
Naura mengusap air mata yang membasahi pipi ayahnya, dia merasa menyesal telah menanyakan sesuatu yang membuat ayahnya bersedih.
Gabriel sungguh merasa terharu dengan ketulusan yang baru saja ditunjukkan oleh putri yang dibesarkan nya itu, andai saja putrinya tersebut mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, apakah mungkin Putri nya itu masih bisa menyayanginya seperti saat ini? batinnya bergejolak.
Gabriel meraih kaki sang putri yang masih memakai sepatu di atas tempat tidur, dia membuka sepatunya sekaligus kaos kaki yang di kenakan'nya.
''Naura sayang papa...'' ucap sang putri secara tiba-tiba, menatap wajah sang ayah dengan tatapan penuh cinta.
''Iya, sayang. Papa juga sayang sama kamu,'' Briel menjawab dengan mengecup kening sang putri.
''Aku lapar, papa sudah masak belum?"
''Eu... papa belum masak, bikin mie rebus saja ya, mau?''
''Iya, mau...'' jawab Naura serta tersenyum.
''Ganti seragam'mu dulu ya, setelah itu baru papa bikinkan mie rebus'nya.''
Naura mengangguk masih dengan tersenyum.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang, Briel mengganti pakaian sekolah yang di kenakan oleh Naura dengan baju biasa, setelah itu, barulah Briel membuatkan mie rebus spesial untuk putrinya tersebut.
Naura mengikuti ayah'nya berjalan ke dapur, dia terus mengekor dia belakang sang ayah, bahkan dia pun minta di gendong karena ingin melihat isi panci kecil yang berisikan air rebusan.
Tanpa protes dan tanpa mengeluh Gabriel menggendong tubuh kecil putrinya dengan satu tangannya dan tangan lainnya memasukan mie ke dalam panci serta satu buah telur, seolah telah terbiasa melakukan hal tersebut, mie yang di masak pun siap untuk di santap.
''Nah, sudah matang...! ayo kita makan,'' Briel berjalan menuju meja makan dengan Naura di dalam gendongannya serta mangkuk berisikan mie di lengan kirinya.
''Duduk ya sayang, papa suap'in,'' Briel mendudukkan tubuh sang putri di atas kursi makan.
''Wah, sepertinya enak, pah?''
''Iya dong, siapa lagi yang masaknya, papa Naura,'' jawab Gabriel dengan nada suara yang sedikit diliuk'kan.
''Aaaa...'' Briel meraih satu sendok dan hendak memasukkan ke dalam mulut mungil Naura setelah sebelumnya di tiup terlebih dahulu.
Naura pun membuka mulutnya dan menerima suapan yang di berikan oleh sang ayah, mengunyahnya perlahan lalu menelannya, dan Briel melakukan hal tersebut sampai mangkuk benar-benar kosong.
''Nah, sudah habis, minum dulu ya, sayang,'' Briel memberikan satu gelas air putih.
''Makasih ya, pah.''
''Sama-sama sayang,'' jawab Briel tersenyum.
__ADS_1
***
Setelah menunaikan sholat isya di mushola, Gabriel berencana untuk mengunjungi rumah Jasmine, tak lupa dia pun membawa serta putrinya.
Trok
Trok
Trok
''Assalamualaikum...''
Gabriel mengetuk pintu dan mengucapkan salam, dan tanpa menunggu lama dia pun mendengar suara balasan dari dalam rumah.
Ceklek
Pintu pun di buka, Jasmine berdiri di balik pintu dengan tersenyum merasa senang, di kunjungi oleh calon suaminya berserta Naura calon putri sambung nya.
''Naura...? masuk sayang,'' Jasmine memepersilah'kan keduanya masuk ke dalam rumah.
Briel dan Naura pun masuk lalu duduk di kursi ruang tamu.
''Tumben sekali malam-malam ke sini,'' tanya Jasmine, meraih tubuh Naura dan memangku'nya.
''Kamu kesini untuk bertemu Bapak?'' tanya Jasmine merasa kecewa, karena mengira Briel ke sana untuk menemui dirinya.
''Iya, apakah dia ada?'' jawab Briel masih belum mengerti dengan perasaan Jasmine.
''Aku kira kamu sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan aku,'' jawab Jasmine mengerucutkan bibirnya.
Briel pun akhirnya mengerti dan tersenyum merasa geli, dia menatap wajah calon istri.
''Iya, sekalian bertemu kamu juga ko, tapi ada sesuatu dulu yang ingin aku sampaikan dengan beliau,'' jawab Briel masih dengan tersenyum tipis.
''Ya sudah, aku panggilkan dulu ya. Naura, duduk sebentar nya, ibu mau memanggil kakek terlebih dahulu, sekalian ibu mau ambilkan teh hangat untuk kalian berdua.''
''Baik, Bu,'' Naura pun turun dari pangkuan sang ibu lalu duduk di kursi.
Jasmine melangkah lebih masuk ke dalam rumah, untuk memanggil sang ayah. Lalu tak lama kemudian dia pun kembali dengan ayahnya yang mengikuti dari belakang.
''Ada apa nak Briel?'' tanya Bapak duduk di kursi.
''Naura, kita main di kamar ibu, yu,'' ajak Jasmine yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Naura.
__ADS_1
Setelah keduanya masuk ke dalam kamar barulah Gabriel mulai berbicara kepada calon mertuanya.
''Begini, Pak. Saya ingin meminta izin untuk menggunakan halaman rumah yang saya tempati, untuk dijadikan tempat usaha kecil-kecilan, karena sebentar lagi saya akan segera menikah saya harus mulai mencari nafkah,'' ucap Gabriel dengan sedikit terbata-bata.
''Memangnya kamu mau membuka usaha apa?'' tanya Bapak.
''Rencananya Saya ingin membuka bengkel meskipun kecil-kecilan, kebetulan saya memiliki pengetahuan sedikit tentang otomotif.''
''Hmmm...'' Bapak menganggukan kepalanya, lalu berfikir sejenak.
''Ya sudah, kamu boleh menggunakannya, kebetulan rumah yang kamu tinggali itu terletak di pinggir jalan, mudah-mudahan saja usaha yang kamu rencanakan berjalan lancar,'' jawab bapak.
Gabriel pun tersenyum senang.
''Terima kasih, Pak. Saya berjanji mulai bulan depan saya akan menambahkan uang sewanya,'' ucap Briel dengan bibir yang masih mengembang.
''Tidak usah, nak. Saya memang berencana untuk memberikan rumah itu untuk Jasmine, dan karena kamu adalah calon suaminya, jika nanti sudah menikah, kamu tidak usah lagi membayar uang sewa, karena rumah itu akan di tinggali juga oleh putri bapak. Bapak hanya bisa mendoakan semoga usaha yang akan kamu mulai, lancar tanpa satu hambatan,'' ucap bapak dengan suara lemah lembut nya.
''Amin, pak. Terima kasih banyak,'' Briel bangkit lalu menyalami lengan calon mertuanya.
Bapak pun mengelus punggung calon menantunya, dia akhirnya merasa yakin, bahwa putrinya sama sekali tidak salah dalam memilih suami, hati bapak diliputi rasa syukur yang tidak terhingga.
Gabriel kembali duduk, dan menatap wajah bapak dengan tatapan penuh rasa syukur, karena mendapat perhatian dan dukungan dari calon mertuanya.
''Bapak masuk ke dalam dulu ya, bapak mengantuk,'' bapak pun bangkit dan berjalan masuk kedalam kamarnya.
''Iya, pak. Maaf karena telah mengganggu waktu istirahat bapak,'' jawab Gabriel berdiri dan menatap punggung calon mertuanya tersebut.
Setelah Bapak masuk, Jasmine pun keluar dari dalam kamar, dia keluar sendiri tanpa Naura.
''Naura mana?'' tanya Briel merasa heran.
''Naura tertidur,'' jawab Jasmine duduk berhadapan dengan Gabriel.
''Beneran...?'' Briel terkejut.
Jasmine mengangguk.
''Tumben sekali anak itu jam segini sudah tidur, biasanya jam 10 malam baru bisa terlelap,'' ucap Briel tersenyum menatap wajah Jasmine yang terlihat anggun dengan hijab berwarna hitam, panjang menjuntai menutupi bagian dadanya.
''Mungkin karena di temani oleh kamu, calon ibunya, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya,'' tambahnya lagi masih dengan menatap wajah anggun calon istrinya.
*****
__ADS_1