TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Sepucuk Surat


__ADS_3

''Sejak kapan kau punya putri?'' Alberto menatap wajah Gabriel, kemudian dia pun meraih flash disk yang masih berada di genggaman mantan anak buahnya tersebut.


Gabriel terhenyak, dirinya merasa keceplosan, kenapa dia bisa sampai berbicara seperti itu, bisa-bisa keselamatan putrinya akan terancam jika Alberto sampai tahu tentang Naura.


''Hey, kenapa diam saja, brengsek...''


Plak...


Alberto melayangkan pukulan tepat di wajah Gabriel.


Argh...


Briel meringis kesakitan.


''Aku tidak punya putri brengsek,'' jawab Briel menatap wajah Alberto dengan tatapan tajam.


''Kamu pikir telingaku tuli, hah...''


''Tidak, sungguh, aku sama sekali tidak memiliki seorang putri, aku belum menikah sama sekali, mana mungkin aku memiliki seorang anak.''


''Kalau begitu, dia pasti anak yang kamu culik lima tahun yang lalu, betul...?''


''Tidak, bukan begitu, aku tidak tahu menahu tentang anak itu.'' jawab Briel dengan mata yang sudah terlihat memerah menahan amarah.


''Kamu tahu, siapa pasangan suami-istri yang terakhir kamu bunuh itu?''


Briel diam saja, dia memang tidak pernah bertanya tentang identitas orang yang hendak di bunuh'nya, dahulu. Dia hanya menerima tugas dan melaksanakan'nya.


''Mereka berdua adalah orang terkaya se-Asia tenggara, perusahannya bergerak di bidang batu bata, kekayaannya bahkan tidak akan habis tujuan turunan, dan kamu tahu siapa yang menyuruh'ku membunuhnya? hah...''


''Aku tidak tertarik mendengar cerita'mu, bajingan.''


''Dia adalah adik iparnya sendiri, karena perebutan harta dia terpaksa memintaku membunuh kakak iparnya, agar bisa menguasai harta kekayaan yang di miliki oleh kakaknya tersebut, namun apa? setelah kakaknya meninggal pun dia masih belum bisa mengambil alih seluruh hartanya, karena menunggu anak'nya yang hilang itu di ketemukan.''


''Apa maksud'mu? apa kau sedang mengarang cerita? sungguh cerita yang sangat mengharukan, ha... ha... ha...'' Briel masih berpura-pura bodoh.


Plak...


Alberto kembali menampar wajah Briel, merasa geram.


''Aku sudah mencari anak itu selama lima tahun, dan aku yakin anak itu ada bersama'mu, cepat katakan dimana dia.''


''Aku tidak tahu...'' Briel menaikan nada suaranya.


''Aku berjanji akan mengampuni nyawamu, asal kau mengembalikan anak itu kepada keluarganya, jika tidak aku akan membunuhmu sekarang juga,'' ancam Alberto seraya meletakan lengan di kedua sisi pipi Briel lalu menelannya.

__ADS_1


''Silahkan, bunuh saja aku, sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah mengatakan dimana dia berada, karena aku sama sekali tidak tahu dimana dia, lagipula yang menentukan hidup dan mati itu bukan kau, tapi Allah, dia maha pemilik nyawa setiap hambanya.''


''Ha... ha... ha...! sejak kapan pembunuh seperti dirimu mengenal yang namanya Tuhan? Tuhan sendiri tidak akan pernah mengampuni dosa-dosa'mu, kamu sudah membunuh banyak orang,'' jawab Alberto, menertawakan.


''Apa kamu tidak tahu bahwa Allah maha pengampun? apa kamu tidak tahu Allah maha penerima taubat setiap hambanya? apa kamu tahu Allah maha pengasih dan penyayang? Hah... tahu apa kamu tentang Allah? dari mana kamu tahu kalau taubat'ku tidak akan di ampuni? Haaah...''


Alberto merasa digurui, dan dia sangat tidak suka akan hal tersebut, alhasil dia kembali melayangkan bogem mentahnya, kali ini secara bertubi-tubi hingga Briel hampir tidak sadarkan diri.


''Baiklah, jika kamu tidak mau memberitahukan dimana anak itu berada, maka aku akan mencarinya sendiri. Kalian, cepat bawa orang ini keluar, aku muak melihat wajahnya,'' titah Alberto kepada anak buahnya yang sedari tadi terus menonton, layaknya sedang menonton pertunjukan.


''Baik, bos.''


Mereka yang hanya berjumlah dua orang langsung menyeret tubuh Briel begitu saja, meski Briel masih dalam keadaan sadar, namun tubuhnya seperti remuk, dan bahkan hampir tidak bisa di gerakan, dia pun hanya pasrah saat tubuhnya di seret begitu saja keluar dari dalam Apartemen.


Dengan bersusah payah tubuh Briel pun dibiarkan tergeletak begitu saja di halaman Apartemen.


'Naura, maafkan papa, sepertinya kita tidak akan pernah bertemu lagi, papa sungguh menyesal karena harus meninggalkan dirimu di saat kamu sedang mengalami kesakitan, maafkan papa, nak. Papa sayang kamu.'


Gabriel berucap di dalam hatinya, perasaanya sungguh terasa pilu, saat mengingat putri kesayangan'nya, kata-kata tersebut seperti ucapan terakhir kalinya sebelum dia benar-benar menutup mata.


Tiba-tiba saja lampu yang berasal dari sebuah mobil mengarah ke arah wajah Briel, dia yang hendak menutup mata pun mengurungkan niatnya, kedua matanya hanya tampak di sipit'kan, menatap seseorang yang kini berjalan mendekat seraya memanggil namanya.


''Gabriel...'' suara seorang wanita yang sangat dia kenal tiba-tiba saja terdengar.


''Ta-tania...'' lirih Briel kemudian, sebelum dia benar-benar menutup matanya.


***


Tania melajukan mobilnya dengan sangat kencang, sambil sesekali menatap tubuh Gabriel yang terbaring seperti tidak bernyawa di kursi belakang.


''Tahan sebentar lagi, kita akan segera sampai ke Rumah sakit,'' ucap Tania berbicara sendiri.


''Tidak, aku tidak mau ke Rumah sakit.''


Tania menepikan mobilnya dan menginjak rem secara mendadak. Dia merasa terkejut mendengar suara Briel sayup-sayup seperti di tahan.


''Gabriel, apakah kamu sudah siuman?'' Tania menoleh ke arah belakang, menatap wajah Gabriel yang ketampanannya kini telah tertutup oleh luka di seluruh wajahnya.


''A-ku mo-hon jangan ba-wa a-ku ke Rumah sakit,'' pinta Briel dengan suara yang tersengal-sengal.


''Tapi kamu terluka, dan lukamu cukup parah, harus segera di obati,'' jawab Tania merasa khawatir.


''Tidak, aku serahkan seluruh hidup dan mati ku kepada Allah, sang pemilik kehidupan, aku juga rela mati sekarang juga, tapi aku tidak mau melihat Naura dan calon istri'ku melihat aku dalam keadaan terluka parah seperti ini, aku mohon padamu, Tania...!''


Tania menatap wajah mantan kekasihnya dengan perasaan iba.

__ADS_1


''Baiklah, kalau itu mau'mu, aku akan membawamu ke tempat tinggal ku saja,'' jawab Tania kemudian.


''Kemana saja, asalkan bukan ke Rumah sakit,'' jawab Briel kemudian kembali terpejam.


Tania segera menancap gas, dan melaju kencang di jalanan.


***


Sudah siang hari, Jasmine masih menunggu Gabriel di Rumah sakit, dia tidak akan pernah berhenti berharap, menanti kedatangan calon suami'nya yang sudah berjanji akan segera kembali.


Saat dirinya sedang larut dalam lamunan, duduk di samping ranjang Naura yang terlihat sedang terpejam.


Tiba-tiba saja, pintu kamar di ketuk dan Tania masuk ke dalam kamar.


''Assalamualaikum...!'' Tania mengucapkan salam.


''Waalaikuksalam...'' Jasmine menoleh seraya menjawab salam.


''Jasmine...!'' sapa Tania melangkah masuk ke dalam kamar.


''Kamu...? bukankah kamu yang waktu itu berkunjung ke rumah mas Gabriel?'' tanya Jasmine melayangkan tatapan heran.


''Iya, betul, mbak...''


''Ada apa kemari?''


''Saya kemari untuk menyampaikan pesan dari calon suami mbak, Gabriel...''


Tania menyerahkan sepucuk surat yang berisikan tulisan tangan Gabriel.


*****


Jangan lupa


Like


komen


Vote


Hadiah


Terima kasih Reader ❤️❤️❤️


___---___

__ADS_1


__ADS_2