
''Apa maksudmu? coba ulangi, tadi kamu mengatakan apa? siapa?'' Ilham kembali bertanya.
''Jasmine...! apakah Abang kenal sama dia?''
Ilham benar-benar membulatkan bola matanya secara sempurna, menatap langit-langit kamar, rasa kantuk yang tadi dia rasakan pun seolah hilang.
Akhirnya dia pun duduk bersila, selimut tebal yang tadi di pakai untuk menutup tubuhnya pun dia singkirkan, sekarang dia memasang wajah serius, menatap wajah adik perempuannya.
''Dari mana kamu kenal dengan gadis yang bernama Jasmine?''
''Dih, di tanya malah balik bertanya, Abang ini,'' Tania mengerutkan keningnya lalu duduk di tepi ranjang.
''Ya, kalau Abang si kenal baik sama dia, Jasmine itu wanita yang sangat spesial di hati abang, meski itu dulu, karena sekarang Abang sudah tidak terlalu banyak berharap sama dia,'' jawab Ilham menunduk lesu.
''Apa begitu? jadi Abang menyukai Jasmine?''
Ilham mengangguk.
Kemudian dia membanting'kan Tubuhnya ke atas pembaringan, merasakan kembali kekecewaan karena di tolak berkali-kali oleh gadis yang di cintai'nya, bahkan dia pun mendengar kabar bahwa, gadis itu akan segera melangsungkan pernikahan dalam wakti dekat.
''Dengan kata lain, Abang di tolak sama si Jasmine itu? ha... ha... ha...'' Tania menertawakan.
Merasa kesal di tertawa'kan seperti itu oleh adiknya, Ilham pun melempar wajah sang adik dengan bantal.
''Gak sopan banget si, gak ada empati banget sama kakak sendiri juga,'' gerutu Ilham kesal.
''Lagian, abang lucu. Mana mau Jasmine mau sama pria pemalas seperti'mu, jam segini aja masih tidur, sangat jauh berbeda sama si Gabriel calon suaminya itu, ha... ha... ha...''
''Tunggu... ! Kamu kenal juga dengan yang namanya Gabriel?'' Ilham mengerutkan kening lalu kembali duduk dan menatap wajah Tania.
''Tentu saja aku kenal, dia kan man---'' Tania tidak meneruskan ucapannya, menutup mulut dengan telapak tangan, lalu berdiri dan hendak pergi, sebelum kakaknya tersebut semakin melontarkan banyak pertanyaan.
''Man-- Man-- Man apa? teruskan kalau ngomong,'' Ilham menghentikan adiknya.
''Nggak jadi, sudah akh, aku mau istirahat, capek,'' Tania pun melangkah keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Semakin penasaran, Ilham bangkit dan turun dari atas pembaringan, dia mengejar adiknya dan mengikutinya dari belakang.
''Tania, tunggu... kenapa tadi kau tidak meneruskan ucapan'mu? Gabriel itu 'Man--' apa? aku mencari cara agar mereka batal menikah,'' Ilham terus mengekor dari belakang, tubuh Tania yang mondar-mandir di dalam rumah pun masih tetap dia ikuti.
''Batal menikah? apa maksudmu?'' Tania menghentikan langkahnya seketika dan hampir saja tubuh kakaknya itu menabrak dirinya.
''Tunggu... Tunggu...! apa mungkin yang kamu mau katakan tadi adalah, Man-- Mantan...?''
Wajah Tania pucat seketika, dia pun berjalan mundur dan membalikan badan hendak kabur, karena tidak ingin kakaknya tersebut semakin banyak bertanya, namun sang kakak sudah dapat menebak gerakan adik perempuan'nya tersebut, dengan cepat tangan Ilham meraih kerah baju adiknya dari arah belakang, hingga Tania pun kesulitan dalam berjalan.
''Sini kamu, gak sopan bangat sih, lagi di ajak ngomong juga,'' ucap Ilham kesal, masih dengan tangan yang memegangi kerah baju Tania.
''Abang... Lepasin nggak? kalau tidak aku teriak nih,'' ancam Tania.
''Coba saja teriak, gak akan ada yang dengar, palingan bibi aja tuh yang dengar,'' tunjuk Ilham kepada bibi yang sedang sibuk mencuci piring di dapur.
''Tolong... Bi... tolongin Tania,'' teriak Tania dengan sedikit bercanda.
''Ada apa ini? kenapa kamu berteriak meminta tolong, Tania,'' tanya sang ayah yang baru saja kembali dari peternakan.
''Tania, sayang. Kapan kamu pulang?'' ayah berjalan mendekat lalu memeluk tubuh putrinya.
''Baru saja, pak. Bapak apa kabar?''
''Kabar bapak baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana?''
''Aku juga baik, pak.'' Tania melepaskan pelukan sang ayah.
Lalu sang ayah mengalihkan pandangannya kepada putra sulung'nya, melayangkan tatapan tajam dengan raut wajah yang menahan rasa kesal.
''Kamu... kerjamu tidur terus, gimana mau nerusin usaha bapak, kalau kamu saja pemalas seperti ini? hah...''
''Iya, Pak. Saya memang tidak berniat dan sama sekali tidak berminat untuk terjun ke usaha persapian milik bapak,'' jawab Ilham kesal, lalu berjalan masuk kembali ke dalam kamar.
''Dasar anak tidak tahu diri, kerjanya menghambur-hamburkan uang, tapi di suruh kerja di peternakan gak mau. Mau kamu apa sih sebenarnya, hah?'' ayah semakin kesal dan hendak menyusul Ilham ke dalam kamar.
__ADS_1
Namun Tania segera meraih tangan sang ayah, dan menenangkan.
''Pak, sudah cukup, nggak baik untuk kesehatan bapak, kalau marah-marah seperti ini,'' lirih Tania lembut.
''Kakakmu itu, tidak tahu berterima kasih, di suruh kerja di peternakan gak mau, di suruh menarik hati seorang gadis pun tak bisa, dasar...'' bapak semakin menaikan suaranya.
''Sudah... sudah...! Tania jadi malas pulang jadinya, aku mau kembali ke kota saja."
"Kamu kan baru pulang, masa sudah mau kembali lagi? Nginap lah dulu selama beberapa hari, atau kalau bisa, gak usah kembali lagi ke kota, bapak gak tega sebenarnya meninggalkan kamu di kota sendirian."
"Ya, gimana mau betah tinggal di rumah, baru datang aja sudah di suguhkan dengan pemandangan yang mengesalkan, bapak sama Abang bertengkar, di tambah ibu yang selalu sibuk dengan urusan di luar," jawab Tania merasa kesal.
"Hmmm..." Bapak menarik napas panjang.
"Aku istirahat dulu sebentar, setelah itu aku akan kembali ke kota," Tania melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Ayah Tania pun hanya menatap tubuh putri kesayangan'nya dari arah belakangnya, berjalan semakin menjauh memasuki kamar, memang apa yang di katakan oleh putrinya tersebut adalah benar, dan mungkin hal itulah yang menyebabkan putri satu-satunya itu memilih menjalani hidup terpisah jauh dari keluarga.
***
Sampai saat ini Briel masih tinggal di Apartemen milik Tania, meski merasa tidak enak karena harus tinggal bersama seorang perempuan, namun karena dia tidak punya tempat lain lagi untuk tinggal, terpaksa dia bertahan di sana, hanya sampai lukanya benar-benar sembuh.
Hari ini Tania masih belum kembali setelah mengantar Jasmine dan putrinya pulang ke kota kecil dimana tempatnya tinggal, dan dia berada di Apartemen sendirian. Berbaring di kamar dengan mata yang sedikit di pejamkan.
Tok
Tok
Tok
Pintu Apartemen pun tiba-tiba saja di ketuk, lalu terdengar pula suara seorang Pria memanggil nama Tania. Briel bangkit dan berdiri lalu berjalan ke arah pintu, dan mengintip dari lubang pintu, siapa yang datang.
Hatinya pun di buat terkejut seketika, melihat pria yang saat ini berdiri di balik pintu. Siapakah pria tersebut?
*****
__ADS_1