TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Demam


__ADS_3

''Siapa yang sedang kamu bicarakan? sepertinya kamu sedang mencari seseorang?'' tanya Tania berjalan menghampiri kekasihnya, lalu menyandarkan kepala di bahu seraya melingkarkan lengannya di pinggang Alberto.


''Salah satu anak buah'ku kabur setelah menyelesaikan misi terakhir'nya, dia bahkan kabur dengan membawa seorang bayi, dan sampai saat ini, dia masih belum di temukan, padahal aku sudah mencarinya sampai ke seluruh negeri, tapi dia seperti hilang di telan bumi,'' Alberto, menoleh dan menatap wajah Tania, lalu mendaratkan kecupan tipis di bibirnya.


Tania termenung sejenak, tiba-tiba saja dia teringat Gabriel dan putrinya, juga kejadian lima tahun lalu. Apakah mungkin orang yang sedang di cari oleh kekasihnya tersebut adalah Gabriel? mantan kekasih yang baru kemarin dia temui secara tidak sengaja di sebuah kota kecil? batin gadis itu berucap.


'Apa yang akan dia lakukan kepada Gabriel kalau sampai dia menemukan pria itu? apakah Alberto akan membunuhnya? Tidak tidak... hal itu tidak boleh sampai terjadi, karena walau bagaimanapun Gabriel adalah mantan terindah yang pernah aku miliki.' ( Batin Tania berucap)


''Sayang... memangnya kalau kamu sampai menemukan orang itu, apa yang akan kamu lakukan kepada'nya?'' tanya Tania penasaran.


''Tentu saja aku harus membunuh'nya...''


''Apa...?'' Tania terkejut dengan tangan yang serasa gemetar.


''Kenapa kamu terkejut? memang sudah seharusnya seperti itu, anggota mafia yang telah berkhianat, harus mati, tidak ada ampun bagi mereka yang meninggalkan organisasi begitu saja, apalagi membawa informasi penting, mulutnya harus di bungkam selama'nya.''


''Tapi, sayang... apa tidak terlalu berlebihan jika harus di bunuh segala? siapa tahu dia sudah berubah dan ingin menjalani hidupnya dengan benar?'' ujar Tania dengan suara yang sedikit terbata-bata.


Alberto menatap wajah kekasihnya dengan tatapan heran, mengapa kekasihnya tersebut seperti sedang membicarakan seseorang yang dia kenal?


''Apa kamu kenal dengan pria yang bernama Gabriel ini?'' tanya Alberto kemudian.


''Eu... Apa...? eum... Tentu saja tidak? tahu wajahnya juga tidak, mana mungkin aku kenal dia,'' jawab Tania, dengan merapikan rambutnya, lalu mengangkat kepala dari bahu sang kekasih.


''Syukurlah...! Ingat... aku tidak suka pengkhianatan, dari siapapun, termasuk dari'mu baby...!"


"Iya... iya... aku tahu..." jawab Tania, berusaha bersikap tenang, namun sebenarnya hatinya di rundung kegelisahan.


"Sekarang kamu boleh keluar," titah Alberto kepada anak buahnya yang sedari tadi berdiri di sana.


"Baik, bos," berbalik lalu berjalan keluar.


Setelah anak buahnya keluar dari sana, Alberto pun menatap wajah dan tubuh seksi sang kekasih, setelah itu dia menggendong kekasihnya tersebut dan membawanya ke dalam kamar.


"I love you... honey...''

__ADS_1


"I love you to.''


Jawab Tania masih dengan perasaan yang sebenarnya berkecamuk.


***


''Naura, sayang... bangun nak, sudah waktunya sekolah,'' Briel menggoyangkan tubuh putrinya.


Naura tidak bergeming, matanya masih saja tertutup rapat.


''Nak...! bangun...!'' Gabriel mengusap wajah putrinya, namun, dia di buat terkejut seketika, saat meraba pipi sang putri, ternyata putrinya tersebut dalam keadaan demam.


''Ya ampun nak, tubuhmu panas sekali...'' ucap Briel pelan.


Briel pun segera meraba bagian tubuh lainnya, kening, tangan dan sekujur tubuh Naura yang lainnya pun terasa panas, dia pun di buat panik seketika, dirinya segera berlari ke dapur untuk mengambil air hangat yang akan dia gunakan untuk mengompres tubuh putrinya tersebut.


Trok


Trok


Trok


''Assalammualaikum...'' terdengar suara Jasmine mengucap salam lalu masuk ke dalam rumah.


''Gabriel... Naura... kalian sudah bangun belum?'' Jasmine melangkah memasuki rumah.


''Waalaikumsalam...'' Briel menjawab salam, seraya berjalan ke dalam kamar membawa wadah berisikan air hangat.


''Air ini untuk apa?''


''Sepertinya Naura Demam, badannya panas sekali,'' jawab Briel, masih dalam keadaan berjalan.


''O, ya...?'' Jasmine pun seketika merasa cemas, dia pun mengikuti Gabriel masuk ke dalam kamar.


''Naura...? apakah kamu baik-baik saja nak? ini ibu...!'' Jasmin duduk di samping tempat tidur, tangan'nya meraba kening Naura seraya mengajaknya berbicara.

__ADS_1


Dan dia pun terkejut seketika saat mendapati tubuh Naura dalam keadaan demam tinggi, wajahnya pun bahkan terlihat memerah dengan bibir yang sedikit pecah-pecah.


''Ya ampun, Briel... Tubuh Naura panas sekali? dia sakit apa? semalam masih baik-baik saja?''


''Aku juga tidak tahu, semalam waktu mau tidur juga dia masih baik-baik saja, bahkan sebelum tidur pun kami masih bercanda dan ngobrol seperti biasa?'' jawab Briel, meletakan kain hangat di kening putrinya.


''Apa tidak sebaiknya kita membawa Naura ke Rumah sakit, aku takut dia kenapa-napa,'' pinta Jasmine, dengan wajah cemasnya.


''Sementara ini kita kompres saja dulu, jika sampai siang panasnya tidak turun juga, baru aku akan membawa dia ke Rumah Sakit,'' jawab Gabriel, memandang wajah putri kesayangannya.


''Baiklah, jika memang itu yang terbaik, aku akan menemani Naura di sini, kalau kamu mau buka bengkel, buka saja, Naura biar aku yang jaga,'' ujar Jasmine menawarkan.


''Tapi, bukankah kamu juga harus membuka toko?''


''Tidak apa-apa, biar nanti aku minta karyawan ku yang membuka'nya, lagi pula dia juga pegang kunci toko.''


''Terima kasih, sayang...!'' ucap Briel dengan wajah yang terlihat malu-malu.


''Sama-sama...'' Jasmine menjawab dengan wajah yang terlihat merah merona, dengan senyuman yang seperti di tahan lalu menunduk merasa malu.


Gabriel pun berdiri dan hendak melangkah, dirinya berniat untuk membuka bengkel agar dia bisa tetap mencari nafkah.


''Tunggu...'' Jasmine menghentikan.


Briel menghentikan langkah kakinya, lalu kembali memutar badan, dan menatap wajah Jasmine, calon istri Sholeha'nya.


''Bolehkah mulai saat ini aku memanggilmu dengan sebutan 'Mas' rasanya tidak enak memanggil calon suami dengan sebuah nama biasa,'' ujar Jasmine dengan sedikit menunduk.


''Tentu saja boleh, kamu bebas memanggil aku dengan sebutan apapun, bahkan jika kamu mau, kamu boleh memanggilku dengan sebutan sayang, he... he... he...!''


''Tidak... 'mas' saja sudah cukup, itu hanya untuk menunjukan rasa hormatku kepada calon suami, yang sebentar lagi akan segera meminang'ku,'' jawab Jasmine masih dengan tersipu malu.


''Baiklah kalau begitu, aku permisi ke depan dulu ya.''


''Baik, mas. Aku doakan, semoga rezeky'mu mengalir lancar seperti air sungai, dan uang yang kau dapatkan berkah dan barokah serta diridhoi oleh Allah Subhana huwata Alla...''

__ADS_1


''Amin...''


*****


__ADS_2