TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Memendam Kerinduan


__ADS_3

Richard berlari keluar dari Rumah sakit, berharap bahwa yang di lihat oleh istrinya benar-benar Lily, anak yang selama ini dia cari, namun ternyata setelah dia berada diparkiran Rumah sakit, dia lupa bahwa dia sama sekali tidak tahu seperti apa wajah gadis yang di maksud oleh istrinya tersebut.


Alhasil dia pun kebingungan, mencari di antara banyaknya orang yang sedang berlalu lalang.


'Dasar bodoh, mana mungkin aku bisa menemukan anak itu, sementara aku sendiri tidak tahu seperti apa wajahnya.'


Richard menggerutu kesal.


Dia pun kembali berjalan ke dalam, dengan perasaan kesal, angan nya untuk segera menemukan anak itu kembali pudar, dia ingin segera menemukan anak itu agar bisa segera mengambil alih harta warisan milik Kaka iparnya, dengan alasan perwalian.


Memang itulah yang menjadi alasan dia menyuruh bos Alberto membunuh kedua kakak iparnya, agar bisa menguasai harta kekayaan yang berlimpah yang bukan menjadi milik'nya.


Namun karena almarhum kakaknya memiliki seorang anak yang ikut hilang setelah pembunuhan itu, maka harta yang harusnya menjadi miliknya seutuhnya belum bisa dia kuasai, karena tertulis jelas di surat wasiat bahwa, seluruh harta itu akan menjadi milik putri satu-satunya dari kakaknya tersebut.


Kecuali jika anak itu di ketemukan dan mau menandatangi surat pengalihan, barulah harta melimpah yang tidak akan pernah habis tujuh turunan itu benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.


***


Sementara itu, Gabriel berada di depan Rumah sakit, bersembunyi di antara riuhnya orang yang sedang berlalu lalang, meski keadaannya belum pulih benar, dan luka di wajahnya belum juga mengering, bahkan berjalan pun masih sedikit kesakitan, namun tidak menghalangi niatnya, untuk datang ke sana, melihat dari kejauhan, dua orang yang sangat dia cintai, yaitu, putri nya dan calon istrinya.


Briel tampak mengenakan jaket hitam miliknya, serta topi dan masker yang menutupi separuh wajahnya, agar tidak ada yang bisa mengenalinya.


Dia memperhatikan Jasmine yang sedang berjalan menuju mobil Tania dengan menggendong Naura serta Tania yang berjalan di depannya.


'Maafkan papa ya, nak. Papa tidak bisa menemani'mu, papa janjiku, jika luka papa sudah sembuh semua, papa akan segera pulang, dan menemani kalian berdua,' (Gumam Briel, menatap sendu dari kejauhan.)


Naura yang seperti merasakan kehadiran ayahnya, menoleh ke tempat dimana Briel berada, dan Briel pun dengan segera menyembunyikan tubuhnya, bersembunyi di balik mobil yang sedang terparkir, dengan tangan yang menutup mulutnya, menahan kesedihan.


''Bu, sepertinya Naura melihat papa.''


''O, ya? dimana?'' Jasmine tersenyum senang melihat ke sekitar, berharap bahwa yang di lihat Naura benar-benar ayahnya.


''Tadi sepertinya ada di sana?'' Naura menunjuk ke arah dimana Briel bersembunyi.

__ADS_1


''Tidak mungkin, sayang. Papa kamu sedang tidak berada di kota ini, kamu pasti salah lihat,'' Tania menyela.


''Apakah begitu? mungkin karena aku sangat merindukan papa, jadi aku merasa kalau papa sedang ada di sini, memperhatikan kita,'' jawab Naura, menunduk sedih.


''Masuk, yu, sayang. Kita berangkat sekarang,'' Tania membuka pintu mobil.


''Terima kasih, Tan,'' ucap Jasmine lalu masuk ke dalam mobil.


Tania kembali menutup pintu mobil, lalu melihat ke sekeliling, memastikan apakah yang di lihat oleh Naura benar-benar ayahnya, dan benar saja Tania melihat punggung Gabriel, bersembunyi di balik mobil yang terletak tidak jauh dari tempat'nya berdiri sekarang.


'Dasar pengecut, kamu hanya bisa bersembunyi dan melihat putrimu dari kejauhan' ( batin Tania berucap)


Dia pun segera masuk ke dalam mobil, hatinya seolah ikut merasakan pilu, melihat dua orang yang tidak punya hubungan darah sedikitpun saling memendam kerinduan.


Sementara itu, Gabriel menatap mobil yang di kendarai Tania mulai berjalan, melaju pelan di parkiran, hingga akhirnya melesat di jalanan.


Hatinya bagai teriris, harus berpisah dengan putri yang selama ini di rawatnya dengan sepenuh hati dan limpahan kasih sayang, sungguh Gabriel bagai merasakan patah hati yang sangat dalam.


***


Setelah menempuh perjalanan selama hampir setengah hari, akhirnya mobil yang di kendarai Tania sampai di tempat tujuan, Jasmine meminta Tania untuk mengantarkan dirinya ke rumah orang tuannya, bukan ke rumah yang selama ini di tempati oleh Naura bersama ayahnya.


Dia berencana akan membawa Naura tinggal bersamanya sampai Gabriel benar-benar kembali. Mobil pun mulai melipir di halaman, berjalan perlahan hingga mobil pun akhirnya berhenti.


Ibunda Jasmine yang sedang menyapu halaman pun segera menghampiri saat pintu mobil tersebut mulai terbuka, dan Jasmine berserta Naura keluar dari dalamnya, berjalan menghampiri di ikuti oleh Tania di belakangnya.


Ibu merasa heran karena tidak melihat calon menantunya bersama mereka, dengan wajah senang namun menyimpan tanda tanya, Ibu pun menyambut kedatangan putri'nya.


''Kalian sudah pulang? bagaimana keadaan kamu, sayang?'' ibu bertanya.


Jasmine menyalami lengan Ibunya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan ibunya tersebut.


''Alhamdulillah operasinya lancar, Bu,'' jawab Jasmine.

__ADS_1


''Syukurlah...'' ibu menarik napas lega.


''O, ya, Bu. perkenalkan ini Tania, teman aku.''


''Saya Tania, Bu,'' Tania menyalami ibunda Jasmine.


''Mari, silahkan masuk, kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh,'' ibu mempersilakan mereka masuk.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, Tania duduk di kursi ruang Tamu, sementara Jasmine segera membawa Naura ke dalam kamar untuk beristirahat.


''Terima kasih ya, nak Tania. Karena telah mengantarkan putri ibu pulang ke rumah dengan selamat, sebentar ya, ibu ambilkan teh hangat untuk untuk kamu.''


''Terima kasih, Bu.''


Tania menatap wajah teduh ibu, yang terlihat anggun dengan kerudung panjang yang menutupi hampir seluruh badan.


Dia berfikir, Jasmine sungguh beruntung memiliki orang tua yang baik, dan tentu saja hanya dengan melihat sekilas saja, keluarganya pasti berasal dari keluarga yang mengerti tentang agama, sungguh jauh berbeda dengan keluarga dirinya, memiliki banyak harta, namun jauh dari agama.


Andai saja dia juga di besarkan oleh keluarga seperti itu, mungkin sekarang hidupnya tidak akan hilang arah seperti sekarang.


*****


*Jangan lupa


Like


komen


vote


hadiah


terima kasih reader ❤️💓💓*

__ADS_1


__ADS_2