
Akhirnya serangkaian acara pernikahan pun selesai di adakan, para tamu undangan semuanya sudah pulang, para tetangga yang beberapa hari kemarin berkumpul membantu seraya bergosip pun sudah tidak terlihat lagi dan sudah pulang ke rumah masing-masing. Tinggal keluarga inti saja yang tersisa.
Malam semakin larut, Gabriel baru saja selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, dia menunggu istrinya di dalam kamar, kamar Jasmine, wanita yang kini telah resmi menjadi istri'nya.
Gabriel duduk di tepi ranjang, menatap ke sekeliling kamar, kamar yang berukuran sedang tersebut terlihat rapi meski tidak terlalu banyak pernak pernik di dalamnya.
Trok
Trok
Tidak lama kemudian pintu pun di ketuk dan sang istri pun masuk ke dalam kamar, Jasmine terlihat sudah berganti pakaian, saat ini dia hanya mengenakan daster rumahan masih dengan kerudung panjangnya.
Briel terlihat salah tingkah, mengingat malam ini adalah malam pertamanya, begitu pun dengan Jasmine, tangan'nya terasa dingin, dengan wajah yang memerah, tatkala mengingat bahwa mulai kini, dirinya tidak akan pernah tidur sendiri lagi, setiap malam akan selalu ada suami'nya yang akan menunggu dirinya di atas ranjang seperti yang saat ini di lakukan oleh Gabriel.
''Naura dimana?'' tanya Gabriel memecah keheningan.
''Oh, Naura katanya mau tidur sama neneknya,'' Jasmine menjawab dengan sedikit malu-malu.
''Oh, begitu. Apa dia mengerti bahwa malam ini adalah malam pertama kita?'' Briel dengan sedikit tersenyum.
''Bisa jadi...!'' Jasmine semakin salah tingkah.
Suasana pun kembali hening, dengan rasa canggung yang menyelimuti hati keduanya, sampai akhirnya Jasmine membuka kerudung untuk pertama kalinya di depan Gabriel.
Briel tampak terkesima, tatkala menatap wajah cantik istrinya yang baru pertama kali dia lihat tanpa mengenakan hijab, ternyata dia memiliki rambut panjang sepunggung, wajahnya pun sedikit berbeda, sungguh Jasmine terlihat sangat cantik di mata Gabriel saat ini, apa lagi polesan make tipis sisa pengantin nampak masih tersisa, dan bibirnya pun masih sedikit terlihat merah menyala.
''Kenapa melihatku seperti itu?'' tanya Jasmine tersipu malu dan menunduk.
''Kamu sungguh cantik istri'ku, wajahmu seperti bidadari yang baru saja turun dari khayangan, selain memiliki akhlak yang baik, sosok penyayang serta Sholeha, ternyata kamu juga memiliki wajah yang cantik sempurna seperti tanpa cela.''
''Ternyata kamu pintar menggombal juga, ya.''
''Tidak, ini bukan gombalan yang biasa di ucapkan oleh laki-laki hidung belang di luar sana, tapi kata-kata ini sungguh tulus, keluar dari lubuk hati aku yang paling dalam, Jasmine Salsabila, kamu benar-benar paket komplit...''
__ADS_1
Jasmine mengerutkan keningnya lalu menatap wajah sang suami. Setelah itu kembali menunduk, hatinya sungguh terasa akan meledak sekarang, jantungnya pun berdetak sangat kencang.
''Aku sungguh mencintaimu, Jasmine Salsabila...''
Briel meraih dagu istrinya lalu mengangkat wajahnya, paras cantik sang istri kini terlihat sangat jelas matanya, dia semakin mendekatkan wajahnya, dan Jasmine pun memejamkan mata siap menerima ciuman pertamanya.
Kini wajah mereka sudah berada sangat dekat, dan tinggal sedikit lagi bibir mereka akan segera bertemu, Jasmine terlihat meremas daster yang di pakainya, merasakan debaran yang sangat kencang.
Trok
Trok
''Pa, Bu... Bolehkan Naura tidur di sini? Di kamar nenek Naura tidak bisa tidur,'' dengan polosnya Naura masuk kedalam kamar lalu berbaring di atas Ranjang.
Briel sontak saja langsung menghentikan gerakannya seketika, begitu pula dengan Jasmine, keduanya berdiri secara bersamaan, memasang wajah merah merona menahan rasa malu, juga rasa kecewa.
''Duh Naura... Naura....'' (Batin Gabriel.)
Memecah keheningan, akhirnya keduanya pun tertawa secara bersamaan seraya menatap wajah Naura, yang kini sudah terpejam, dan bahkan tertidur pulas.
Gabriel pun, memeluk erat tubuh istrinya, dia bahkan mengecup pucuk kepala istri tercintanya tersebut.
''Aku juga mencintai'mu, suami'ku,'' Jasmine mendongakkan kepalanya, menatap wajah sang suami dengan tatapan mata penuh rasa cinta.
''Apa kamu kecewa?'' tanya Briel mengusap rambut panjang Jasmine.
''Kecewa...? kecewa kenapa? justru aku merasa bahagia sekarang,'' Jasmine mengerutkan keningnya seraya menatap wajah suaminya.
''Gagal bermalam pertama, maaf karena Naura tiba-tiba tidur di sini,'' ucap Gabriel dengan polosnya, membuat wajah Jasmine merah merona seketika.
''Apa maksudmu, aku tidak apa-apa ko, kita masih punya banyak waktu yang tersisa, dan kita bisa melakukan malam pertama kapanpun, kamu mungkin yang kecewa? iya kan?'' Jasmine tersenyum sedikit meledek.
''Aku...?'' Briel menunjuk satu jarinya ke arah wajahnya sendiri.
__ADS_1
Jasmine mengangguk...
''Ya...! sedikit kecewa juga sih, tapi benar yang kamu katakan tadi, kita masih punya banyak waktu yang tersisa, kita bisa melakukannya kapan pun.''
''Ibu, papa, kalian sedang apa? cepat tidur.''
Tiba-tiba terdengar celoteh Naura, dengan mata yang sedikit di sipit'kan dan menatap kedua orangtuanya.
''Iya, sayang. Ini kami mau tidur ko,'' ucap Jasmine dan Gabriel secara bersamaan.
''Kalian kompak sekali,'' jawab Naura memasang wajah polos, lalu tersenyum dan kembali memejamkan mata.
Jasmine dan Gabriel pun segera naik ke atas ranjang, dengan Naura berada di tengah-tengahnya, Lengan Jasmine nampak di lingkarkan di perut sang putri begitu pun dengan Gabriel, dia memeluk putri kesayangan, dan mengecup pipi mungilnya.
''Naura sayang kalian berdua, dan saat ini Naura sangat bahagian karena kita bisa tidur bertiga seperti ini,'' lirih Naura dengan mata terpejam.
''Iya, sayang. Kami berdua juga sayang sama kamu,'' jawab Jasmine dan Gabriel secara bersamaan.
''Kalian kompak lagi,'' lirih Naura pelan, lalu benar-benar terpejam dan tertidur pulas seketika itu juga.
***
Pukul empat pagi, Jasmine dan Gabriel sudah terbangun, kedua nya langsung keluar dari dalam kamar, saat mereka baru saja menapakkan kaki di luar kamar, tiba-tiba saja mereka langsung mendapatkan tatapan di iringi dengan sedikit senyuman dari wajah bapak, ibu dan saudaranya yang lain, yang kebetulan sedang berkumpul dan bersiap untuk berangkat ke mesjid untuk menunaikan sholat subuh berjamaah di sana.
''Kenapa kalian menatapku seperti itu?'' Jasmine merasa malu, dan memegangi wajahnya.
''Maaf, ibu tidak tahu kalau Naura pindah ke kamar kalian, ibu ketiduran semalam,'' jawab ibu dengan wajah merasa bersalah.
''Eu... tidak apa-apa, Bu. Memang sudah sejak lama Naura sangat mendambakan untuk dapat tidur di temani oleh papa serta ibunya,'' jawab Gabriel sedikit salah tingkah.
''Sekali lagi, ibu minta maaf, ya. Jadi menggangu ritual malam pertama kalian.''
''Ibu...! jangan seperti ini, Jasmine kan malu," Jasmine menghampiri dan melingkarkan lengannya di lengan sang ibu.
__ADS_1
*****