TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Di Rujuk Ke Rumah Sakit Di Kota


__ADS_3

Dengan telaten dan penuh kasih sayang, Jasmine menemani dan merawat Naura yang sedang dalam keadaan demam, Jasmine juga terus mengompres kening serta bagian tubuh lainnya, agar demam tersebut cepat mereda.


Namun sampai matahari sudah berada di atas kepala pun, demam yang sedang menyerang tubuh Naura belum juga reda, hingga akhirnya Jasmine memutuskan untuk meminta Briel membawa Naura ke Rumah Sakit.


Akhirnya Gabriel pun menerima usulan calon istrinya, untuk membawa Naura ke Rumah Sakit yang jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka.


Butuh waktu sekitar Satu jam berkendara untuk mereka bisa sampai di sana, dan akhirnya, setelah menempuh perjalanan begitu jauhnya mereka pun sampai di Rumah Sakit Citra Medika.


Gabriel menggendong Naura seraya setengah berlari masuk ke dalam Rumah Sakit menuju Ruang Unit Gawat Darurat dengan Jasmine yang berjalan mengikuti dari belakang'nya, keduanya pun langsung di sambut hangat oleh dua orang perawat yang langsung menghampiri dan membawa Naura untuk segera diperiksa.


''Mudah-mudahan Naura tidak apa-apa,'' Briel duduk di kursi tunggu, setelah Naura di bawa ke dalam ruangan untuk di periksa.


''Aku yakin Naura akan baik-baik saja, dia anak yang kuat,'' Jasmine mencoba menenangkan dan duduk di samping Gabriel.


''Mudah-mudahan saja, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Naura sampai kenapa-napa,'' Briel mulai berkaca-kaca.


''Percayalah, Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya, dan yakinlah bahwa, Allah menciptakan setiap penyakit pasti dengan obatnya,'' Jasmine mengusap punggung Gabriel.


''Terima kasih, setiap ucapan yang keluar dari bibirmu itu, selalu bisa membuatku tenang,'' Briel menoleh dan menatap wajah Jasmine, yang terlihat begitu teduh dengan balutan hijab berwarna coklat muda, yang dipasang'kan dengan gaun syar'i dengan warna senada.


''Aku hanya ingin menenangkan'mu, agar perasaan'mu tidak terlalu gundah.''


''Jangan terlalu cemas dan khawatir, kita harus menanamkan keyakinan dalam hati kita, bahwa Naura akan sembuh lagi seperti sedia kala, karena Allah selalu sesuai dengan prasangka hambanya, anggap saja ini cobaan darinya, untuk menguji'mu sebagai seorang ayah, dan aku sebagai calon ibu sambungnya,'' ucap Jasmine dengan suara lirihnya, membuat perasaan Briel semakin tenang.


Andai saja mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri, pasti saat ini dia sedang memeluk Jasmine, mendekap erat tubuh langsing itu di dalam dekapannya, namun apalah daya, meski statusnya sudah sebagai tunangan dan tinggal menunggu waktu saja untuk benar-benar menjadi pasangan, tidak serta merta membuatnya berani untuk memeluk ataupun sekedar menyentuh telapak tangan'nya.

__ADS_1


Bukan maksud hati ingin bersikap munafik, namun semua itu dia lakukan semata-mata hanya untuk menghormati wanita yang di cintai'nya dan mencari keridhoan dari Allah semata, dia pun sudah bertekad untuk tidak menyentuh tubuh tunangannya, sebelum penghulu menghalalkan keduanya.


Gabriel kembali memandang wajah anggun nan teduh itu, tatapan mata sayu dari calon istrinya tersebut benar-benar membuat hatinya bergetar, serta setiap ucapan yang keluar dari bibir mungilnya benar-benar membuat perasaan'nya semakin tenang.


Tidak lama kemudian, Dokter pun keluar dari dalam ruangan, Gabriel beserta calon istrinya, langsung berjalan menghampirinya dan bertanya kondisi sang putri.


''Dokter, bagaimana keadaan putri saya?'' Briel bertanya dengan penuh harap bahwa Dokter akan mengatakan bahwa putrinya baik-baik saja.


''Begini...! setelah di periksa lebih lanjut, putri bapak seperti'nya mengalami usus buntu, dan harus segera di operasi, namun karena ketersediaan alat operasi yang tidak memadai, maka operasi pun harus di lakukan di Rumah Sakit yang lebih besar,'' jawab Dokter, membuat Briel dan Jasmine tercengang seketika.


''Penyebabnya apa Dokter? kenapa putri saya tiba-tiba bisa terkena penyakit usus buntu?''


''Penyebabnya bisa beragam, bisa disebabkan karena sering memakan makanan pedas, ataupun mengkonsumsi mie instan yang berlebihan.''


Jasmine hanya terdiam menahan kesedihan dan rasa keterkejutan nya, karena dia pun tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya bisa menunduk sambil mengucapkan istighfar berkali-kali untuk menenangkan perasaan hatinya yang saat ini dilanda kegundahan.


''Kalau bisa sih, seperti itu. Lebih cepat lebih baik.''


''Baiklah, Dokter. Sekarang juga saya akan membawa putri saya ke Rumah Sakit yang ada di kota.''


''Kalau begitu, saya akan siapkan surat rujukan'nya terlebih dahulu,'' ucap Dokter tersebut, kemudian berlalu dari hadapan Gabriel dan juga Jasmine.


Sepeninggal Dokter tersebut, Briel hendak masuk ke dalam ruangan, namun sebelumnya dia duduk terlebih dahulu di kursi, untuk menenangkan perasaannya terlebih dahulu. Dalam hatinya dia berfikir, bagaimana caranya Naura hanya terdiam merasakan kesakitan? menelan'nya sendiri tanpa memberitahukan kepada dirinya.


''Kamu yang sabar ya, mas.''

__ADS_1


''Aku sungguh tidak mengerti, bagaiman bisa Naura menyembunyikan rasa sakit'nya dari aku? seharusnya dia bilang sama aku kalau dia sakit,'' lirih Briel, air mata yang sedari tadi dia tahan seketika berjatuhan.


''Mungkin dia tidak ingin membuat'mu cemas.''


''Ayah macam apa aku ini? yang sampai tidak bisa mengetahui bahwa putri'nya dalam keadaan menahan rasa sakit sendirian.''


''Kamu harus kuat, demi Naura. Dia membutuhkan dukungan darimu, jangan sampai keterpurukan dan rasa bersalah'mu ini membuat Naura sedih, karena dia tidak ingin melihat'mu terluka.''


Jasmine berusaha tegar, padahal sebenarnya hatinya dilanda rasa sakit yang luar biasa, melihat Naura, gadis kecil yang dia sayangi dalam keadaan menahan rasa sakit yang tidak terkira.


Briel pun bangkit dan berdiri, dia mengusap pipinya yang sudah basah dengan air mata, dia akan berusaha sekuat mungkin untuk tetap tegar, demi Naura, putrinya kesayangannya.


***


Hari itu juga, Naura segera di bawa ke Rumah Sakit yang berada di kota, di temani oleh Jasmine yang selalu dengan setia menemani dirinya, untung saja dirinya masih memiliki uang tabungan yang selalu dia simpan untuk berjaga-jaga apabila menghadapi kondisi darurat, seperti sekarang ini.


Di Rumah Sakit.


Dokter di Rumah Sakit segera menjadwalkan operasi, dan operasi tersebut akan di laksanakan keesokan harinya setelah Naura di bawa ke sana, dan saat ini Naura sudah berada di ruang rawat inap.


Tubuh gadis kecil itu terbaring di ranjang rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di tangan kecilnya, bersama sang ayah dan ibu Jasmine yang berdiri di samping'nya, menemani dan tidak pernah meninggalkan dirinya sedikitpun.


''Pah...! Aku sakit apa? mengapa aku harus sampai di bawa jauh-jauh kemari?'' tanya Naura lembut dengan suara yang seperti menahan rasa sakit.


''Dokter bilang kamu usus buntu, sayang. Tapi kamu tidak usah khawatir, setelah di operasi, kamu akan segera sembuh, dan papa serta ibu akan selalu menemani kamu di sini,'' jawab Briel berusaha bersikap setenang mungkin.

__ADS_1


''Apakah operasinya sakit? kalau aku sampai meninggal bagaimana?'' tanya Naura dengan polosnya.


*****


__ADS_2