
Gabriel terkesima mendengar ucapan Jasmine, perkataannya sungguh menenangkan kegundahan di dalam hatinya, rasa gelisah yang selama ini dia rasakan seolah hilang dan sirna, apakah gadis ini di kirimkan khusus dari tuhan kepadanya agar dia bisa benar-benar bertaubat dan menjalani hidup yang lebih baik. Gumamnya dalam hati.
''Mengapa kamu diam saja?'' tanya Jasmine karena tidak mendapatkan jawaban setelah menjelaskan panjang lebar.
''Apa kamu bersungguh-sungguh?'' tanya Briel kemudian.
Jasmine mengangguk.
''Apa kamu akan menerima aku apa adanya? apa kamu akan memaafkan semua kesalahanku di masa lalu?'' tanya'nya lagi menatap wajah Jasmine.
''Kenapa harus meminta maaf kepada'ku atas kesalahan'mu si masa lalu? minta maaflah kepada orang yang telah kau dzalim'mi, bukan aku?''
Gabriel kembali terdiam dan menunduk. Apabila dia harus meminta maaf kepada orang yang telah dia sakiti, berapa orang yang harus dia mintai maaf? jumlahnya tidak terhitung, bahkan cenderung lupa dengan jumlah nyawa manusia yang telah dia habisi.
Dia pun mulai terisak, air matanya keluar begitu saja dengan derasnya, kesedihan dan kepedihan yang selama ini dia pendam seolah tumpah begitu saja, dan rasa penyesalan yang selama ini menghantui hidupnya seolah naik kepermukaan.
''Kamu kenapa?'' tanya Jasmine merasa heran.
''Aku adalah manusia paling hina, tubuhku berlumuran dosa, dan jiwaku serasa tersiksa, dihantui rasa bersalah oleh setiap dosa yang telah aku lakukan, apakah Allah itu benar-benar maha pengampun? apakah Allah itu benar-benar akan mengampuni segala dosa yang telah aku perbuat?'' tanya'nya masih dalam keadaan terisak dan air mata yang terus membasahi pipinya.
''Gabriel...! aku nggak tau kesalahan apa yang telah kamu perbuat, dan aku juga tidak tau dosa apa yang telah membuat hidupmu tersiksa dan dihantui rasa bersalah, tapi percayalah, Allah akan mendengarkan doa setiap hambanya, dan Allah akan mengampuni setiap dosa yang dilakukan oleh hambanya, asalkan kamu bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi dan berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi,'' jawab Jasmine menerangkan.
Gabriel mengangkat kepalanya, menoleh dan menatap wajah wanita yang saat ini berada di sampingnya, dirinya memancarkan rasa kagum dengan sosok wanita ini.
''Apakah itu benar? apakah dosa ku akan di ampuni? apakah aku masih berhak untuk bahagia? dan memulai hidup baru?'' tanya Briel menatap dan melayangkan tatapan kesedihan.
''Tentu saja,'' jawab Jasmine mengangguk.
''Baiklah... aku bersedia menjadi pendamping'mu, tapi bantu aku dulu untuk belajar ilmu agama, bantu aku dulu bagaimana caranya bertaubat yang bersungguh-sungguh itu? setelah aku sudah merasa layak, aku yang akan melamar'mu, dan aku pula yang akan meminta langsung kepada orang tua'mu untuk menjadikanmu istriku,'' jawab Briel penuh penekanan dan dengan tekad yang kuat.
__ADS_1
Jasmine pun tersenyum bahagia mendengar ucapan Briel, jika saja mereka sudah halal, mungkin saja saat ini dirinya sudah melompat ke dalam pelukan Laki-laki yang telah dia tetapkan sebagai calon suaminya itu.
''Aku sungguh senang mendengarnya, mari kita belajar bersama, aku akan meminta Bapak'ku untuk membantu dan mengajarimu belajar memperdalam agama,'' ujar Jasmine dengan tersenyum senang.
Gabriel pun memandang wajah Jasmine, dia mengangguk dengan mata sembab dan perasaan penuh harap, berharap bahwa dirinya akan benar-benar di ampuni oleh Tuhan, dan berharap bahwa perasaan bersalah yang selama ini terus menghantui dan menyiksa dirinya akan hilang, dan sampai akhirnya dia menemukan kedamaian.
''Eu... kalau begitu, aku permisi dulu, aku harus kembali ke toko,'' Jasmine pun berdiri dan berpamitan.
''Baiklah, hati-hati di jalan. Apakah mau aku antar?'' Briel menawarkan.
''Oh, tidak usah, aku ke toko bawa motor sendiri ko, nanti takutnya merepotkan kamu juga,'' jawab Jasmine hendak melangkah.
Gabriel menahan dengan meraih lengannya. Namun, dengan segera dia melepaskan kembali dan langsung meminta maaf saat itu juga.
''Maaf, aku tidak bermaksud untuk tidak sopan, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan,'' ucapnya dengan terbata-bata.
''Apa...?''
''Benarkah Naura berbicara seperti itu?'' tanya Jasmine tersenyum.
Briel mengangguk.
''Aku sungguh senang mendengarnya, baiklah, nanti aku kembali kesini, dan aku akan mengatakan padanya, bahwa aku akan segera menjadi ibunya,'' jawab Jasmine merasa senang.
''Terima kasih, Jasmine. Terima kasih karena telah membuat perasaan ku sedikit tenang, dan memberiku harapan bahwa aku bisa berubah dan menjalani kehidupan yang lebih baik, aku janji akan belajar dengan cepat, agar aku bisa menjadi calon imam yang baik untukmu dan keluarga kecil kita nanti,'' Briel tersenyum.
Jasmine menganggukan kepalanya, dan kembali meneruskan langkahnya.
***
__ADS_1
Pukul sepuluh pagi, Naura sudah menunggu di gerbang sekolah untuk di jemput oleh ayah'nya, dia berdiri tepat di depan pagar, menatap satu persatu temannya yang di jemput oleh ibunya.
Dia melayangkan tatapan iri, tatkala melihat semua temannya pergi bercengkrama dengan sang ibu, sambil bersenda gurau, dan memancarkan perasaan bahagia.
Sungguh hati Naura sangatlah ingin seperti mereka, mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, meski ayah'nya sangat menyayangi dirinya dan menghujani dirinya dengan cinta dan perhatian, namun semua itu sangatlah berbeda dengan sosok seorang ibu yang selama ini dia rindukan.
Dia ingin keluarga yang lengkap, dimana ada seorang Ibu dan tentu saja ayah. Naura pun Akhirnya berjongkok memendam kesedihan, menunggu sang ayah yang tidak kunjung datang.
''Naura...'' suara sang ayah pun akhirnya terdengar, dia keluar dari dalam mobil, dan menghampiri Naura yang berjongkok dan menunduk tidak menghiraukan panggilan dirinya.
''Sayang, maaf ya, papa terlambat,'' ucap Briel menghampiri.
Naura tidak bergeming.
''Kamu kenapa? apa di sekolah ada yang menyakiti'mu?'' tanya sang ayah merasa heran, di pun ikut berjongkok, dan menatap wajah Putri kesayangannya.
Naura mengangkat kepalanya, menatap wajah sang ayah dengan wajah yang terlihat sedih dan tatapan sayu yang memerah menahan kesedihan.
''Apakah papa, sudah bilang sama Tante Jasmine?'' tanya'nya penuh harapan.
Briel mengangguk dengan tersenyum.
''Benarkah...?'' Naura merubah raut wajahnya seketika, yang semula muram, kini berubah senang, dan senyum yang mengembang dari kedua sisi bibirnya, matanya pun terlihat berkaca-kaca menahan haru.
''Iya, sayang. Papa sudah bilang sama Tante Jasmine, dan memintanya untuk menjadikan dia ibu'mu.''
''Apakah dia bersedia?'' tanya Naura penuh harap.
Briel mengangguk.
__ADS_1
Naura langsung berdiri dan seolah melompat ke dalam pelukan sang ayah, tangisnya pun seketika pecah, dia manggis tersedu merasa sangat bahagia.
*****