
Meskipun Gabriel belum juga kembali, persiapan pernikahan tetap di adakan, semua itu di lakukan atas keinginan Jasmine yang meyakini bahwa calon suaminya itu pasti akan kembali.
Entah apa karena dia sangat mencintai Briel atau karena keyakinan yang merupakan sebuah firasat baginya, yakin bahwa Gabriel, Laki-laki yang menjadi pilihan hatinya tidak akan pernah mengingkari janji, janji untuk meminang dirinya, dan janji untuk segera kembali dan berkumpul bersama Naura putri yang sangat di sayangi'nya.
Hari ini, tiga hari sebelum hari pernikahan di gelar, para tetangga sudah banyak yang berkumpul di rumahnya untuk sekedar membantu mempersiapkan acara pernikahan, bahkan janur kuning pun terlihat sudah melengkung di halaman, namun yang membuat para tetangga merasa heran adalah, calon mempelai pria yang sampai saat ini belum juga datang.
Banyak dari mereka yang membicarakan hal tersebut di sela-sela kesibukan yang sedang dijalankan. Ibu-ibu yang sedang memasak di dapur tampak terdengar sedang membicarakan Gabriel.
''Kalian merasa aneh nggak sih? masa mau nikah tapi calon pengantin pria'nya tidak ada? mana tiga hari lagi akad nikah akan segera di langsungkan,'' ucap salah satu ibu.
''Iya, saya juga merasa sangat aneh, kok nak Jasmine bisa seyakin itu bahwa Gabriel akan datang di hari pernikahannya, kalau sampai dia tidak datang gimana? kan malu, sudah ramai-ramai bikin tenda biru segala tapi pengantinnya tidak datang,'' jawab ibu yang berada di depannya.
''Cantik-cantik ko bodoh ya, saya sungguh kasian sama dia.''
Tanpa mereka sadari, Jasmine sedari tadi mendengar percakapan mereka dari balik tembok, dirinya hanya bisa menelan kepedihan, dengan rasa sakit yang perlahan terasa di ulu hatinya.
'Kamu dimana, mas? Kenapa kamu belum juga datang?' (Batin Jasmine)
Dia berdiri di balik tembok, sekian lama mendengarkan para tetangga yang sedang membicarakan dirinya, sungguh Jasmine merasa di rundung nestapa, dia hanya beristigfar di dalam hatinya, meminta kesabaran serta di lancarkan segala urusan yang sekarang sedang di hadapi'nya.
Sementara itu. Naura yang sebenarnya merasa senang karena kedua orang yang di sayangi akan segera bersanding di pelaminan, merasa tertekan apabila mengingat bahwa ayahnya sampai saat ini belum juga kembali. Dia takut jika pernikahan kedua orangtuanya akan gagal. Hati gadis kecil itu pun di rundung rasa pilu yang teramat dalam.
Keceriaan yang selalu di tunjukan oleh gadis cantik berambut panjang itu kini sirna, merasakan kerinduan yang teramat dalam terhadap ayahnya.
***
Gabriel sudah bersiap untuk pulang, dia merasa bahwa luka di tubuhnya sudah berangsur pulih, serta lebam di wajahnya pun perlahan hilang, dia pun berjalan keluar dari dalam Apartemen Tania dengan perasaan senang, sampai tiba-tiba Alberto berjalan tepat di hadapannya, dan membuat Briel sontak berbalik badan berlari ke belakang.
__ADS_1
Alberto yang di temani oleh beberapa anak buahnya pun terlihat mengejar, dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Gabriel, dia berfikir bahwa mantan anak buahnya tersebut telah meninggal, mengingat bahwa terakhir kali dia telah memukulinya habis-habisan.
''Cepat kejar dia,'' teriak Alberto kepada anak buahnya.
Gabriel yang mendengar teriakan itu segera berlari kencang, bukan karena dia takut, tapi karena dia harus menjaga tubuhnya agar tidak terluka kembali. Demi memenuhi janji kepada gadis pujaan hatinya yang akan segera dia pinang.
Dari terus berlari, menyusuri parkiran mobil, lalu bersembunyi di balik mobil berwarna hitam, dadanya tampak naik turun menahan rasa berdebar.
''Gabriel... Dimana kamu?'' teriak Alberto yang mengetahui bahwa orang yang sedang di carinya bersembunyi di antara mobil yang sedang terparkir.
Briel terdiam, membungkuk dengan napas yang seperti di tahan.
'Ya Allah lindungilah hamba'mu ini'' (Batin Briel).
''Cepat cari dia,'' Alberto kembali berteriak.
''Baik, bos.''
''Di sini kamu rupanya, pengkhianat,'' ucap nya.
Buk
Bak
Plak
Briel segera melayangkan pukulan, tinjunya tepat mengenai wajah pria tersebut, tak mau kalah pria itu menendang perut Briel hingga diri'nya pun meringis kesakitan.
__ADS_1
Kemudian Gabriel pun kembali melayangkan pukulan ke arah perut pria tersebut, dan pria itu meringis kesakitan dan menundukkan kepalanya dengan kedua tangan memegangi perutnya yang terasa sakit, tak hanya itu Briel pun menendang wajahnya yang sedang menunduk tersebut, alhasil pria itu pun kini tersungkur tak berdaya.
Mendengar salah satu anak buahnya yang meringis kesakitan, Alberto pun segera mencari sumber suara, dan saat dia sampai di sana anak buahnya tersebut sudah terbaring tak berdaya di atas lantai.
''Brengsek... Cepat cari si Gabriel itu sampai dapat, hidup atau mati...'' Teriak Alberto dengan perasaan kesal dan tangan yang di kepalkan.
Kemudian dia memeriksa denyut nadi anak buahnya itu, dan dia pun dapat bernapas lega ketika mendapati bahwa denyut nadinya masih terasa di dalam sana.
Sementara itu, Gabriel sebenarnya bersembunyi sangat dekat dengan tempat Alberto dan anak buahnya berada, dia berbaring di bawah mobil yang terparkir tepat di samping Alberto berdiri.
Dengan napas yang diatur sehalus mungkin, dan dengan mulut yang di tutup oleh kedua tangannya, Briel menatap setiap pijakan kaki Alberto yang di balut dengan sepatu berwarna hitam, yang berada tepat di samping kepalanya.
''Awas kamu Gabriel, kalau sampai ketemu, aku gak akan lagi mengampuni nyawamu, akan aku habisi kamu sekarang juga.'' Suara Alberto terdengar sangat lantang.
Mendengar perkataan tersebut, tubuh Gabriel terasa bergetar, untuk sesaat, dia tiba-tiba saja mengingat kedua orang yang sangat di cintai'nya dan pasti sedang menunggu kepulangan diri'nya.
'Ya Allah, lindungilah hamba'mu ini... hamba serahkan hidup dan mati ku padamu ya Allah... ya Rokhman... ya Rohim... sang pemilik kehidupan...'
Briel memanjatkan doa, di sela-sela napasnya yang terlihat tersengal-sengal.
Sepertinya, doa Gabriel pun di dengar oleh Allah, tiba-tiba saja terdengar suara sirine polisi dari kejauhan, Alberto dan anak buahnya sontak berlari dan segera masuk ke dalam mobil dan langsung kabur dari tempat itu seketika juga.
Setelah mobil Alberto berjalan menjauh dari parkiran, Briel pun segera keluar dari tempat persembunyian. Dia pun berdiri tepat di samping mobil tersebut. Dia pun tak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah karena doanya di dengar dan di kabulkan seketika itu juga.
Sebelum melanjutkan niatnya untuk pulang, dia pun mencoba menenangkan perasaan'nya terlebih dahulu, mengatur napas nya yang sempat berhembus tidak beraturan, dan mengontrol detak jantung yang sempat berdetak dengan sangat kencang.
Setelah perasaan'nya sudah merasa tenang, dia pun kembali melangkah'kan kakinya, sampai tiba-tiba terdengar suara pria yang memanggil dirinya dengan suara yang sangat lantang.
__ADS_1
''DI SINI RUPANYA KAMU GABRIEL...''
*****