
"Namaku Mirai Sakurai, usiaku tahun ini 19 tahun. Dan aku baru saja diterima di sebuah kampus terbaik di Tokyo. Aku berbeda dengan mahasiswa lainnya. Aku bisa masuk ke kampus ini, karena aku mendapatkan beasiswa. Kebanyakan orang yang kuliah di sini berasal dari kalangan elite. Dan sebenarnya, aku merasa sedikit berkecil hati karena aku bukanlah dari kalangan elite. Sejak kecil aku hanya tinggal bersama pamanku. Namun, itu tak membuatku menyerah. Aku tetap ingin masuk ke kampus ini demi masa depanku."
Waktu sudah memasuki musim semi. Bunga-bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan, tertiup angin dan berguguran. Hari pertama ajaran baru telah resmi dibuka. Mirai terlihat sedang berdiri di depan kampus.
"Wah, kampus yang sangat besar dan mewah. Aku masih tak percaya jika aku diterima kuliah di sini. Sungguh luar biasa," ucapnya dalam hati.
Mirai memasuki kampus dan berjalan di lorong. Tiba-tiba, ada seorang cewek yang menyapanya dari belakang.
"Mirai!" panggil seorang cewek imut berambut pendek.
Mirai menoleh. "Oh, Aiko."
Aiko Suzuki adalah teman Mirai dari masa SMA dan menjadi sahabat baiknya hingga sekarang.
"Mirai, ayo masuk ke kelas!" ucap Aiko sambil menggandeng tangan Mirai.
"Tunggu, Aiko! aku harus ke kantor menemui Profesor. Kau pergi duluan ya, nanti aku menyusul," ucap Mirai.
"Oke, aku tunggu di kelas." Aiko melambaikan tangannya dan menuju kelas.
Beberapa saat kemudian, Mirai tiba di ruangan Profesor.
"Mirai Sakurai. Kami ingin memberitahukan bahwa study S1 di sini adalah 4 tahun, sedangkan beasiswa yang kami berikan hanya berlaku selama 2 tahun saja. Apakah kau masih bersedia menerima tawaran kami?" ucap Profesor menjelaskan.
Mirai berpikir sejenak. "Itu artinya.. Setelah 2 tahun, saya harus membayar biaya kuliah sendiri?"
Profesor mengangguk. "Benar. Namun, jika kau ingin menolak tawaran kami, kau bisa melakukannya sekarang."
Mirai terdiam dan berpikir. "Bagaimanapun kampus ini adalah Kampus favorit di Tokyo. Sulit bagi kebanyakan orang untuk diterima di sini. Dan ini adalah pertama kalinya Universitas ini memberikan kesempatan beasiswa. Aku adalah salah satu orang yang mendapatkan beasiswa itu. Meskipun beasiswa itu hanya berlaku 2 tahun, tapi..."
"Saya tidak akan menolak tawaran ini, Pak. Saya menerimanya!" jawab Mirai tanpa ragu-ragu.
"Baiklah, tanda tangan di sini dan segera masuk ke kelasmu." Profesor menyodorkan beberapa lembar kertas, dan gadis itu menandatanganinya.
"Terima kasih, Pak. Saya permisi," ucap Mirai pamitan.
"Oh ya, Mirai. Tolong antarkan buku-buku ini kepada Akihiro di perpustakaan ya." Profesor memberikan setumpuk buku.
"Baik." Mirai membawa tumpukan buku itu dengan kedua tangan, lalu membawanya pergi.
Hari ini merupakan hari pertamanya di kampus. Oleh sebab itu, Mirai masih tidak mengetahui dimana letak perpustakaan itu berada. Dengan membawa tumpukan buku yang berat, ia berjalan menyusuri lorong yang panjang.
"Ah, tadi aku lupa bertanya ke Profesor dimana letak perpustakaannya," Mirai menggumam menyesal.
__ADS_1
Mirai berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan tanpa ia sadari...
BRUK !!
Ia telah menabrak seseorang di depannya. Dan seketika itu juga buku-buku yang ia bawa berjatuhan di lantai. Seorang cowok sedang jongkok di depannya dan memunguti buku-buku yang berserakan itu. Sontak Mirai menekuk lutut dan membantunya.
Mirai melirik ke arah cowok itu. "Rambut hitam yang menawan dan mata yang indah. Sungguh cowok yang sangat tampan," Mirai membatin kagum akan ketampanan cowok itu.
"Ma-maaf. Aku tidak sengaja menabrakmu," ucap Mirai terbata.
Cowok itu diam saja dan tidak menjawab. Disaat Mirai mencoba menatapnya lagi, cowok itu berpaling dan mulai melangkah pergi. Namun, gadis itu berusaha menghentikannya.
"Tu-tunggu!"
Mendengar suara Mirai, cowok itu menghentikan langkahnya.
"Apa kau tahu perpustakaan ada dimana?" tanya Mirai.
"Belajarlah membaca tulisan di sekitarmu!" jawab cowok itu dingin, lalu ia pergi begitu saja.
Mirai terpaku mendengar jawaban dingin cowok itu. Ia dengan resah membalikkan badan, lalu melangkah menyusuri lorong. Belum jauh ia berjalan, Mirai melihat sebuah ruangan yang bertuliskan 'Perpustakaan'. Sontak senyuman manis muncul di wajahnya. Akhirnya, ia mengerti maksud tersirat dari cowok itu. Kata-kata yang dingin, tetapi mengandung sebuah jawaban.
Mirai menghembuskan nafas lega. "Jadi ini yang dimaksud cowok tadi. Meskipun jawaban cowok tadi menyakitkan, tetapi aku senang karena telah tiba di perpustakaan."
Mirai membuka pintu perpustakaan dan di sana ia melihat seorang cowok sedang duduk sendirian di depan meja komputer.
"Iya, aku sendiri." jawab Cowok itu seraya bangkit dari duduknya.
"Profesor menyuruhku mengantarkan buku-buku ini," ucap Mirai.
"Letakkan saja bukunya di meja. Terima kasih ya," ucap Akihiro sambil tersenyum.
"Baik, kalau begitu aku permisi."
"Eh, tunggu! Apakah kau adalah mahasiwa baru? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya," tanya Akihiro.
"Iya, benar. Aku adalah mahasiwa baru, namaku Mirai. Mohon bimbingannya." jawab Mirai sopan.
"Oh baiklah, Mirai. Salam kenal. Aku adalah seniormu di sini. Jika butuh bantuan jangan ragu untuk mencariku." Akihiro tersenyum ramah.
"Terima kasih, Kak. Aku sekarang permisi mau kembali ke kelas." Mirai berpamitan, lalu ia berjalan keluar perpustakaan.
"Tidak disangka kak Akihiro adalah senior yang baik dan murah senyum," batin Mirai kagum.
__ADS_1
Mirai pergi menuju ke kelas. Dan beberapa menit kemudian, ia telah sampai di depan kelasnya. Ketika Mirai tiba di ambang pintu, ia melihat Aiko sedang asik mengobrol dengan cowok berambut merah. Cowok itu memakai kalung hitam di lehernya dan memakai anting di telinga kanannya. Wajahnya manis dan gayanya keren.
"Mirai, sini!" panggil Aiko sambil melambaikan tangan, lalu Mirai berjalan memasuki kelas dan duduk di sebelah kanan Aiko.
"Mirai, kenalin ini temanku waktu kecil. Namanya Hiroto." Aiko menunjuk cowok rambut merah yang duduk di belakangnya.
"Hiroto Watanabe." cowok itu mengulurkan tangannya pada Mirai.
"Namaku Mirai Sakurai."
Disaat mereka berdua sedang berjabat tangan, cowok itu menatap Mirai cukup lama dan tidak melepaskan tangannya. Menyadari hal itu, Mirai langsung menarik tangannya dengan cepat.
"Hiro, aku masih tidak menyangka kita bisa bertemu di sini. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu," ucap Aiko.
"Yah, itu karena kita tidak pernah satu sekolah sebelumnya," jawab Hiroto.
Tidak lama kemudian, Profesor tiba di kelas. Semuanya bersiap di tempat duduk masing-masing.
"Hari ini adalah awal pelajaran baru. Sebelum kita mulai orientasinya, saya akan melakukan absen terlebih dahulu," ucap Profesor sambil memegang buku di tangannya.
"Hiroto Watanabe?"
"Ada."
"Aiko Suzuki?"
"Ada."
"Mirai Sakurai?"
"Ada, Pak."
"Eisuke Harada?"
"....."
"Eisuke Harada?"
"....."
"Eisuke Harada?" panggil Profesor kesekian kalinya.
"Apakah Eisuke Harada tidak hadir hari ini?" tanya Profesor.
__ADS_1
Semua orang di kelas menggelengkan kepala dan saling memandang satu sama lain. Setelah cukup lama menunggu dan tidak ada jawaban, akhirnya Profesor memutuskan untuk melanjutkan absennya. Namun, ketika absen tengah berlangsung, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu berbunyi.
Tok Tok Tok !