TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Sepucuk Surat


__ADS_3

Beberapa jam sebelum Tania ke Rumah Sakit.


Gabriel terbaring lemah, di atas pembaringan di kediaman Tania, di sebuah Apartemen berukuran sedang.


Tania baru saja selesai membersihkan luka yang hampir memenuhi wajah tampan Briel, dia duduk di samping pembaringan dengan menatap wajah penuh dengan lebam dan gorengan itu.


'Dasar bodoh, aku memperingati kamu agar hati-hati dengan Alberto, kenapa kamu malah datang mengantarkan nyawamu ke sana' (Gumam Tania pelan)


Tidak lama kemudian, Briel pun tampak sedikit membuka mata, mengedipkan pelupuk matanya perlahan, menyesuaikan cahaya matahari yang perlahan masuk melalui kelopak matanya.


''Gabriel...? kamu sudah bangun?'' Tania tersenyum senang.


''Dimana aku?''


''Di Apartemen'ku, kamu aman di sini, Alberto tidak akan datang ke sini, karena selama ini dia tidak tahu aku tinggal di sini,'' jawab Tania memandang wajah Briel yang perlahan membuka matanya dengan sempurna.


Briel pun berusaha bangkit, namun usahanya sia-sia, karena tubuhnya terasa remuk dan sudah untuk di gerakkan.


''Tidak usah bangun, tubuh'mu terluka parah, berbaring saja.''


''Terima kasih karena telah menolongku, jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah mati di jalan.''


''Mungkin itu hanya kebetulan saja, semalam aku hendak mengunjungi Alberto, namun tiba-tiba melihat dirimu,'' jawab Tania.


''Ya, mungkin kamu memang di utus oleh Allah untuk menolong'ku, dan belum saatnya pula untuk'ku mati hari ini,'' jawab Briel dengan wajah yang terlihat meringis kesakitan.


''Dasar bodoh. Kenapa kamu datang ke sana? Hah...? itu sama saja kamu mengantarkan nyawa kepada'nya, kalau tidak ada aku bagaimana?'' Tania terlihat kesal.


''Aku hanya ingin menyelesaikan masalah'ku dengannya, agar aku bisa menjalani hidup dengan tenang, bersama Naura dan calon istri'ku.''


''Apakah itu lebih penting dari nyawamu sendiri? bagaimana perasaan mereka sekarang, jika mereka sampai tahu keadaan kamu sekarat seperti ini?'' Tania sedikit menaikan suaranya.

__ADS_1


Gabriel hanya terdiam, menatap ke langit-langit kamar, mengingat Naura yang saat ini dalam keadaan sakit dan pasti sedang menunggu dirinya di Rumah Sakit, dan membayangkan wajah Jasmine, mengingat janjinya bahwa dia akan segera kembali ke Rumah sakit.


Perasaan pilu seketika memenuhi relung hatinya, mengingat kedua wanita yang sangat di cintai'nya.


''Tan...! maukah kau menolongku sekali lagi? aku mohon, hanya kamu orang yang bisa aku mintai pertolongan.''


''Apa? katakan saja, aku akan membantu jika memang aku bisa.''


''Tolong, pergilah ke Rumah Sakit, sampaikan pesanku kepada calon istri'ku, agar dia tidak cemas menunggu'ku. Boleh aku meminta secarik kertas? aku ingin menuliskan pesan untuk Jasmine,'' Briel menatap wajah Tania dengan tatapan mata memelas.


''Hmm...'' Tania menarik napas panjang, lalu menghembuskan'nya perlahan, dia pun bangkit dan mengambil sebuah buku kosong lengkap dengan ballpoint berwarna hitam.


****


Di Rumah Sakit


''Aku datang kemari untuk menyampaikan pesan dari calon suami'mu, Gabriel.''


Dear, Jasmine


Maaf karena aku harus pergi mendadak, aku harus menyelesaikan urusan mendesak di luar kota, aku janji sebelum hari pernikahan kita, aku pasti akan segera kembali, meminang'mu dan menjadikan dirimu istriku, aku titip Naura, katakan padanya bahwa aku pergi tidak akan lama, dan pasti akan kembali. Maaf karena aku tidak bisa menepati janjiku, untuk segera kembali ke Rumah Sakit.


Aku mencintaimu Jasmine


By. Gabriel


Jasmine menitikkan air mata seketika, ternyata pirasat'nya yang serasa berat melepas kepergian calon suaminya semalam, benar adanya.


Dia kembali melipat secarik surat tersebut dan menggenggam erat dengan jemarinya, mengusap air mata seraya terus terisak.


''Dimana mas Briel sekarang?'' tanya Jasmine menatap wajah Tania.

__ADS_1


''Dia pergi keluar kota, tapi dia berjanji akan segera kembali,'' jawab Tania terpaksa berbohong.


''Semalam juga dia berjanji seperti itu, tapi nyatanya dia tidak kembali,'' jawab Jasmine kecewa.


''Dia sangat mencintai'mu, jadi aku yakin dia tidak akan pergi lama, percayalah, Jasmine, kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuat Gabriel berubah dan menjalani hidupnya dengan benar sekarang, jadi dia tidak akan meninggalkan'mu, aku yakin itu.''


Jasmine hanya terdiam, menunduk dengan lelehan air mata yang terus mengalir dengan begitu derasnya, dia pun menoleh ke arah Naura, memandang wajah'nya, dan merasa iba, karena ayah'nya harus pergi di saat gadis kecil ini sedang membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari sang ayah.


''O, iya...! dia juga menitipkan ini untuk'mu,'' Tania menyerahkan kartu ATM milik Briel.


''Apa ini?'' Jasmine menerima dengan perasaan heran.


''Gunakan kartu ini untuk biaya Rumah Sakit Naura, dan kode sandinya adalah tanggal pernikahan kalian yang katanya akan di laksanakan bulan depan,'' ucap Tania.


Jasmine kembali terdiam, merasakan perasaan pilu yang teramat dalam, entah mengapa, hatinya di selimuti beribu pertanyaan. Dimana? sedang apa? dan Kenapa, calon suaminya melakukan hal ini kepada dirinya dan Naura?


''Ibu... papa dimana? kenapa dia tidak datang-datang? apa dia baik-baik saja? Naura takut dia kenapa-napa, hiks... hiks... hiks...''


Tiba-tiba terdengar suara Naura menangis dan mencari ayah nya.


*****


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Hadiah

__ADS_1


Terima kasih Reader ❤️💓💓💓


__ADS_2