
Naura pun di bawa ke ruang operasi, dan Nyonya Maurin menatap kepergian gadis cantik itu dengan tatapan penuh rasa iba, entah mengapa seperti ada getaran berbeda yang dia rasakan saat berada di dekat gadis kecil yang sama sekali tidak dia kenal tersebut.
Apa mungkin karena dirinya sama sekali tidak memiliki seorang keturunan? sehingga melihat keadaan Naura seolah membangunkan Naluri nya sebagai seorang ibu.
Tanpa dia sadari bahwa Naura sebenarnya adalah Lili, keponakan yang selama ini dia cari. Nyonya Maurin sama sekali tidak menyadari hal itu, hanya batinnya saja yang dapat merasakan ikatan dan perasaan yang berbeda.
Setelah menunggu selama satu jam, akhirnya Naura pun keluar dari ruang operasi dan kembali ke tempat pemulihan, setelah menunggu, akhirnya kini giliran Nyonya Maurin yang mendapatkan tindakan operasi.
Perawat hendak membawa Nyonya Maurin ke dalam ruang operasi, namun wanita tersebut menatap wajah Naura terlebih dahulu yang terlihat masih terpejam karena efek obat bius yang masih belum hilang.
Melihat wajah gadis kecil yang sedang terpejam itu, seolah mengingatkannya kepada Almarhumah Kakaknya yang kini telah tiada, entah mengapa bentuk wajahnya terlihat begitu mirip dengan bentuk bibir yang bahkan terlihat sama persis.
''Kak Lydia...?'' (Batin Nyonya Maurin berucap)
Matanya bahkan tidak luput dalam memandangi wajah Naura, saat ranjang tempat'nya berbaring mulai berjalan melewati tubuh kecil itu, andai saja mereka bukan bertemu di tempat yang salah, mungkin saja Nyonya Maurin akan bertanya, tentang, nama, alamat, nama orang tua dan lain sebagainya, yang mungkin saja salah satunya dari jawaban yang akan di berikan oleh anak kecil itu adalah sebuah petunjuk bagi dirinya.
Namun sayang, mereka bertemu di waktu dan tempat yang tidak tepat, sehingga Nyonya Maurin hanya bisa menelan rasa penasaran tanpa bisa menanyakan.
Tidak lama kemudian, Gabriel masuk ke dalam ruang pemulihan, dia segera menghampiri Naura yang masih dalam keadaan memejamkan mata tidak sadarkan diri.
Hati Briel sungguh di rundung rasa sedih dan duka yang mendalam, melihat putri kesayangan'nya dalam keadaan tidak sadar, tanpa terasa buliran bening pun mulai turun membasahi pipinya, dirinya sungguh tidak tahan lagi untuk menyembunyikan gejolak rasa yang kini memenuhi relung jiwanya.
''Naura, sayang. Hiks... hiks... hiks...'' Briel berdiri di samping ranjang, meraih jemari sang putri dan mengecupnya perlahan.
Seharusnya ia merasa senang karena operasi berjalan sangat lancar tanpa satu hambatan, namun, entah mengapa dirinya sungguh tidak kuasa jika harus melihat Naura putri yang sangat di sayangi'nya terpejam seperti orang yang tidak bernyawa.
30 menit kemudian Naura pun dibawa kembali ke ruang perawatan, meski kesadarannya belum pulih sepenuhnya, namun dia sudah mulai bisa membuka matanya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
Jasmine dan Gabriel selalu setia menemani sang putri, mereka berdua tidak beranjak sedikitpun dari samping Naura, sampai akhirnya perut keduanya berbunyi merasa lapar.
''Eu... Sebaiknya aku pergi beli makanan dulu ya, sepertinya dari pagi kamu belum makan,'' ucap Briel.
Jasmine mengangguk lalu tersenyum.
''Tolong jaga Naura sebentar, ya.''
Jasmine kembali mengangguk.
Briel pun keluar dari ruangan dan berjalan menuju kantin yang terletak di luar Rumah Sakit.Karean Briel berjalan dengan sedikit berburu-buru akhirnya di lorong menuju kantin, dia pun tidak sengaja menabrak seorang pria bertubuh besar dan juga tinggi.
Bruk
''Maaf, om. Saya tidak sengaja,'' ucap Briel membungkukkan tubuhnya.
''Permisi, om. Sekali lagi saya mohon maaf,'' Briel kembali meminta maaf sebelum dia kembali berjalan.
Keduanya pun kembali meneruskan langkah masing-masing, baru saja beberapa langkah maju ke depan, tiba-tiba saja mata Briel di kejutkan dengan penampakan dompet tebal berwarna coklat yang tergeletak begitu saja di atas lantai, tanpa berfikir panjang dia pun meraihnya.
Merasa penasaran, Briel pun membuka dompet itu untuk melihat identitas dan berniat akan mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya, dan siapa sangka setelah dia melihat Kartu Pengenal, ternyata pemilik dompet itu adalah pria yang baru saja berpapasan dan tidak sengaja tertabrak oleh'nya.
Gabriel pun memutar badan dan melihat ke sekitar mencari keberadaan orang tersebut, namun ternyata orang itu sudah menghilang entah kemana, Briel kembali menatap Kartu Identitas Penduduk yang masih di pegang'nya, lalu membaca nama yang tertera, dan ternyata pemilik dompet itu adalah Tuan Richard, suami dari Nyonya Maurin.
''Kemana dia pergi? tadi aku lihat dia berjalan ke arah sana,'' (batin Gabriel berucap)
Karena ingin segera mengembalikan dompet tersebut, akhirnya dia pun memutuskan untuk mencari orang yang bernama Richard, dan berjalan ke arah yang sama dengan pria tersebut sebelum dia benar-benar menghilang tadi.
__ADS_1
Briel berjalan ke sana kemari, menyusuri lorong Rumah Sakit mencari Richard, dia bahkan melupakan tujuan awalnya yang semula akan membeli makanan ke kantin.
Dan akhirnya Setelah sekian lama mencari Richard pun akhirnya terlihat oleh mata Gabriel, pria tersebut sedang berdiri di depan Apotek Rumah Sakit sambil merogoh saku celananya, wajahnya terlihat terheran-heran karena dompet yang tadi berada di dalam saku celananya sekarang sudah tidak ada.
Briel menyadari bahwa Richard pasti sedang mencari dompet yang saat ini sedang berada di dalam genggamannya, dirinya pun segera menghampiri dan memanggil namanya.
''Richard...'' teriak Gabriel seraya melambaikan tangan'nya.
Richard pun menoleh merasa heran, darimana orang tersebut mengetahui namanya? namun setelah Gabriel berjalan semakin mendekat akhirnya Richard pun dapat mengenali wajah Gabriel sebagai orang yang baru saja berpapasan dengan dirinya dan tidak sengaja menabrak tubuhnya.
''Apakah anda mencari ini?'' Gabriel segera menyodorkan dompet berwarna coklat yang tadi dia temukan.
''Iya betul, ini dompet saya? Di mana kamu menemukannya?'' Richard meraih dompet tersebut dan melihat isinya, dengan wajah tersenyum merasa senang.
''Tadi saya tidak sengaja menemukan dompet ini di sana, sepertinya dompet ini tidak sengaja terjatuh saat tubuh kita saling bertabrakan tadi,'' jawab Briel bicara apa adanya.
''Saya sungguh berterima kasih, karena kamu telah mengembalikan dompet ini, bagi saya uangnya tidak terlalu penting, namun di dalam dompet ini terdapat kartu-kartu yang nilainya lebih besar daripada uang,'' jawab Richard.
Lalu dia meraih segepok uang dari dalam dompetnya, dan hendak memberikan kepada Gabriel, sebagai imbalan karena telah mengembalikan dompet tersebut, namun dengan sopan Briel pun menolak uang tersebut.
''Tidak usah, saya ikhlas mengembalikannya, dan tidak mempunyai maksud apapun,'' tolak Briel.
''Tidak apa-apa, aku juga ikhlas memberikan uang ini, jangan khawatir, saya punya banyak uang ko,'' jawab Richard yang merasa tidak enak jika tidak memberikan apapun sebagai ucapan terima kasihnya.
''Aku bersungguh-sungguh, aku ikhlas mengembalikan dompet ini, biar nanti Allah saja yang membalas kebaikan'ku,'' jawab Briel dengan tersenyum dan raut wajah yang terlihat bersungguh-sungguh.
Richard sungguh kagum dengan pria yang sekarang berada di hadapannya, dia tidak menyangka bahwa di jaman sekarang, masih ada pria baik dan juga jujur seperti sosok yang sekarang sedang berdiri di hadapannya.
__ADS_1
*****