
Setelah menatap kepergian Tania, Jasmine pun masuk kembali ke dalam kamar, namun, sebelumnya dia pun merapihkan terlebih dahulu kerudung berwarna putih yang dia pakai, seraya mengusap air mata yang masih tersisa di pelupuk mata.
Jasmine menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, mencoba menata terlebih dahulu perasaan'nya yang sempat sedikit kacau, mencoba tersenyum menyembunyikan kekecewaan yang saat ini sedang dia rasakan.
Ceklek
Jasmine membuka pintu secara perlahan, di lihatnya Naura yang sudah dalam posisi duduk bersandar bantal di belakang punggungnya.
''Apakah Tante Tania sudah pulang?'' tanya Naura dengan tatapan sayu.
''Iya, sayang. Katanya Nanti juga dia kembali lagi kesini,'' jawab Jasmine duduk di tepi ranjang.
''Tante Jasmine itu temannya papa ya, bu?''
Jasmine mengangguk.
''Bisa nggak Ibu titip pesan sama tante Tania, kalau ketemu Papa suruh dia cepat ke sini,'' pinta Naura dengan tatapan mata sayu penuh dengan kesedihan.
''Iya, sayang. Tadi ibu juga sudah bilang seperti itu sama tante Tania, dan katanya dia akan menyampaikan pesan ibu kepada papa, jadi kamu tidak usah khawatir, ya. Kamu harus cepat sembuh biar papa tidak sedih lagi.''
''Baik, bu. Aku percaya papa akan segera kembali, karena papa sayang sama aku dan tidak pernah sedikitpun meninggalkan aku.''
''Iya sayang ibu juga percaya sama papa kamu.''
Jasmine meraih tubuh kecil Naura, lalu memeluknya dengan sangat lembut didalam dekapannya, dia pun mengusap rambut panjang Naura lalu mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
***
__ADS_1
Gabriel bangkit lalu duduk di atas pembaringan, telinganya mendengar suara adzan ashar dan membuat hatinya merasa tenang, dia pun menurunkan kakinya dari atas ranjang hendak berdiri dan berjalan ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu.
Rasa sakit yang dia rasakan di sekujur tubuhnya tidak menghalanginya untuk menunaikan shalat, selain merupakan kewajiban baginya yang merupakan seorang muslim, dia juga ingin memanjatkan syukur yang tidak terkira, karena masih di beri kesempatan untuk bernafas dan menjalani kehidupan oleh Allah.
Dengan tertatih-tatih akhirnya dia pun sampai di kamar mandi, berwudhu, setelah itu dia pun berjalan kembali ke dalam kamar.
Tania baru saja pulang, dia memanggil nama Gabriel berkali-kali namun tidak ada jawaban, merasa panik, dia pun berlari ke dalam kamar, dengan perasaan yang sedikit berdebar.
Namun hatinya terhenyak seketika saat masuk ke dalam kamar, ternyata orang yang tadi dia panggil sedang melaksanakan Sholah Ashar, Tania menatap punggung briel yang terlihat sedang bersujud dengan begitu khusuknya, hingga dia pun mengakhiri sujud'nya dan melakukan Tahiat akhir. Tidak lama kemudian Briel pun mengakhiri sholatnya.
Wajah Tania di selimuti rasa kagum yang tak terkira, ternyata ini yang membuat wajah mantan kekasihnya tersebut terlihat bercahaya dan memiliki aura yang berbeda, ternyata Gabriel bersungguh-sungguh dalam bertobat, membuat hati Tania kembali bergetar tatkala melihat wajah tampan nan bercahaya milik pria yang pernah mengisi hari-hari'nya.
Namun, dia membuang jauh getaran dalam hatinya itu, mengingat bahwa Gabriel telah memiliki tambatan hati lain yang sebentar lagi akan segera di nikahi'nya, dan dia sendiri mengenal wanita tersebut, gadis berhijab dan juga Sholeha, jauh berbeda dengan dirinya yang hanya wanita yang berlumuran dosa.
Briel berdiri lalu merapikan sajadah yang membentang, dia pun berbalik dan terkejut ternyata Tania sudah berada di luar kamar dan sedang menatap dirinya.
''Kamu sudah pulang?''
Tania mengangguk lalu duduk.
''Bagaimana keadaan putriku?''
''Dia menangis mencarimu,'' jawab Tania datar, mencoba menyembunyikan getaran di dalam hatinya.
''O, ya?'' Briel tertunduk merasa bersalah.
''Andai saja, kau mau aku ajak ke Rumah Sakit, mungkin lukamu akan cepat pulih, jika di biarkan seperti ini, akan membutuhkan waktu lama untuk kamu benar-benar sehat kembali.''
__ADS_1
Gabriel hanya terdiam, memang yang baru saja di katakan oleh mantan kekasihnya tersebut salah benar.
''Kasihan Naura, dan juga calon istri'mu, aku sungguh tidak tega melihatnya,'' ucap Tania kemudian.
''Bisakah kamu membelikan dua ponsel untuk'ku dan putriku? agar aku bisa berkirim kabar dengannya maaf karena aku sudah sangat merepotkan kami, aku sungguh merasa malu, tapi sebenarnya aku punya banyak uang, tapi uang'ku ada di ATM yang aku berikan kepada Jasmine.''
''Dasar bodoh,'' Tania bergumam.
'Sebegitu besarnya rasa cintamu kepada gadis berhijab itu, hingga kau pun menyerahkan semua uang yang kau punya kepada'nya?' (Gumam Tania)
''Baiklah, tapi ingat, aku tidak memberikannya secara cuma-cuma, kau harus menggantinya dua kali lipat, nanti.''
''Iya, baik. Terima kasih,'' Briel tersenyum.
Tidak lama kemudian, pintu kediaman Tania pun di ketuk, dan terdengar suara laki-laki memanggil nama Tania.
Gabriel terkejut seketika, begitu pun dengan Tania, keduanya saling melayangkan tatapan, dengan jantung yang berdetak kencang.
*****
*jangan lupa
Like
komen
vote
__ADS_1
Hadiah
Terima kasih Reader ❤️💓💓*