
Gabriel mengulurkan tangannya dengan tersenyum, dan Istrinya pun menerima uluran tangan sang suami dengan perasaan bahagia, keduanya pun keluar dari dalam kamar dengan bergandengan tangan diiringi dengan senyuman yang mengembang di kedua sisi bibir keduanya.
Setelah membuatkan kopi untuk suami dan teh hangat untuk dirinya, Jasmine pun segera membawa dua cangkir minuman hangat itu untuk dinikmati oleh keduanya, ke teras rumah dimana mereka akan menghabiskan malam berdua, sebagai pasangan suami-istri.
''Kopi'nya, mas.'' Jasmine meletakan gelas di atas lantai, tepati di depan suaminya.
Setelah itu dia pun duduk di sebelahnya, dengan teh manis hangat yang akan menemani'nya, dalam melewati malam bersama sang suami.
''Terima kasih,'' Briel meraih cangkir kopi dan menyeruput'nya perlahan.
Begitu pun dengan Jasmine, dia melakukan hal yang sama, menyeruput cangkir teh setelah itu meletakan kembali cangkir tersebut di atas lantai tepat di hadapannya.
''Jasmine, mulai besok aku akan membuka bengkel seperti biasanya, sudah terlalu lama bengkel ini tutup, aku takut para pelanggan berlarian,'' ucap Briel, meraih pergelangan tangan Jasmine dan menggenggam erat jemari'nya.
''Iya, mas. Aku akan selalu mendukung'mu, pekerjaan apapun yang akan kau lakukan asal itu halal, aku akan memberikan dukungan,'' jawab Jasmine, meremas jemari suaminya, dengan tersenyum.
''Aku sungguh bahagia sekarang, karena ada kamu istriku yang akan selalu menemani hari-hari dalam hidupku, semoga jodoh kita bertahan sampai kita tua nanti.''
''Iya amiin, mas.''
Keduanya pun saling melayangkan tatapan dan senyuman, tatapan dengan pancaran penuh rasa cinta, dan senyuman yang menyiratkan rasa bahagia, sampai akhirnya kecupan pertama pun mendarat di bibir ranum Jasmine dan membuat jantung wanita berhijab itu terasa berdebar karena baru pertama kali mendapatkan sentuhan.
''Aku mencintai'mu, Jasmine,'' ucap Briel pelan.
''Aku juga mencintaimu, mas,'' Jasmine menjawab dengan sedikit berbisik.
Keduanya pun saling menautkan bibir dengan tangan Jasmine yang di lingkarkan di leher suaminya, sementara tangan Gabriel di lingkarkan di pinggang ramping istrinya tersebut.
Saling memutar kepala dengan mata yang terpejam, dan merasakan gelora yang membara di dalam jiwa masing-masing, di temani semilir angin malam yang bertaburan bintang di atasnya.
Sungguh keduanya merasakan perasaan yang berbeda, bagi Jasmine, ini adalah sentuhan pertamanya sebagai seorang istri sekaligus sebagai seorang wanita, karena sebelumnya dia tidak pernah melakukan hal tersebut, sebagai seorang muslimah yang taat, dirinya tidak pernah sedikitpun disentuh apalagi di jamah atau di cium oleh pria manapun.
__ADS_1
Sedangkan bagi Gabriel, meskipun ini bukan kali pertama dalam melakukan hal tersebut, namun apa yang sedang dia lakukan saat ini bersama istrinya memberikan rasa yang berbeda, mungkin karena dia melakukannya dengan istri tercintanya, dan tentunya karena dia telah memiliki lebel halal, membuat perasaan dan hatinya lebih bergetar.
Setelah puas melakukan ciuman pertama mereka, keduanya pun kembali saling melayangkan tatapan dengan senyum yang mengembang, Jasmine menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
''O iya, mas. Waktu kami akan pulang dari rumah sakit waktu itu di kota, aku bertemu dengan seorang wanita, dan sepertinya, wanita itu mengenali Naura, dia menatap wajah Naura, seolah Naura itu adalah anaknya sendiri,'' ucap Jasmine, membuat Gabriel terkejut seketika.
''O ya...?''
Jasmine mengangguk.
''Seperti apa wajah wanita tersebut?''
''Aku si tidak terlalu ingat, tapi sepertinya, dia bukan berasal dari kalangan biasa seperti kita, dia terlihat seperti orang kaya, wanita sosialita, wajahnya juga cantik,'' jelas Jasmine, membuat Briel termenung sejenak.
'Apa mungkin wanita tersebut adalah orang yang diceritakan oleh Alberto waktu itu? Tante kandung Naura, otak dari pembunuhan yang di perintahkan kepada kepadaku?''
Batin Gabriel berucap.
''O iya, maaf. Aku sedikit melamun tadi,'' jawab Briel memasang wajah pucat.
''Ada apa?''
''Tidak, ko. Aku tidak apa-apa, kita ke dalam yu, sepertinya angin malam semakin terasa dingin, aku takut kamu sakit jika terlalu lama berada di luar,'' pinta Briel mengalihkan pembicaraan.
Jasmine pun mengangguk lalu berdiri.
Setelah dia berdiri dan hendak berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa di sangka tiba-tiba saja Briel meraih tubuh Jasmine dan menggendongnya, membuat wanita tersebut terkejut seketika, tersenyum lalu menatap wajah suaminya.
''Kamu mau apa, mas?'' wajah Jasmine memerah.
''Menggendong'mu, apa tidak boleh? aku selalu ingin melakukan hal ini setiap melihat tubuh indah'mu ini, menggendong'nya dan memeluknya erat, dan sekarang, aku akan melakukannya dan memelukmu sepuasnya, boleh?''
__ADS_1
''Tentu saja, tubuhku ini milikmu sekarang, kamu bebas melakukan apapun terhadap tubuhku ini, mau di gendong, di peluk, ataupun dilucuti pakaiannya pun kamu berhak mas, karena kamu adalah suami'ku, dan kamu halal melakukan hal itu,'' wajah Jasmine dengan wajah yang semakin memerah, dengan jantung yang berdetak semakin kencang, dan hati yang bergetar.
Mendengar hal tersebut, membuat Gabriel semakin tidak sabar, dia pun membawa tubuh langsing nan wangi sang istri masuk kedalam rumahnya, setelah itu, diapun masuk kedalam kamar tamu dimana Naura tidak berasa di sana.
Ceklek
Pintu kamar pun di buka, Briel masuk ke dalamnya lalu pintu di tutup kembali dengan pelan. Jasmine melingkarkan lengannya di leher sang suami, sampai tubuh ramping'nya tersebut di letakkan di atas ranjang.
Dengan hatinya yang bergetar keduanya pun saling melayangkan tatapan, Briel berbaring di sampaikan tubuh sang istri, dan malam yang panjang pun dimulai, malam yang sempat tertunda, malam yang selalu di nanti oleh keduanya, dan malam yang akan menyempurnakan pernikahan mereka, yaitu malam pertama.
Dan keduanya pun larut dalam keni***. Kenik*** surga dunia yang belum pernah mereka rasakan, saling menyalurkan hasrat yang menggelora yang kini memenuhi relung jiwa.
Jasmine pun meringis kesakitan saat mahkota kesuciannya mulai di robek, dan kini, perannya sebagai seorang istri telah benar-benar sempurna.
Briel pun terkulai lemas di samping tubuh sang istri, menatap wajah Jasmine yang terlihat pucat pasi, merasakan rasa sakit di bagian inti.
''Apakah sakit sekali?'' tanya Briel mengangkat kepalanya.
Jasmine mengangguk.
''Maaf, lain kali aku akan melakukannya dengan lebih lembut, dan hati-hati,'' jawab Briel sedikit menyesal.
''Tidak apa-apa, katanya, kalau pertama melakukannya memang seperti ini.''
Briel pun tersenyum lalu mengecup kening istrinya dengan perasaan penuh kasih sayang dan senyum yang mengembang, merasakan kebahagiaan.
Sementara Jasmine, dia melingkarkan lengannya di tubuh sang suami, lalu terpejam merasakan kelelahan.
Tidak lama kemudian, keduanya pun terlelap setelah melewati malam panjang dengan sejuta keni***. Tertidur lelap dengan saling berpelukan.
*****
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️