
Tanpa basa basi lagi Richard segera menghampiri Gabriel yang sedang berada di dalam bengkel kepunyaan'nya, berjalan dengan tersenyum, karena jujur saja dia masih teringat saat pertama kali bertemu dengan pemuda itu di Rumah Sakit.
Pertemuan yang membuat Richard kagum pada sosok pemuda jujur seperti Gabriel.
"Assalamualaikum...!" Richard mengucap salam, sesaat setelah dirinya sampai di depan bengkel.
''Waalaikum salam...'' Briel menjawab salam seraya menoleh.
Briel menyipitkan matanya seketika, mencoba mengingat pria yang wajah'nya serasa tidak asing lagi baginya.
''Apakah anda masih ingat dengan saya?'' tanya Richard.
Briel masih mengerutkan keningnya, berbeda dengan Richard, pertemuan di Rumah sakit baginya hanya pertemuan biasa yang tidak ada artinya, baginya pertemuan itu sudah terlupakan dan terkubur begitu saja, sehingga membutuhkan waktu baginya untuk dapat kembali mengingat wajah pria yang saat ini sedang tersenyum menatap dirinya.
''Kita pernah bertemu satu kali di Rumah Sakit.''
''O ya? maaf aku sudah lupa.''
''Waktu itu kamu mengembalikan dompet yang sempat kau temukan, kita bahkan pernah sekali bertabrakan sehingga aku hampir saja terjatuh, waktu itu.''
''O iya, aku ingat sekarang,'' Briel tersenyum karena akhirnya mengingat.
''Apa kabar, Gabriel?'' Richard mengulurkan tangannya.
''Alhamdulillah kabar aku baik-baik saja,'' menerima uluran tangan dan keduanya bersalaman.
__ADS_1
''Ada perlu apa kemari?'' tanya Briel sesaat setelah melepaskan tangannya.
''Hmm...! perkenalkan dahulu, ini istri ku, namanya Maurin," Richard mengenalkan istrinya yang sedari tadi berdiri di samping'nya.
Keduanya pun bersalaman seraya menyebutkan nama masing-masing.
''Apakah, mobil anda mogok?'' tanya Briel manatap mobil yang terparkir tidak jauh dari bengkelnya.
''Oh, tidak. Kami berdua memang sengaja datang kemari,'' jawab Richard.
Gabriel mengernyitkan keningnya, merasa heran, untuk apa mereka berdua jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu dengan dirinya, sedangkan dia sendiri tidak terlalu mengenal keduanya.
''Maksud anda apa?''
''Iya, kami sengaja datang karena untuk bertemu dengan putri'mu, Naura?''
Deg...
''Ma-maksudnya apa, ya?''
''Bolehkan kami masuk dan duduk di dalam, kami akan menceritakan dan memberitahukan maksud kedatangan kami,'' Maurin akhirnya berbicara, seraya menatap ke sekeliling mencari sosok Naura.
Meski ragu-ragu akhirnya Briel mengijinkan dua orang yang baru saja dikenalnya masuk ke dalam rumah.
''Silahkan duduk,'' pinta Briel sesaat setelah mereka masuk kedalam rumah.
__ADS_1
''Terima kasih...''
Entah mengapa, perasaan Briel pun tiba-tiba saja merasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang tidak beres yang akan terjadi, sesaat dia mengingat ucapan Alberto yang sempat memberi tahukan bahwa, orang yang memberikan perintah untuk membunuh orang tua Naura adalah kakak iparnya sendiri dan sekarang orang itu sedang mencari keberadaan Naura, apakah orang itu adalah dia? batin Briel.
''Bisakah anda menjelaskan maksud kedatangan kalian kemari?'' tanya Briel dengan hati yang sedikit berdebar.
''Begini, kami kesini sebenarnya ingin bertemu dengan anak yang bernama Naura? apa dia ada?'' jawab Maurin.
''Untuk apa kalian ini bertemu dengan putri'ku?''
''Apa kamu yakin dia adalah putri'mu? bukan anak yang kamu temukan enam tahun yang lalu...?''
Deg...
Wajah Briel pucat pasi, jantung'nya berdetak kencang dengan keringat yang mulai membasahi pelipis wajahnya.
''Apa maksud'mu? tentu saja dia anakku?''
''Bolehkah kami bertemu dengan dia?''
''Dia sedang tidak ada di Rumah, sebaiknya kalian pergi sekarang juga,'' Briel mulai merasa tidak tenang.
''Assalamualaikum...''
Tiba-tiba saja Jasmine datang bersama Naura, Richard dan Maurin pun menoleh dan menatap Naura dengan seksama seraya tersenyum merasa senang, akhirnya bisa kembali bertemu dengan anak yang sangat dia yakini bahwa anak ini adalah keponakan yang selama ingin mereka cari.
__ADS_1
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Reader ❤️❤️❤️