TOBAT'NYA SANG MAFIA

TOBAT'NYA SANG MAFIA
Flash Disk


__ADS_3

Gabriel kembali ke kamar, tempat dimana Naura dan Jasmine berada, langkahnya terlihat gontai dan wajahnya nampak muram, matanya bahkan memerah menahan rasa gundah.


Dia berjalan dengan pikiran yang sedikit melayang, hingga kamar yang hendak di masukinya pun terlewatkan, dia terus berjalan lurus ke depan.


Jasmine yang memang sedang menatap ke arah luar, merasa heran melihat Briel melintas begitu saja tanpa memasuki kamar, akhirnya dia bangkit dan berjalan keluar dari dalam kamar.


Ceklek


Jasmine membuka pintu dan melangkah lalu berdiri di depan pintu.


''Mas, mas Gabriel...'' Jasmine memanggil dengan suara yang sedikit dinaikkan.


Gabriel pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah belakang dan akhirnya dia pun tersadar jika kamar yang akan dia masuki ternyata sudah terlewati. Dia mengusap wajahnya secara kasar, menghembuskan napas perlahan lalu memutar badan.


''Kenapa? sepertinya kamu berjalan sambil melamun?'' tanya Jasmine menatap wajah calon suaminya yang terlihat berbeda.


''Maaf, pikiranku sedikit melayang tadi,'' Briel menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali, dengan senyum yang sedikit di paksakan.


''Kenapa lama sekali? apakah kamu habis dari suatu tempat terlebih dahulu?''


''Oh iya, aku sampai lupa, gimana? mau ke mushola sekarang?'' tanya Briel yang sudah berdiri tepat di samping calon istrinya.


''Tidak, aku sudah sholat di sini tadi, lagipula sekarang sudah waktunya sholat isya.''


''Iya, aku minta maaf,'' Briel menunduk merasa bersalah.


''Nggak apa-apa, kita masuk yu, seperti'nya kamu sedang ada masalah, ya?''


Keduanya masuk ke dalam kamar, berjalan lalu duduk di kursi, Briel masih memasang wajah muram, ucapan Tania benar-benar membuat perasaan'nya merasa gundah, sepertinya dia harus kembali ke rumah lamanya, untuk mengambil sesuatu yang di tinggalkan, sebuah bukti kejahatan Alberto yang tidak sempat dia bawa sewaktu kabur dahulu.


''Eu... Jasmine, sepertinya aku harus pergi dulu ke suatu tempat, aku titip Naura sebentar, ya...''


''Memangnya kamu mau kemana?''


''Ke rumah lamaku, ada sesuatu yang harus aku ambil, lagipula, sudah lama sekali aku tidak mengunjungi rumah,'' jawab Briel jujur.

__ADS_1


''Baiklah, tapi jangan terlalu lama, aku takut Naura mencarimu.''


''Iya, aku tidak akan lama, ko.''


''Apakah rumah'mu jauh dari sini?''


''Lumayan, tapi tidak terlalu jauh juga, pokoknya aku berjanji, aku tidak akan lama, ya.''


Briel memakai jaket jeans berwarna hitam, di padu padankan dengan celana jeans berwarna senada di lengkapi dengan topi yang juga berwarna hitam.


''Hati-hati, ya. Sayang...''


Briel mengangguk, menatap wajah calon istrinya lalu sedikit tersenyum, sedangkan Jasmine, dia merasakan perasaan yang berbeda, entah mengapa perasaannya terasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


''Assalamualaikum...'' Briel mengucap salam lalu melangkahkan kakinya ke luar.


''Waalaikumussalam...'' jawab Jasmine.


Dia pun menatap punggung Pria yang sebentar lagi akan segera menjadi suaminya, seperti merasakan tatapan dari sang calon istri, Briel pun memutar kepala lalu melambaikan tangan seraya tersenyum dari arah kejauhan, menatap wajah Jasmine.


Jasmine hanya mengangguk lalu tersenyum, senyum yang penuh dengan rasa kekhawatiran, perasaan cemas tiba-tiba saja menyelimuti relung hatinya, entah ada apa sebetulnya? dia juga tidak tahu.


***


Dengan langkah yang tergesa-gesa, Briel berjalan menuju mobil, tangannya tampak memegang ujung topi, dengan wajah melihat ke sekitar, dia ingat ucapan Tania bahwa Alberto dan anak buahnya sedang mencari dirinya.


Setelah masuk ke dalam mobil, dia pun segera menyalakan'nya, berjalan perlahan keluar dari parkiran dan mulai melaju kencang di jalanan.


Gabriel menyetir mobil dengan kecepatan tinggi, karena dirinya ingin segera kembali ke Rumah Sakit untuk menemani Naura dan juga calon istrinya, selain itu, membutuh'kan waktu selama kurang lebih dua jam untuk dia bisa sampai di kediaman'nya yang terletak di pusat kota.


Akhirnya, Gabriel pun sampai di rumah lamanya, dia turun dari dalam mobil dengan tangan yang memegangi ujung topi serta kepala yang menunduk, sambil sesekali melirik ke sekitar.


Ceklek


Kreket

__ADS_1


Briel memutar kunci dan membuka pintu rumah, mulai melangkah masuk ke dalam'nya yang masih terlihat gelap gulita, dirinya pun meraba tembok untuk mencari sakelar dan menyalakan lampu.


Cekrek


Lampu di rumah pun akhirnya menyala, dia pun terkejut seketika mendapati rumahnya sudah dalam keadaan berantakan, dengan kursi dan meja sudah dalam keadaan terbalik, serta pakaian dirinya yang tidak sempat dia bawa berhamburan di lantai, selain itu keadaan lemari di ruang tamu pun sudah dalam keadaan terbuka, dengan isinya yang berserakan di lantai.


'Sepertinya Anak buah Alberto sudah mengobrak-abrik rumah ini' (batin Briel berucap)


Dia pun tidak mempedulikan keadaan rumah'nya yang berantakan, dan sepertinya tidak berniat pula untuk merapikan, karena tujuannya datang ke sana adalah untuk mengambil sesuatu, sebuah benda kecil yang di sembunyikan di dalam kamarnya.


Briel masuk ke dalam kamar, dia menatap ke sekeliling kamar yang juga sudah dalam keadaan berantakan total, tapi dia tersenyum seketika merasa lega, saat melihat sebuah bingkai Poto yang masih terpasang rapi di tempel di tembok kamar.


Briel segera berjalan dan meraih bingkai Poto tersebut, memutarkan'nya dan melihat bagian belakang bingkai Poto itu, dia tersenyum seketika saat melihat sebuah benda kecil yang dia selipkan dahulu masih berada di sana.


Benda itu adalah flash disk, isinya tentang semua bukti kejahatan yang telah di lakukan oleh Alberto, mantan bosnya.


Dia pun meraih flash disk dan memasukan ke dalam saku celananya, hari ini dia berencana akan menemui Alberto sang bos mafia untuk melakukan negosiasi.


*****


Jangan lupa


Like


Komen


Vote


Hadiah


Agar Author semangat dalam berkarya


Terima kasih Reader tercinta ❤️❤️


*****

__ADS_1


__ADS_2