
Briel terkejut seketika, menatap wajah Naura yang kini menatap dirinya dengan tatapan penuh tanda tanya, matanya bahkan menatap tajam dengan bibir yang sedikit di kerucutkan.
Dirinya bangkit dan merapikan sajadah lalu melipatnya, bangkit dan berdiri, terdiam sejenak lalu duduk di samping tempat tidur.
''Kamu sudah bangun? papa kira kamu tidur,'' jawab Briel belum menjawab pertanyaan putrinya.
''Tadi papa berdoa, papa juga mengatakan bahwa papa telah melakukan dosa besar di masa lalu? memangnya papa telah melakukan dosa apa?'' Naura kembali bertanya karena merasa penasaran.
''Kamu mendengar semua yang papa ucapkan tadi?''
Naura menganggukan kepalanya.
'''Semuanya?''
Naura kembali mengangguk.
''Hmmm...'' Briel menarik napas panjang.
Lalu terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan dia katakan kepada putrinya tersebut, sepertinya dia harus kembali berbohong, karena tidak mungkin bagi dirinya untuk mengatakan semuanya dan sejujurnya.
''Mengapa papa diam?'' tanya Naura kemudian.
''Eu... Naura sayang, putri kesayangan papa. Semua orang pernah melakukan kesalahan, termasuk papa, papa hanya memohon pengampunan kepada Allah atas semua kesalahan yang pernah papa lakukan di masa lalu,'' jawab Briel.
''Memangnya papa sudah melakukan dosa apa?'' tanya Naura kemudian, merasa jika jawaban yang di katakan oleh ayahnya belum memuaskan rasa penasaran'nya.
''Hmmm... apa ya, sebenarnya papa juga lupa lagi,'' jawab Briel tidak tahu harus berkata apa lagi.
Gabriel pun berbaring di samping tubuh kecil sang putri, meringkuk memeluk tubuh kecilnya seraya menatap dengan penuh kasih sayang.
''Papa tidak ke depan? nanti kalau ada pelanggan bagaimana?''
__ADS_1
''Papa sengaja menutup bengkel, karena ingin beristirahat sebentar, badan papa capek.''
''Oh, begitu,'' jawab Naura memeluk tubuh ayahnya, melingkarkan lengan mungilnya di pinggang sang ayah.
''Papa kapan menikah dengan ibu? aku sudah tidak sabar ingin tidur bertiga dengannya, sepertinya akan menyenangkan,'' tanya Naura mengangkat sedikit kepalanya, menatap wajah ayah.
''Insya Allah kalau tidak ada halangan, bulan depan papa akan segera menikahi ibu Jasmine,'' jawab Briel kembali menatap wajah sang putri lalu mengecup keningnya.
''Asik... aku sudah tidak sabar,'' Naura bersorak dengan membenamkan kepalanya di dada ayahnya.
''Apa kamu lapar?''
''Tidak, tadi ibu sudah menyuapi aku, sekarang aku mengantuk, ingin tidur lagi,'' jawab Naura memejamkan matanya.
''Baiklah, papa akan menemani kamu sampai kamu tertidur, setelah itu papa akan kembali membuka bengkel, siapa tahu ada pelanggan yang datang.''
Naura mengangguk.
Dia pun menatap wajah sang putri yang kini sudah benar-benar terlelap di dalam pelukannya.
'Maafkan papa, nak. Papa kembali berbohong padamu, entah apa papa bisa mengatakan yang sejujurnya suatu saat nanti atau tidak, rasanya papa sungguh tidak sanggup untuk kehilanganmu dan di benci oleh dirimu.'
Batin Gabriel berucap dengan penuh perasaan menyesal.
Setelah sang putri benar-benar tertidur pulas, Briel pun melepaskan pelukan Naura, dirinya bangkit lalu turun dari atas ranjang. Dirinya menatap jam dinding yang masih menunjukan pukul 3 sore, dia akan membuka kembali bengkelnya siapa tahu masih ada pelanggan.
Kreket...
Gabriel menaikan pagar bengkelnya, dan benar saja satu orang pria sudah berdiri di depan bengkel, dengan motor yang terlihat di parkir di hadapannya.
''Baru buka, mas? motor saya tiba-tiba saja mogok,'' tanya pria tersebut.
__ADS_1
''Oh, iya mas. Akan segera saya perbaiki,'' jawab Briel lalu berjalan ke arah motor yang di parkir.
Dia pun memeriksanya, setelah mendapatkan penyebabnya dia pun mulai memperbaiki nya, dan tidak membutuhkan waktu lama motor itu pun selesai di perbaiki.
''Sudah selesai, mas. Bisa coba nyalakan mesin motornya?'' pintu Briel.
''Baik, mas.''
Pelanggan tersebut segera menyalakan mesin motor dan memutar gas.
''Wah, motor saya sudah kembali normal, terima kasih ya. Biaya ongkos'nua berapa, mas?''
''75.000 rupiah saja,'' jawab Briel dengan tersenyum.
Pelanggan tersebut memberikan uang satu lembar berwarna merah dan Briel pun segera menerimanya.
''Sebentar ya mas, saya ambilkan dulu kembaliannya,'' Briel memutar badan dan berjalan ke tempat biasanya dia menyimpan uang, tidak lama kemudian dia pun memberikan kembalian uang tersebut kepada pelanggannya.
''Terima kasih, mas.''
''Sama-sama, hati-hati di jalan ya,'' ucap Briel menatap kepergian pelanggan'nya tersebut.
'Alhamdulillah, hari ini pemasukan aku dapatkan lumayan besar.'
Gabriel mengucap syukur di dalam hatinya.
Baru saja dia hendak duduk di dalam bengkelnya, tiba-tiba satu pelanggan kembali datang, seorang pria terlihat mendorong motor dari arah kejauhan, pria itu terlihat tersenyum senang, saat melihat bengkel kepunyaan Gabriel.
''Mas, bisa tolong perbaiki motor saya,'' ucap pria tersebut sedikit berteriak dari arah kejauhan.
Briel segera menghampiri dengan sedikit berlari, dan matanya terkejut seketika saat melihat wajah pria tersebut ternyata orang yang dia kenal. Jantungnya pun berdetak kencang dengan tangan yang sedikit gemetar.
__ADS_1
*****