TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Menjelaskan


__ADS_3

Bapak dan Ibu saling melayangkan tatapan heran, tidak mengerti dengan ucapan dari Briel yang seperti tergesa-gesa, karena sebelumnya, pria ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda apapun, bahkan terlihat pendiam.


Gabriel memang di kenal pendiam dan jarang bergaul, bahkan berkunjung ke rumah itu pun baru sekali ini saja, dan itu langsung mendadak ingin belajar agama sekaligus meminang putri mereka, tentu saja kedua orang tua Jasmine terkejut bukan kepalang.


''Maksud nak Gabriel bagaimana ya? saya sungguh tidak mengerti, tiba-tiba datang kemari dan mengatakan ingin melamar menjadi calon suami putri saya,?'' tanya Bapak dengan tatapan tajam, membuat Briel seketika terdiam dan menunduk merasa gugup dan gusar.


''Eu... sekali lagi mohon maaf, pak, Bu. Jika kedatangan dan niat saya membuat bapak dan ibu terkejut, tapi apakah Jasmine belum mengatakan apa-apa kepada kalian berdua?'' tanya Briel, merasa heran, apakah gadis itu benar-benar belum mengatakan apapun kepada kedua orangtuanya.


Belum sempat bapak dan ibu menjawab, suara motor pun terdengar, Jasmine baru saja pulang dari toko, dirinya merasa kaget seketika melihat Gabriel sedang berada di rumahnya dan duduk saling berhadapan dengan kedua orang tuanya.


''Assalammualaikum...'' Jasmine mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah, dirinya menyalami kedua orang tuanya.


''Kamu sudah pulang, nak?'' tanya ibu.


''Iya, Bu. Toko saya tutup sebentar, mau mandi serta sholat ashar dulu, baru nanti kembali lagi ke sana,'' jawab Jasmine duduk di samping ibu, dengan sedikit melirik ke arah Briel yang kini sedang menunduk.


''Jasmin...? apakah selama ini kalian berdua memiliki hubungan dan bapak sama ibu tidak mengetahuinya sama sekali?" tanya bapak memandang ke arah putrinya dengan mengerutkan keningnya.


"Bukan seperti itu, pak. Kami tidak memiliki hubungan, pacaran, atau lain sebagainya, namun saya dengan Briel telah sepakat akan menikah, namun Briel ingin memperdalam ilmu agama terlebih dahulu, dan ingin belajar dari bapak," jawab Jasmine.


"Benarkah seperti itu, nak Gabriel?" menatap wajah Briel.


"Betul, pak."


"Tapi apakah kamu bersungguh-sungguh ingin memperdalam ilmu agama?" tanya bapak lagi.


"Iya, pak."

__ADS_1


"Apakah kamu juga serius ingin meminang putri bapak?''


''Saya serius pak, dengan sepenuh hati saya,'' jawab Briel dengan bersungguh-sungguh.


''Memangnya kerjaan mu apa? dimana orang tuamu? terus dari mana asalmu?'' tanya Bapak membuat Gabriel terdiam mematung lalu menunduk.


''Bapak, jangan terlalu keras sama dia, pelan-pelan saja, dia datang ke sini kan untuk minta di ajarkan dalam belajar memperdalam agama,'' ucap Jasmine menatap sang ayah dengan pandangan lembut.


''Jika dia ingin menjadi pendamping hidup kamu, maka kita harus tahu asal usulnya, apa pekerjaannya, dan di mana orang tua, dan lain sebagainya,'' jawab bapak dengan memandang wajah sang putri memberi penjelasan.


Jasmine pun terdiam dan menunduk, yang di katakan oleh ayahnya memanglah benar, tapi dia tidak ingin sang ayah berlalu memojokkan Gabriel, semua itu bisa di ketahui secara pelan-pelan.


''Saya akan menceritakan tentang diri saya. Saya berasal dari ibu kota, kedua orang tua saya sudah meninggal dari semenjak saya masih kecil, dan sebenarnya saya mempunyai pekerjaan yang kurang baik di masa lalu, tapi sudah sudah bertekad untuk berubah dan meninggalkan pekerjaan saya, bukankah Almarhum ustadz Jefri Al Buchori juga mulanya seorang preman namun dia berubah dan bersungguh sungguh dalam belajar agama? sehingga dia bisa menjadi seorang ustadz dan meninggal dalam keadaan Khusnul khatimah?''


''Saya juga seperti itu, pak, Bu, dan Jasmine. Saya bersungguh-sungguh dalam bertaubat, dan ingin menjadi manusia yang lebih baik baik lagi, terutama imam yang baik untuk putri bapak, Jasmine,'' Gabriel menjelaskan semuanya, meski belum secara mendetail.


''Sebenarnya, dia bukan putri kandung saya,'' Briel menunduk.


Jasmine terperangah, dia sungguh tidak menyangka jika Jasmine bukanlah putri kandung Briel, dari yang dia lihat selama ini, kasih sayang yang di berikan oleh Gabriel sangat tulus layaknya ayah kandung.


''Apa maksudmu?'' Jasmine akhirnya bertanya.


''Dia adalah putri dari paman dan bibiku yang sudah meninggal waktu Naura masih berumur satu tahun, dan aku merawatnya karena dia tidak mempunyai siapapun lagi, selain saya,'' jawab Briel menunduk merasa sedih.


Ketiga orang yang berada di sana terkesima, merasa terharu karena seorang pemuda seperti Gabriel bersedia merawat dan membesarkan seorang putri dengan penuh kasih sayang.


''Baiklah, bapak percaya dengan kamu, bapak akan membantu mu belajar agama, tapi kalau untuk menikahkan mu dengan Jasmine, bapak butuh waktu dulu untuk berfikir, bapak akan menyuruh dia untuk Sholah istiharah terlebih dahulu, sekarang kamu fokus saja terlebih dahulu dalam belajar agama,'' ujar bapak memandang Jasmine dan Gabriel secara bergantian.

__ADS_1


''Baik, pak. Saya akan menunggu dengan sabar, lagi pula saya juga butuh waktu untuk membenahi terlebih dahulu tingkah laku saya, dan pengetahuan saya tentang agama dan berumah tangga, agar saya tidak mengecewakan bapak, ibu dan juga Jasmine nantinya,'' jawab Briel memandang ketiganya secara bergantian.


Jasmine tersenyum senang, semoga saja pria yang saat ini berada di hadapannya, benar-benar jodoh yang baik yang di kirimkan oleh Allah untuk dirinya, karena sejujurnya dia sudah sangat mencintai pria ini dengan sepenuh hati.


***


Keesokan Harinya.


Seperti biasa Gabriel pagi-pagi Briel mengantarkan putri kesayangannya sekolah, setelah itu dia langsung pergi ke rumah Jasmine untuk belajar agama. Bapak pun menyambut kedatangan Briel dengan tersenyum ramah.


Pelajaran pertama yang di ajarkan Bapak adalah tentang tata cara sholat beserta bacaannya, Briel merasa canggung bahkan pengetahuannya tentang kewajiban yang satu ini bisa di bilang nol.


Dia bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali melakukannya. Dengan penuh kesabaran, bapak mengajarkan Sholat Pria berumur 26 tahun itu, bagi bapak tidak ada kata terlambat untuk seseorang yang ingin memperbaiki hidup dan bersungguh-sungguh dalam bertaubat.


Pelajaran pertama pun selesai, karena Gabriel harus menjemput sang putri pulang sekolah, Gabriel pun berpamitan.


''Saya pamit dulu, pak. Nanti saya kembali lagi kesini,'' pamit Briel berdiri lalu menyalami bapak.


''Nanti sholat Dzuhur di mushola ya, bapak tunggu di sana,'' ajak bapak.


''Tapi gerakan dan bacaan sholat saya masih belum sempurna, pak. Saya merasa malu,'' jawab Briel menunduk.


''Tidak apa-apa, nanti lambat laun kamu akan hapal dan terbiasa melakukannya, kewajiban itu harus di biasakan dan di paksakan, agar kita terbiasa dan akan merasa takut apabila meninggalkannya.''


''Baik, pak. Saya akan melakukannya, mulai saat ini saya akan membiasakan melaksanakan sholat lima waktu di mushola, kalau begitu saya pamit dulu, pak. Assalamualaikum...''


''Waalaikumsalam warahmatullahi wabarokhatu...''

__ADS_1


*****


__ADS_2