TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Di Tolak Berkali-kali


__ADS_3

''Ilham...?'' Jasmine menatap pria yang sedang berdiri di depan pintu, dirinya sungguh terkejut, mendapati Ilham yang merupakan putra dari juragan sapi, salah satu orang terkaya di kota'nya berkunjung pagi-pagi ke rumah dirinya.


''Assalammualaikum... Jasmine...'' Ilham mengucap salam, dengan bibir yang terlihat tersenyum.


''Wa-waalaikumsalam...'' Jasmine menjawab salam dengan suara yang sedikit terbata-bata.


''Ada apa pagi-pagi datang kemari?'' tanya Jasmine datar.


''Kenapa? apa tidak boleh aku datang mengunjungi'mu?'' tanya pria tersebut.


Jasmine hanya terdiam, masih berdiri di depan pintu.


''Apa aku boleh masuk, dari tadi kamu belum mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam?''


''Kita bicara di luar saja ya, ibu dan bapak sedang tidak ada di rumah, tidak enak apabila kita hanya berdua di dalam rumah, takut ada fitnah,'' jawab Jasmine keluar dari dalam rumahnya.


''Oh, baiklah kalau memang itu mau'mu.''


Jasmine duduk di kursi yang berada di teras rumahnya, matanya tampak menatap lurus ke depan, memandang tepat ke arah rumah calon suaminya, dirinya takut suaminya tersebut melihat dan salah paham nantinya dan Laki-laki yang bernama Ilham itu pun mengikutinya yang juga duduk di kursi di teras rumah, tepat di samping kursi yang di duduki oleh Jasmine.


''Ada apa ya? jika ada yang ingin di bicarakan kita bisa bicara di sini saja,'' tanya Jasmine.


''Bagaimana kabarmu, Jasmine?''


''Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, aku baik- saja,'' jawab Jasmine dengan pandangan yang masih menatap lurus ke depan.


''Syukurlah...'' Ilham menatap wajah anggun gadis yang berada di sampingnya, masih terlihat sangat cantik meski hanya memakai pakaian rumahan biasa dengan berbalut kerudung berwarna toska yang menutupi seluruh dadanya menjuntai menjuntai sampai ke pinggang.


''Eu... ibu dan bapak, bagaimana kabar mereka?''


''Alhamdulillah, mereka juga baik-baik saja,'' jawab Jasmine datar.

__ADS_1


Ilham pun menatap jari manis Jasmine yang nampak sudah terdapat cincin yang melingkar, tersemat dengan sangat manisnya, membuat hati laki-laki yang sudah lama memendam perasaan terhadap gadis itu pun bertanya-tanya.


''Maaf, apabila aku boleh bertanya, cincin apakah itu?'' dengan menunjuk jarinya seraya menatap ke arah jemari lentik Jasmine.


''Ini...'' Jasmine menoleh dan meraba jemarinya.


Laki-laki itu pun mengangguk.


Belum sempat Jasmine menjawab, tiba-tiba terdengar suara Naura dari dalam rumah, memanggil dirinya dengan sebutan ibu.


''Ibu...! ibu dimana?''


Ilham terkejut seketika, mendengar suara gadis kecil tersebut, sampai akhirnya Naura pun keluar dari dalam rumah, dengan tangan yang mengusap kedua matanya.


''Sayang...! kamu sudah bangun?'' Jasmine berjalan menghampiri dan menggendong tubuh Naura.


'Ibu...?'


Ilham bertanya-tanya dalam hatinya, mereka tidak bertemu hanya setahun saja, tapi mengapa sudah ada seorang anak perempuan yang memanggil Jasmine dengan sebutan 'ibu'. Hati Ilham di buat pilu seketika, karena harapannya serasa pupus dan penantiannya selama ini serasa sia-sia.


''Dia, calon anak sambung'ku,'' jawab Jasmine, menatap wajah Naura dengan tangan yang mengusap lalu merapikan rambut panjang'nya.


''Calon anak sambung?'' Ilham pun membelalakan bola matanya.


Jasmine mengangguk.


''Sebentar lagi aku akan segera menikah, jadi berhentilah berharap kepada'ku, dan cobalah untuk mencintai wanita lain, karena aku tidak akan pernah membalas cintamu,'' jawab Jasmine jujur.


Ilham menunduk merasa sedih, perasaannya terasa dicabikcabik karena telah di tolak untuk yang kesekian kalinya, oleh Jasmine, wanita yang selama ini di cintai'nya.


Dirinya sudah menghabiskan waktu cukup lama, menunggu dan tetap bersabar menanti jawaban yang ternyata apa yang dia dengar selalu sama, di tolak, dan tolak lagi seperti saat ini.

__ADS_1


Apa yang kurang dari dirinya? mengapa gadis ini sulit sekali menerima cintanya? dan bahkan sekarang, Jasmine sudah di lamar oleh seorang pria beranak satu, yang bahkan tidak jelas identitasnya.


''Apakah, sudah tidak ada harapan untuk aku lagi? apakah kamu tahu berapa lama waktu yang aku habiskan untuk menunggu jawaban darimu? membalas cintaku yang telah bertahun-tahun bersemayam di dalam m hati'ku,'' lirih Ilham menahan kesedihan.


''Aku mohon maaf, karena jawaban ku selalu sama,'' Jasmine menunduk, memeluk tubuh Naura di dalam pelukannya.


''Apa kelebihan pria itu di bandingkan aku yang berasal dari keluarga kaya, tampan, dan juga berpendidikan tinggi?'' Ilham sedikit menaikan suaranya.


''Sekali lagi aku minta maaf, dan sebaiknya kamu segera pulang, aku tidak mau semakin menyakiti hatimu, Ilham.''


''Heuh... kamu telah menyianyia'kan aku demi duda beranak satu itu, aku harap kamu menyesal nantinya,'' Ilham terlihat geram menahan rasa kecewa, dia berdiri dan hendak pergi.


''Aku tidak akan pernah menyesali keputusan'ku, pria yang menjadi pelabuhan hatiku adalah pria yang baik, dan aku mencintai'nya, perasaan yang sama sekali tidak aku rasakan kepada'mu, aku berharap kamu dapat menemukan wanita lain yang juga dapat membalas cintamu, berbahagia dengan wanita yang juga mencintaimu, sesuatu yang tidak dapat aku berikan pada'mu, Ilham. Jadi aku mohon berbesar hatilah, dan jangan menyimpan dendam padaku, karena aku tidak mau ada dendam di antara kita.''


Ilham mengurungkan langkahnya, memutar kepala menoleh ke arah Naura dan menatap wajah Jasmine dengan raut wajah yang terlihat sangat kecewa.


''Aki tidak tahu, aku tidak sekarang dada itu,'' ucapnya singkat.


Baru saja hendak melangkah, Ilham melihat sosok pria tampan, bertubuh tinggi dan berbadan tegap juga gagah, berjalan ke arah mereka, dia bisa menebak jika pria ini adalah ayah dari gadis kecil yang saat ini berada di pangkuan Jasmine, sekaligus calon suami dari wanita yang di cintai'nya.


Ilham pun berdiri mematung, menatap tubuh Gabriel yang perlahan berjalan semakin mendekat dengan menatap wajah dirinya, melayangkan tatapan penuh rasa heran, siapakah gerangan pria yang sedang berada di teras rumah calon istrinya tersebut? batin Briel bertanya.


''Assalamualaikum...'' Gabriel pun mengucap salam, saat tubuhnya sudah sangat dekat dengan teras rumah.


''Waalaikumsalam,'' Jasmine berdiri masih dengan Naura yang berada di dalam pangkuannya.


''Apakah dia adalah calon suamimu yang tadi kamu ceritakan?'' wajah Ilham memerah seperti menahan rasa amarah dan perasaan cemburu yang tiba-tiba saja memenuhi lubuk hatinya.


''Iya, perkenalkan dia Gabriel, calon suamiku, calon imam'ku,'' jawab Jasmine menatap wajah tampan Gabriel.


Briel mengulurkan lengan'nya hendak bersalaman dan berkenalan dengan Ilham, namun pria yang di ajak bersalaman terlihat menepis uluran tangan Gabriel dengan kasar seraya melayangkan tatapan tajam.

__ADS_1


''Siapa kamu sebenarnya? sepertinya wajah'mu serasa tidak asing? apakah kita pernah bertemu sebelumnya?'' ucap Ilham masih dengan tatapan tajam.


*****


__ADS_2