TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Pasca Operasi


__ADS_3

''Kalau begitu, terima ini, ini adalah kartu nama'ku, jika ada sesuatu yang mendesak dan kamu butuh bantuan'ku, maka jangan sungkan untuk menghubungi aku,'' Richard memberikan kartu namanya.


''Baiklah, kalau ini aku terima,'' jawab Briel meraih kartu nama.


Gabriel pun berbalik dan hendak berjalan.


''Tunggu, siapa namamu?''


''Namaku Gabriel, panggil saja Briel, permisi,'' Briel menjawab dengan tersenyum lalu meneruskan langkahnya setelah menoleh terlebih dahulu.


'Dia sungguh pria yang baik, sopan dan dan juga jujur, jarang sekali aku menemukan pria seperti dia,' (Batin Richard)


Richard pun kembali menatap apoteker dan meneruskan niatnya yang memang datang ke sana untuk menebus obat istrinya.


Sementara Gabriel pun kembali meneruskan niat awalnya yang memang akan membeli makanan ke kantin untuk dirinya dan Jasmine.


***


Naura mulai membuka mata, mengedipkan matanya, dan menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam kelopak matanya, wajahnya tampak sedikit meringis, dengan kepala yang sedikit menoleh ke arah Jasmine.


''Naura, sayang. Kamu sudah bangun?'' tanya Jasmine tersenyum senang.


Naura hanya terdiam, merasakan sekujur tubuhnya yang masih terasa lemas pasca operasi.


''Kamu mau apa? apa ada sesuatu yang kamu inginkan?''


Naura menggelengkan kepalanya.


''Jangan terlalu banyak bergerak dulu, kamu harus banyak beristirahat.''


''Papa mana, bu?'' tanya Naura menatap ke sekitar mencari sang ayah.


''Papa sedang membeli makanan, sebentar lagi juga datang,'' Jasmine mengusap punggung tangan Naura dengan penuh kasih sayang.


''Apakah operasinya sudah selesai?''


''Iya, sayang. Sebentar lagi kamu juga sembuh, karena operasinya sukses dan penyakit'mu berhasil di angkat.''


''Syukurlah, karena Naura tidak mati, dan masih bisa melihat wajah ibu dan juga Papa.''


''Sayang, jangan bicara seperti itu. Kamu pasti sembuh, ibu yakin itu, kamu harus ingat, bulan depan ibu akan segera menikah dengan papa, dan kita bisa tidur bertiga, seperti yang selama ini kamu inginkan. Jadi kamu harus segera sembuh dan menyaksikan pernikahan ibu dan Papa, ya.''


Naura mengangguk dan tersenyum merasa senang apabila mengingat hal itu. Tidak lama kemudian, Gabriel pun datang dengan membawa dua kotak makan, dan cemilan cemilan lainnya.

__ADS_1


''Sayang, kamu sudah bangun?'' Briel tersenyum menghampiri Naura dan meletakan begitu saja kotak makanan yang dia bawa di atas meja.


''Papa...?'' lirih Naura dengan suara yang terdengar lemas.


''Iya, sayang. Papa di sini, papa sungguh senang kamu sudah bangun, operasi'mu juga sukses, dan kamu pasti akan segera sembuh,'' Briel berdiri dan mengusap rambut sang putri, dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena terharu bisa melihat putrinya kembali membuka mata.


''Aku janji akan segera sembuh, Pah. Bulan depan kan papa akan menikah,'' Naura sedikit tersenyum.


''Iya, sayang. Papa sayang sekali sama kamu,'' Briel mengecup kening sang Putri.


''Tadi katanya papa habis beli makanan? makan dulu gih, ajak ibu sekalian, kalian pasti belum makan dari pagi, kan?''


''Iya, sayang. Papa sama ibu akan makan sekarang.''


Gabriel dan Jasmine pun berjalan menuju kursi setelah itu duduk dan mulai menyantap makanan, Naura memperhatikan kedua orang tuanya lalu kembali terpejam, karena efek Anestesi yang masih belum sepenuhnya hilang, membuta mata Naura masih terasa mengantuk serta tubuhnya pun merasa lemas.


''Mas, kira-kira berapa hari Naura masih harus di rawat di sini?'' tanya Jasmine sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.


''Kata Dokter si masih harus di rawat sekitar empat sampai lima hari, baru di perbolehkan pulang. Kenapa? apa kamu mau pulang duluan?''


''Tidak, aku hanya bertanya, aku akan pulang bersama dengan kalian, lagi pula kasian kamu kalau harus menjaga Naura sendirian, Naura juga pasti mencari aku nanti, kalau aku tidak ada di sini.''


''Apa tidak apa-apa? toko'mu nanti bagaimana kalau kamu tidak ada?''


''Baiklah, terima kasih karena telah mau menemani aku di sini, dan menjaga Naura,'' Briel menatap wajah Jasmine, menatap dengan tatapan penuh cinta.


''Sama-sama, mas,'' Jasmine tersenyum kembali menatap wajah calon suaminya.


***


Nyonya Maurin sudah di pindahkan ke ruang perawatan setelah selesai mendapatkan operasi, dia di temani oleh suaminya Tuan Richard.


''Pah...''


''Kamu sudah siuman?''


''Iya, Pah.''


''Bagaimana perasaan'mu? apakah perutmu masih terasa sakit?''


''Tidak, hanya permukaan perut ku saja yang terasa sedikit perih,'' jawab Nyonya Maurin, sedikit meringis.


''Nanti juga rasa sakit'nya hilang, kamu sabar dulu ya.''

__ADS_1


Maurin mengangguk.


''Pah, tadi aku bertemu dengan seorang gadis kecil yang akan menjalani operasi dengan aku, wajahnya sangat mirip dengan Almarhumah kak Lydia, sangat mirip, sejenak aku berfikir, mungkin saja itu adalah Lili, keponakan'ku,'' lirih Maurin pelan.


''O ya? tapi rasanya tidak mungkin dia tiba-tiba muncul di sini, apalagi menjalani operasi yang sama dengan kamu,'' Richard sedikit termenung.


''Mungkin saja, Pah. Kalau tidak, mengapa wajah dari gadis itu sangat mirip dengan kak Lydia?''


''Sudah tidak usah di terlalu di fikirkan, sekarang kamu pokus saja dengan pemulihan kondisi'mu, aku yakin suatu saat nanti kita pasti akan bertemu dengan Lili,'' Richard mengelus punggung tangan istrinya mencoba menenangkan.


''Iya, mas. Aku sungguh berharap, dan tidak akan pernah berhenti berharap, semoga saja, Lili masih hidup dan dalam keadaan sehat,'' Maurin menatap wajah suaminya.


***


Adzan Maghrib berkumandang, Gabriel pun bergegas berjalan menuju mushola yang masih berada di Area Rumah Sakit, sementara Jasmine menunggu giliran karena tidak mungkin mereka pergi bersamaan ke mushola sementara Naura tidak ada yang berjaga.


Selesai sholat, Gabriel pun duduk di taman, memandang langit malam seraya mengeluarkan sebungkus rokok dan menyalakannya.


Briel menghembuskan asap rokok ke udara, dengan tatapan mengarah ke langit yang terlihat gelap tanpa satupun bintang apalagi bulan, pandangan'nya seperti menatap kosong dengan pikiran seolah melayang entah kemana.


Selesai menyesap satu batang rokok, dia pun bangkit dan berdiri hendak kembali ke dalam, karena Jasmine calon istrinya pasti sedang menunggu dirinya untuk menunaikan sholat Maghrib di mushola.


Dia pun berjalan meninggalkan taman, langkahnya terlihat gontai dengan raut wajah datar. Ketika kakinya baru saja akan memasuki pintu Rumah Sakit, tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan terkejut seketika, saat mendengar suara seorang wanita yang memanggil nama'nya.


''Gabriel...! itu kamu kan?''


Briel menoleh dan terkejut seketika, menatap wajah wanita yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.


*****


*Jangan lupa


Like


komen


vote


hadiah


Terima kasih Reader ❤️💓💓*


****

__ADS_1


__ADS_2