
Pukul sepuluh pagi, Naura sudah bersiap untuk pulang sekolah, bel baru tanda habisnya waktu belajar baru saja berbunyi, dia merapikan dan memasukkannya ke dalam tas miliknya.
Naura memasang wajah datar, sampai salah satu temannya datang menghampiri dirinya lalu duduk di sampingnya.
"Naura, apa yang tadi itu ibumu?" tanya temannya itu menatap wajah Naura dengan raut wajah yang terlihat penasaran.
"Iya, calon ibu'ku. Cantik kan?" jawab Naura masih dengan tangan yang sibuk memasukkan buku.
"Calon ibu? berarti bukan ibu kandung'mu?" menatap heran.
'Ibu kandung?"
Naura bergumam pelan.
"Apakah dia calon ibu tiri'mu? kalau begitu, dimana ibu kandung kamu? apakah kedua orang tuamu sudah bercerai?"
Naura hanya terdiam, dirinya sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan temannya tersebut. 'Ibu kandung?', 'bercerai?' dirinya sama sekali tidak mengetahui hal tersebut, karena selama ini sang ayah tidak pernah mengatakan ataupun menceritakan hal tersebut, bahkan dia sendiri tidak tahu bagaimana rupa wajah dari wanita yang di sebut ibu kandung itu.
Dia pun tidak menjawab pertanyaan temannya, dia pergi begitu saja meninggalkan sang teman yang terlihat sedang menatap wajah dirinya dengan raut wajah heran.
Dengan perasaan yang sedikit merasa penasaran dengan sosok ibu kandung, Naura pun berjalan keluar dari dalam kelas, menuju gerbang sekolah, dia melihat sang ayah sudah berdiri tepat di depan mobil menunggu dirinya.
"Naura, sayang..." Gabriel menyambut kedatang putri tercintanya, dan merasa heran seketika melihat raut wajah sang putri yang terlihat muram.
"Kamu kenapa?" tanya Briel penasaran.
Naura hanya menggelengkan kepalanya lalu berjalan menuju mobil dan membuka pintu mobil sendiri, membuat Briel semakin penasaran dengan apa yang baru saja terjadi dengan putrinya tersebut.
Gabriel pun masuk ke dalam mobil, memasangkan sabuk pengaman di tubuh kecil sang putri yang masih memasang raut wajah yang terlihat muram.
"Sayang... Putri papa kenapa, nak? apa di sekolah ada yang berbuat jahat kepada'mu?"
Naura menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu terlihat kesal dan sedih seperti ini? ayo bilang sama papa, biar papa marahin teman kamu itu."
Naura masih terdiam, menunduk sambil memainkan jarinya.
Briel pun tidak bertanya lagi, dia menyalakan mesin mobil lalu mulai melaju dengan pelan, sesampainya di rumah nanti, barulah dia akan kembali bertanya kepada putrinya tersebut.
Di perjalanan pun, Naura tetap tidak bergeming, dia masih saja menunduk, memikirkan setiap perkataan yang tadi di ucapkan oleh temannya di sekolah, dan akhirnya mereka pun sampai di rumah.
Gadis kecil berparas cantik itu pun langsung membuka pintu mobil, berjalan keluar lalu masuk ke dalam rumah, tidak menghiraukan ayahnya yang saat ini memandang wajah dirinya dengan diliputi berbagai tanda tanya.
Gabriel yang merasa penasaran, segera mengejar sang putri ke dalam rumah, dan Naura sedang berbaring di tempat tidur dengan memeluk bantal guling di dalam kamarnya.
"Sayang..." Briel duduk di samping tempat tidur, mengelus rambut panjang sang putri.
Naura tidak menjawab.
"Ada apa, sayang? papah sedih kalau melihat kamu seperti ini.''
"Pah, bolehkan aku bertanya?"
"Tentu aja, kamu mau bertanya apa?"
"Eu... Sebenarnya, dimana ibu kandung'ku? apa ayah dan ibu kandung'ku sudah bercerai? apa beliau sudah meninggal?"
Deeeg...
Jantung Gabriel berdetak dengan kencang, mendengar pertanyaan putrinya yang secara tiba-tiba menanyakan prihal ibu kandung, dia tidak tahu harus berkata apa, berbohong pun tidak tahu harus menceritakan apa.
Alhasil, dia hanya memeluk tubuh sang putri lalu mencium pucuk kepalanya dengan penuh kasih sayang dan menahan kesedihan.
"Mengapa papa diam? jawab pertanyaan aku, Pah,'' Naura melepaskan pelukan sang ayah.
"Naura, sayang. Ibu'mu sudah meninggal dari semenjak kamu masih berumur satu tahun," jawab Briel mengusap rambut sang putri, ingin mencoba jujur meski masih banyak yang di sembunyikan, tidak mungkin rasanya jika dia harus mengatakan bahwa dia adalah orang yang telah membunuh kedua orang tuanya.
__ADS_1
Meski dia yakin suatu saat nanti putri kesayangan tersebut akan mengetahuinya, dan tidak di ragukan lagi putri'nya tersebut pasti akan sangat membenci dirinya, dan dia belum siap untuk itu.
"Meninggal? benarkah?" Naura bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, ada rasa sakit yang menyusup di relung hatinya, dan dia pun memeluk sang ayah, lalu menangis di pelukannya.
"Ibu... hiks... hiks... hiks..." ucap Naura di dalam pelukan sang ayah.
Briel pun tidak dapat lagi menahan kesedihannya, dia ikut menangis memeluk tubuh sang putri, sembari mengucapkan beribu kata maaf di dalam hatinya, dia sungguh menyesal, penyesalan yang tidak dapat di ungkapkan, hatinya pun merasakan rasa sakit yang teramat dalam, hingga dadanya terasa sesak membuatnya pun menangis sesenggukan.
'Maafkan papah, nak. Papah sudah membunuh kedua orang tua'mu, maafkan papah juga karena tidak bisa mengatakan ini, dan bersikap seolah papah adalah ayah kandung'mu dan ayah yang baik bagi'mu, padahal sebenarnya ayah adalah seorang pembunuh."
Ucapnya dalam hati dengan perasaan yang sangat pilu.
"Pah, apakah papah punya Poto ibu? Naura ingin melihat seperti apa ibu kandung Naura itu?" pinta Naura melepaskan pelukan sang ayah, lalu menatap wajahnya.
Gabriel hanya menggelengkan kepalanya, tidak sanggup berucap.
"Kenapa papah juga menangis, hiks... hiks... hiks...? aku nggak bisa melihat papah menangis seperti ini,'' tanya Naura heran, dirinya tidak pernah melihat sang ayah menangis sesenggukan seperti ini.
Briel tidak menjawab, bibirnya seperti kaku tidak dapat berucap, dia hanya bisa memeluk kembali tubuh sang putri dengan deraian air mata yang terus saja mengalir dengan begitu derasnya.
"Aku berjanji tidak akan menanyakan hal ini lagi, tapi papah jangan seperti ini, papah jangan menangis terus," ucap Naura tidak tega melihat sang ayah yang masih berurai air mata.
Gabriel mendekap erat tubuh putrinya tersebut, memeluknya dengan sangat erat, kata maaf pun kembali terucap, namun hanya bisa dia ucapkan di dalam hatinya, dia tidak sanggup untuk mengatakannya secara langsung, meski suatu saat nanti dia akan melakukan'nya, dan memohon pengampunan atas semua yang telah dia lakukan.
Naura melepaskan pelukan sang ayah, menatap wajahnya lalu mengusap pipinya dengan basah dengan air mata.
"Sudah ya, jangan menangis lagi, maafkan Naura karena telah membuat papah menangis seperti ini," ucap Naura merasa menyesal.
"Tidak apa-apa sayang, papah hanya merasa sedih apabila mengingat ibu kandung'mu," akhirnya Briel pun mengeluarkan suara.
"Aku janji, nggak akan menanyakannya lagi, lagi pula sekarang sudah ada ibu Jasmine, dan dia akan aku anggap seperti ibu kandung'ku sendiri," ucap Naura, sedikit tersenyum.
*****
__ADS_1