TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Penyesalan


__ADS_3

Tania menatap sosok Naura yang berjalan menghampiri mereka berdua, menatap dengan tatapan heran seraya mengingat ingat kejadian lima tahun yang lalu.


''Apa itu bayi yang waktu itu?'' tanya Tania menatap wajah cantik Naura.


''Diam jangan mengatakan apapun,'' Briel melotot, membulatkan bola matanya, dengan ucapan yang sedikit di tahan namun terdengar penuh penekanan.


''Papa, lagi ngapain si di sini, dari tadi ibu nungguin tau,'' celoteh Naura yang berjalan semakin mendekat.


'Ibu? apa dia sudah menikah?'


Tania bertanya dalam hatinya.


''Iya, sayang. Nanti papa ke sana, kamu pulang saja, tunggu papa di rumah, papa lagi ngobrol dulu sama calon pelanggan, mobilnya mogok,'' jawab Gabriel dengan senyum yang terlihat di paksakan.


''Pelanggan?'' tanya Tania pelan menatap wajah Gabriel.


''Ya, sudah. Jangan lama-lama ya,'' Naura menghentikan langkahnya lalu berbalik meninggalkan sang ayah.


''Apa kamu sudah menikah?'' tanya Tania, menatap Briel yang sedang menunduk menatap ban mobil miliknya.


''Sepertinya mobil kamu terkena paku yang lumayan besar, aku akan membantu mengganti ban mobilnya dengan yang baru, tapi ingat, meski pun kamu mantan pacar aku, kamu harus tetap bayar, oke...'' ujar Gabriel, tanpa menoleh, lalu berdiri hendak mengambil ban cadangan di dalam bagasi mobil milik Tania.


''Gabriel...! jawab aku. Apa kamu sudah menikah?'' Tania meraih pergelangan lengan Briel dan langsung di tepis dengan sedikit kasar oleh pria tersebut.


''Jangan pegang-pegang, kita bukan muhrimnya,'' jelas Briel.


''Ha... ha... ha... sejak kapan kamu peduli dengan yang namanya muhrim segala? bukankah dulu kita juga sering melakukan lebih dari sekedar berpegangan tangan? mengapa sekarang kamu mendadak seperti orang yang alim?'' tanya Tania masih dengan tatapan heran.

__ADS_1


''Aku sudah bilang tadi, aku sekarang, bukan lagi Gabriel yang kamu kenal dulu, aku sudah berubah, dan aku sudah meninggalkan jauh kehidupan kelam'ku di masa lalu,'' jawab pria itu dengan tangan yang terlihat sibuk mengambil ban dari dalam bagasi serta peralatan lainnya yang di butuhkan.


''Ha... ha... ha... Aku tidak percaya kamu telah berubah, Gabriel ya tetap Gabriel, sampai kapanpun tidak akan pernah berubah,'' jawab Tania meragukan kesungguhan mantan kekasihnya tersebut.


''Terserah kamu mau percaya atau tidak, lagipula aku tidak memaksamu untuk percaya dengan apa yang aku katakan,'' jawabnya lagi masih dengan tanpa menoleh.


Tania terdiam sejenak, menatap wajah mantan kekasihnya yang terlihat lebih bersinar dan lebih teduh di bandingkan dulu, Aura yang terpancar dari raut wajahnya terlihat sangat berbeda, membuat perasaan Tania sedikit terkesima.


'Apakah dia benar-benar sudah berubah?'


Batin Tania kembali bertanya.


Dengan cekatan dan tanpa rasa canggung sedikitpun, Briel memutar kunci dan membuka ban mobil lalu menggantinya dengan yang baru, hatinya tidak bergeming sama sekali meskipun Tania terus menatap wajahnya seolah tanpa berkedip sedikitpun.


''Nah, sudah selesai,'' Briel berdiri lalu merapikan alat-alat yang baru saja di pakai'nya dan memasukan kembali ke tempat semula.


''Heuh... dasar, sejak kapan kamu jadi perhitungan begitu, lagi pula aku juga tidak berniat untuk meminta gratisan ko, aku juga punya banyak uang,'' jawab Tania sedikit kesal.


''Ya sudah, cepat bayar, putriku sudah menunggu di rumah,'' ucapnya lagi.


''Iya... iya...!'' Tania membuka tas kecil dan mengeluarkan uang selembar yang terlihat berwana merah.


''Nih, kembaliannya ambil saja,'' ujar'nya menyerahkan dengan perasaan yang masih terasa kesal.


''Terima kasih...'' jawab Briel tersenyum senang.


''Apa sekarang kamu sudah jatuh miskin? kamu bahkan membuka bengkel di kota kecil seperti ini?'' tanya Tania masih dengan mata yang tak luput dalam memandang wajah tampan Gabriel.

__ADS_1


Laki-laki yang dia tinggalkan begitu saja, lima tahun yang lalu, dan sekarang dia merasa menyesal telah melakukan hal itu, ingin rasanya dia mengutarakan keinginannya untuk kembali merajut kasih dengan pria yang kini nampak memiliki aura teduh dengan sejuta karisma itu.


''Bukan urusanmu, Tan. Pekerjaan ku telah selesai di kerjakan, dan kamu juga sudah membayar, sekarang silahkan kamu teruskan perjalanan'mu, aku pulang dulu ya. Babay, semoga perjalanan'mu menyenangkan,'' ujar Briel, berbalik lalu melangkahkan kakinya.


''Apa kamu tidak ingin mengajakku mampir ke rumah'mu dulu? aku ingin berkenalan dengan putri mu yang cantik itu,'' ucap Tania menatap punggung Briel.


Gabriel pun menghentikan langkahnya, kembali memutar badan dan menatap wajah Tania, mantan kekasih yang dahulu menyia-nyiakan perasaan tulusnya.


''Apa kamu lupa, dulu kamu pernah berkata bahwa kamu tidak ingin berpacaran dengan Laki-laki yang memiliki seorang anak? kamu juga acuh tak acuh seolah tidak peduli saat aku meminta tolong padamu untuk membantuku mendiamkan bayi yang saat itu dalam keadaan menangis?'' jawab Gabriel, membuat Tania menunduk seketika, merasa malu.


Karena tidak mendapat jawaban, Briel pun kembali memutar tubuhnya lalu meneruskan langkahnya. Tania hanya bisa menatap punggung laki-laki tersebut dengan perasaan pilu.


Dia pun berjalan ke arah mobil lalu masuk ke dalamnya, Tania tidak langsung menyalakan mobilnya, dia masih menatap punggung Gabriel lewat kaca spion, dari dalam mobilnya, terus melakukan hal tersebut sampai Briel berbelok masuk ke dalam bengkel milik'nya.


Tania pun mulai menyalakan mobilnya, namun bukannya maju ke depan, dia malah memutar stir dan mengganti arah tujuannya, yaitu kembali kebelakang dengan sengaja melintas di tempat tinggal Gabriel, karena dirinya merasa penasaran dengan hidup baru yang saat ini di jalani oleh mantan kekasihnya tersebut.


Mobil Tania melintas dengan perlahan, berjalan tepat di depan bengkel kepunyaan Gabriel, dirinya memperhatikan pria itu terlihat sedang berbicara saling berhadapan dengan seorang wanita berhijab seraya tersenyum terlihat sangat bahagia.


Sungguh hati Tania merasakan sakit yang tidak terhingga, dahulu dia telah salah meninggalkan Gabriel begitu saja saat mantan kekasihnya tersebut membutuhkan dirinya, sungguh hati Tania diliputi oleh rasa penyesalan yang sangat mendalam.


Dia pun mengehentikan laju mobilnya, menatap lebih dalam wajah Gabriel yang kini terlihat sangat tampan, begitu jauh berbeda dengan Gabriel yang dia kenal dahulu.


Setelah terdiam cukup lama, akhirnya dia pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, berjalan dengan langkah gontai, menghampiri bengkel yang seperti telah menyatu dengan rumah yang berada tepat di belakangnya.


''Assalamualaikum...'' Tania mengucap salam.


Gabriel serta Jasmine yang sedang tertawa, dengan Naura yang berada di pangkuannya, sontak menjawab salam seraya menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


*****


__ADS_2