkan tangan dan hendak melayangkan pukulan, namun karena Alberto sama sekali bukanlah tandingannya, dia pun dapat menepis pukulan Gabriel dan menghantam perut Briel dengan beberapa kali pukulan.


Buk


Buk


Buk


''Argh...'' Briel meringis, dan kembali tersungkur ke atas lantai.


''Ha... ha... ha...! Gabriel... Gabriel... apa kamu lupa aku ini siapa? kamu sudah lebih dari lima tahun bekerja dengan'ku, dan kamu tahu betul siapa aku.''


Briel bangkit lalu duduk bersimpuh, dengan deraian air mata karena tiba-tiba saja teringat Naura yang saat ini sedang terbaring lemah menunggu kedatangannya, dan dengan wajah yang penuh dengan darah.


''Aku mohon, lepaskan aku, bos. Aku tahu kau orang yang kejam dan tidak mudah memaafkan, namun untuk sekali ini saja, tolong biarkan aku pergi, aku hanya ingin hidup tenang dan menjalani hari-hari sebagai orang normal, aku hanya ingin hidup bahagia bersama putriku, hiks... hiks... hiks...!"


"Apa? putri? sejak kapan kau punya seorang putri?'' tanya Alberto membulatkan bola matanya.


*****


*Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Hadiah


Agar Author semangat dalam berkarya ❤️❤️❤️*

__ADS_1


__ADS_2