
''Di minum teh manis hangatnya nak Tania,'' ucap ibu, meletakkan cangkir teh di atas meja.
''Terima kasih, Bu,'' Tania meraih cangkir dan menyeruput'nya perlahan.
''Bolehkah ibu bertanya?'' Ibu duduk di kursi yang sama dengan Tania.
"Boleh, Bu. Ibu mau bertanya apa?"
"Kenapa nak Gabriel tidak ikut pulang? memangnya dia kemana ya?"
"Dia ada urusan mendadak ke luar kota, bu," Jasmine keluar dari dalam kamar dan menjawab pertanyaan ibu.
"O, ya...? memangnya urusan penting apa, sampai-sampai tidak sempat mengantar putrinya pulang? kasian kan Naura," Ibu mengerutkan keningnya.
Jasmine dan Tania tidak menjawab, mereka saling melayangkan tatapan, menatap satu sama lain, merasa gugup dan tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan yang baru saja ibu lontarkan.
Jasmine, dia memang tidak tahu dimana Briel berada, dia hanya menerima surat perpisahan.
Tania, rasanya tidak mungkin jika harus mengatakan yang sebenarnya kepada ibu, Gabriel, terluka parah dan akan kembali jika luka di tubuhnya sudah benar-benar sembuh, Akh... Sungguh tidak mungkin jika dia mengatakan hal yang sebenarnya seperti itu.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, hingga suara ibu mengejutkan keduanya, dan mereka pun menyudahi lamunannya.
"Jasmine... Tania...! Kenapa kalian diam saja?"
"Eu... Tidak Bu, he... he... he..." Tania tertawa di paksakan lalu menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Eu... Begini Bu, mas Gabriel ada urusan mendadak, dia harus mengunjungi keluarganya di luar kota, tapi selama kami di Rumah Sakit, dia selalu menemani kami, ko.''
'Maaf kan Jasmine karena harus berbohong, Bu...' ( batin Jasmine).
''Sepertinya, saya harus permisi sekarang, Bu, Jasmine.'' Tania berpamitan.
Dia tidak ingin terlalu lama berada di sana, dia takut keceplosan, dan tidak sengaja mengatakan hal yang sebenarnya, dan dia tidak ingin hal itu terjadi, karena apabila Jasmine sampai tahu hal tersebut, tentu saja dia akan merasa sangat kecewa dan pastinya pernikahan yang akan di laksanakan bulan depan terancam gagal.
Dia tidak ingin membuat Gabriel kecewa, tentu saja dia tidak ingin menyakiti hati Jasmine, yang merupakan wanita Sholeha pilihan mantan kekasihnya, meski tidak dapat di pungkiri, bahwa dia pun masih memendam rasa yang mendalam kepada pria tersebut.
"Ko cepat sekali? tidur saja di sini, lagipula kamu pasti capek, masa sekarang sudah harus kembali ke kota?" tanya Jasmine, mengerutkan keningnya.
"Tidak, ko. Aku mau sekalian mengunjungi keluarga'ku di kota ini."
"O ya? jadi kamu berasal dari kota ini juga? siapa nama ibumu? siapa tahu beliau salah satu kenalan ibu."
"Iya, Bu. Sebenarnya orang tuaku berasal dari kota ini. Ayahku juragan sapi? apa ibu kenal?"
Ibu dan Jasmine saling menatap dengan mengerutkan keningnya, apakah mungkin juragan sapi yang di maksud oleh Tania adalah keluarga Ilham, Laki-laki yang sudah berulang kali dia tolak? Batin Jasmine.
''Maaf, Tan. Apa kamu kenal dengan seorang pria yang bernama Ilham?'' Jasmine memberanikan diri bertanya, untuk memuaskan rasa penasaran'nya.
__ADS_1
''Maksudnya bang Ilham, bukan?'' Tania bertanya dengan sedikit tersenyum.
''Mungkin? setahuku, di kota ini yang namanya Ilham hanya ada satu orang.''
''Ya tentu saja aku kenal, dia adalah kakakku, Abang ku satu-satunya.''
''Benarkah? dunia ini memang sempit, ya.'' Jasmine tertawa kecil.
''Apa kamu kenal dengan abang'ku itu?''
"Tentu saja, dia salah satu sahabat'ku."
"Wah ... Sungguh kebetulan yang luar biasa," Tania pun tertawa, merasa tidak menyangka bahwa ternyata, Jasmine adalah salah satu teman dari kakaknya tersebut.
"Aku sungguh tidak menyangka, ternyata dunia benar-benar sempit ya, bang Ilham adalah teman'mu, dan sekarang kamu juga teman'ku. Hmm... bolehkan kita berteman?''
''Tentu saja, tanpa kau minta pun, kamu sudah aku anggap sebagi teman'ku, kamu juga jangan sungkan apabila ingin berkunjung ataupun menginap di sini,'' jawab Jasmine dengan tersenyum.
''Terima kasih, Jasmine. Aku merasa sangat senang memilik teman Sholeha seperti dirimu, siapa tahu suatu saat nanti aku juga berhijrah dan mengikuti dirimu menjadi wanita Sholeha.''
''Amin, tidak ada kata terlambat untuk berubah, Allah maha
pengampun,'' jawab Jasmine.
"Baiklah, kalau begitu. Aku benar-benar pamit sekarang, ya. Terima kasih atas teh hangat dan sambutan hangat'nya, lain kali aku akan berkunjung lagi ke sini,'' Tania berdiri.
''Sama-sama, Bu.''
Tania pun menyalami ibu, dan mencium punggung ibu, setelah itu, dia pun melakukan hal yang sama kepada Jasmine.
''Assalammualaikum...'' Tania pun melangkah keluar dari dalam rumah.
''Waalaikumsalam...'' Jasmine dan ibu menjawab secara berbarengan.
Kemudian ibu pun mengantar Tania sampai ke halaman, begitu pun dengan Jasmine, keduanya menatap kepergian mobil Tania yang perlahan mulai berjalan pelan meninggalkan halaman, hingga akhirnya melaju di jalanan.
***
Hanya butuh waktu satu jam saja untuk Tania sampai di rumahnya, sudah lebih dari satu bulan dia tidak pulang, terakhir pulang ya waktu itu, saat dirinya tidak sengaja bertemu dengan Gabriel.
Dia pun keluar dari dalam mobil, menatap keadaan rumahnya yang masih belum berubah, masih sama, hening dan sepi seperti tidak berpenghuni.
Ayahnya selalu sibuk mengurus peternakan sapi, sedangkan ibunya sendiri selalu sibuk dengan urusan arisan sosialitanya, jalan-jalan, belanja dan bahkan sampai menginap di luar kota, hanya sekedar untuk mencari kesenangan.
Itulah sebabnya dia lebih memilih tinggal terpisah dari keluarga, karena baginya, itu lebih baik ketimbang tinggal serumah dengan keluarganya, namun serasa tidak punya keluarga.
''Assalamualaikum...'' Tania mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
''Bu... pak, Tania pulang,'' melangkah lebih dalam ke dalam rumah.
''Eh, non Tania...'' Bibi yang merupakan Pembantu Rumah Tangganya berjalan menghampiri dengan memasang wajah senang.
''Pada kemana bi, kok sepi sekali?'' tanya Tania lalu duduk di kursi ruang tamu.
''Biasa, Non. Tuan sedang berada di peternakan, sedangkan Nyonya, pagi-pagi sekali sudah pergi, tidak tahu mau kemana.''
''Seperti biasa, mereka selalu sibuk dengan urusan masing-masing.'' Tania pun bangkit dan berjalan menuju kamar kakaknya.
Ceklek
Dia membuka pintu kamar, matanya langsung tertuju pada tubuh sang Kaka masih tertutup selimut tebal yang menutupi seluruh badan.
''Bangun, bang. Sudah sore begini masih tidur aja, dasar pemalas,'' Tania menarik selimut, dan menatap wajah kakaknya yang perlahan membuka mata.
''Adikku sayang, sedang apa kamu di sini?'' Ilham mengusap kedua matanya lalu menguap.
''Kenapa? apa nggak boleh aku pulang?''
''Bukan begitu? pantas saja di luar panas sekali, rupanya, adikku yang cantik dan nakal ini akan pulang,'' Ilham merentangkan kedua tangannya.
''Diih... dasar... Narsis...!'' Tania melempar wajah kakaknya dengan bantal.
Ilham pun meraih kembali selimut yang tadi di tarik oleh adiknya. Lalu menutup kembali tubuhnya seraya memejamkan matanya.
''Abang...'' Tania menarik kembali selimut merasa kesal.
''Apa...? Abang masih ngantuk,'' jawab Ilham masih dengan mata yang terpejam.
''Jasmine, apa Abang mengenal gadis itu?''
Ilham langsung membuka mata, membulatkan bola matanya dengan sempurna, serta menatap wajah adiknya.
*****
*Jangan lupa
Like
komen
vote
hadiah
terima kasih ❤️❤️❤️*
__ADS_1