
''Kita pulang sekarang?'' ajak Briel melepaskan pelukan sang putri.
Naura mengangguk dengan tersenyum senang, hatinya sungguh diliputi rasa bahagia, sehingga sepanjang jalan menuju rumah pun dia terus tersenyum, dan merasa tidak sabar ingin segera sampai.
''Bagaimana kalau kita mampir dulu ke toko'nya Tante Jasmine?'' ajak Briel.
''Mau... mau... !" jawab Naura dengan tersenyum.
"Sekalian papa juga mau belanja kebutuhan bulanan."
"Iya, Pah. Aku juga ingin bertemu dengan Tante Jasmine."
Tidak lama kemudian mereka pun sampai di depan toko, Briel segera memarkir mobil tepat didepannya. Jasmine yang melihat kedatangan mereka pun segera menyambut dengan gembira, dia keluar dari dalam toko tersenyum menyambut Naura.
"Tante Jasmine...!" Naura segera berlari sesaat setelah dia keluar dari dalam mobil, menghampiri calon ibu sambungnya.
"Naura, sayang. Bagaimana sekolah kamu?'' tanya Jasmine menggendong tubuh kecil Naura.
''Sekolah'nya menyenangkan Tante, aku jadi banyak teman,'' jawab Naura dengan tersenyum.
''O ya? Nanti deh, kapan-kapan Tante anterin kamu ke sekolah, Tante ingin kenalan dengan teman-teman kamu, boleh?''
''Boleh dong, masa tidak...?'' jawab Naura masih dengan tersenyum.
''Naura, turun sayang. Kasian Tante'nya, kamu itu berat tahu,'' pinta Briel.
Naura pun menuruti ayahnya dan segera turun dari gendongan Jasmine.
''Kita duduk di dalam yu, Tante buatkan minuman dingin, kamu pasti capek,'' ajak Jasmine meraih lengan mungil Naura dan memapahnya ke dalam toko.
Sementara itu, Gabriel menatap keduanya dengan tersenyum merasa bahagia, rasanya, dirinya sudah tidak sabar untuk segera mengesahkan Jasmine menjadi istrinya, namun apalah daya, dia membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menahan keinginannya, karena dia ingin melayak'kan diri terlebih dahulu, untuk menjadi imam yang pantas untuk wanita Sholeha yang bernama Jasmine tersebut.
Gabriel mengikuti Naura dan Jasmine dari belakang, menatap punggung keduanya dengan tatapan sayang. Di dalam toko, Naura duduk di kursi yang sengaja disediakan.
''Kalian berdua silahkan teruskan ngobrol'nya, papa mau memilih belanjaan dulu ya,'' ujar Briel, dengan memilih barang yang merupakan kebutuhan dirinya dengan sang putri.
Naura pun mengangguk.
''Sayang, tunggu sebentar ya, Tante ambilkan minum dulu untuk kamu dan papah kamu,'' ucap Jasmine, kemudian melangkahkan berjalan ke belakang.
Naura kembali mengangguk sambil tersenyum. Tidak lama kemudian, Jasmine pun kembali dengan membawa dua gelas es jeruk.
''Nah, ini dia, es jeruk segar buat Naura,'' Jasmine meletakan dua gelas minuman itu di atas meja.
__ADS_1
''Makasih, Tante...!''
''Ayo, diminum dulu.''
Naura pun meraih gelas dan meneguknya perlahan.
''Gimana? segar...?'' tanya Jasmine.
''Segar banget, Tante...'' jawab Naura mengangkat satu jempolnya, lalu kembali meletakan gelas di atas meja.
''Tante...! kapan Tante akan mulai jadi ibu aku? kata papa, Tante bersedia untuk menjadi ibu sambung aku," tanya Naura dengan polosnya.
Jasmine tersenyum, merasa lucu, dia pun menatap wajah Naura dengan penuh kasih sayang, dan mengusap rambutnya yang di kepang.
"Naura, sekarang pun kamu boleh memanggil Tante dengan sebutan ibu, tante sangat senang mendengarnya, Naura juga boleh menganggap Tante sebagai ibu kamu," jawab Jasmine dengan suara yang lemah lembut.
"Benarkan Tante?" tanya Naura dengan tersenyum.
Jasmine menganggukan kepalanya.
"Terus kapan Tante pindah ke rumah kita? nanti kita tidur bertiga dengan papah," tanya'nya lagi masih dengan polosnya.
Jasmine tertawa seketika, sementara Gabriel berdehem keras mendengar ucapan Naura. Sepertinya, putri kesayangannya itu benar-benar sudah tidak sabar untuk menjadikan Jasmine sebagai ibunya.
"Naura, sayang. Begini ya, Tante jelaskan. Jika Tante mau tinggal di rumah Naura, maka Tante sama papa kamu harus menikah terlebih dahulu, jika belum menikah, Laki-Laki dan perempuan, tidak boleh tinggal bersama, bukan muhrimnya, tapi Tante janji akan sering mengunjungi kamu,'' Jasmine menjelaskan.
Naura pun turun, lalu berlari ke arah ayahnya, dia menarik lengan sang ayah, membawanya ke hadapan calon ibu sambungnya.
"Papa, cepat menikah sama Tante Jasmine,'' pinta Naura menatap wajah ayahnya dengan tatapan tajam.
Jasmine dan Gabriel pun tertawa bersama, wajah keduanya tampak memerah menahan malu sekaligus menahan lucu, Briel pun meraih tubuh putri kesayangan'nya, lalu dia pun duduk di atas kursi dengan Naura berada di dalam gendongannya.
''Naura, sayang. Dengarkan papa ya nak, papa sama Tante memang akan menikah, tapi tidak sekarang, nanti nunggu waktu yang tepat, papah harus banyak belajar dulu,'' ucap Briel mengelus punggung Naura dengan pelan.
''Belajar apa? papah kan sudah pintar. Pintar masak, mencuci baju, cuci piring, beres-beres, belanja juga pintar, apalagi yang harus di pelajari?'' Jawab Naura dengan penuh penekanan.
Jasmine memandang wajah tampan Briel, akan sangat mengagumkan jika yang katakan Naura itu sampai benar.
''O ya...? papah mu pintar masak juga?'' tanya Jasmine penasaran.
''Iya dong, apalagi masak rendang, masakan papah paling best pokoknya,'' jawab Naura mengangkat satu jempolnya dengan tersenyum.
''Wah, kalau begitu, nanti Tante mampir deh, pengen ngerasain rendang bikinan papah kamu. Boleh kan?'' Jasmine menatap wajah Briel.
__ADS_1
''Hah... eu... tentu saja boleh,'' jawab Briel merasa gugup
***
Sore hari, Gabriel memberanikan diri mengunjungi rumah Jasmine untuk bertemu dengan kedua orangtuanya, dia akan mengutarakan niatnya untuk memperdalam agama, sekaligus mengatakan bahwa dia ingin menjadikan Jasmine sebagai pendamping hidupnya.
Trok
Trok
Trok
''Assalamualaikum...'' Gabriel mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam.
''Waallaikumsalam...'' terdengar jawaban dari dalam.
Ceklek...
Wanita paruh baya dan berkerudung pun membuka pintu, wajahnya terlihat sangat anggun berbalut kerudung berwarna putih yang menjuntai panjang menutupi seluruh bagian depan tubuhnya.
''Eh, nak Gabriel...'' sapa ibunda Jasmine, menatap dan mengenali Gabriel sebagai orang yang mengontrak di rumahnya.
''Maaf, Bu. Apakah saya menganggu waktu istirahat ibu?''
''Tidak ko, mari silahkan masuk.''
''Terima kasih, Bu.''
Kemudian Gabriel pun masuk ke dalam rumah, dia duduk di kursi di ruang tamu, menatap sekeliling rumah seperti sedang mencari seseorang.
''Ada perlu apa nak Briel datang kemari? bukankah uang kontrakan tahun ini sudah di bayarkan lunas?'' tanya ibu penasaran.
''Oh, tidak, Bu. Saya kemari sengaja mau bertemu dengan ibu, dan juga Bapak, apakah beliau ada di rumah?'' tanya Briel sedikit merasa gugup.
''Bapak...? Sebentar kalau begitu, ibu panggilkan terlebih dahulu ya,'' ibu pun bangkit dan lalu berjalan menuju kamar.
Tidak lama kemudian, bapak pun keluar, seorang Laki-laki paruh baya, wajahnya terlihat berwibawa dengan rambut yang sudah hampir berwarna putih, wajahnya pun terlihat berkeriput, dengan kumis serta janggut yang terlihat sudah sedikit memutih.
''Ada apa nak Briel datang kemari,'' tanya bapak dengan suara lembut namun terdengar berwibawa.
''Eu... Anu pak, saya datang kemari untuk meminta bapak mengajari saya ilmu agama, sekaligus saya ingin melamar menjadi calon pendamping hidup untuk putri bapak, Jasmine...'' jawab Gabriel dengan nada suara yang terbata-bata.
*****
__ADS_1