
Setiap malam, keluarga Harada selalu berkumpul bersama untuk melakukan makan malam di kediamannya.
"Kaito, gadis itu temanmu?" tanya Ayano.
"Gadis mana yang ibu maksud?" Kaito tak mengerti.
"Kalau tidak salah namanya Mirai. Gadis itu sangat cantik dan manis. Ibu suka melihatnya." Ayano kagum pada gadis itu.
"Oh, Mirai Sakurai. Aku rasa Eisuke jauh lebih mengenal dia daripada aku. Benarkan, Eisuke?" Kaito tersenyum sambil menatap adiknya.
"Apa itu benar, Eisuke?" tanya Ayano.
"Hanya teman satu kelas," jawab Eisuke singkat.
Tiba-tiba, mata Kenji menyipit tajam. "Ayano, aku tahu kau dari dulu ingin punya anak perempuan. Tapi, jangan terlalu mengagumi anak orang lain."
"Bukan begitu maksudku. Kemarin waktu di pesta, aku bertemu dengan gadis itu dan entah kenapa aku suka sekali melihatnya." Ayano berkata jujur.
"Cukup! Hentikan semua omong kosongmu itu!" bentak Kenji tidak suka.
Kenji Harada bangkit dari kursinya, lalu pergi keluar ruangan.
***
Di hari libur, Mirai menghabiskan waktunya untuk membantu Paman dan Yoshi di restaurant. Meskipun keluarga kecil itu serba kekurangan, tetapi Mirai melampaui hidupnya dengan baik. Selesai tutup restaurant, mereka bertiga makan malam bersama di rumah.
"Sejak adanya Yoshi di sini, pekerjaan Paman jadi ringan. Yoshi anak yang rajin dan pintar," ucap Paman senang.
"Aku lihat restaurant kita juga lebih ramai daripada sebelumnya," ucap Mirai menambahkan.
"Iya itu benar." Paman tersenyum senang. "Yoshi, nanti kalau restaurant dapat untung banyak paman akan memberimu gaji, ya. Walaupun nanti gajinya tidak banyak, tetapi cukup untuk beli jajan."
Yoshi mengangguk tersenyum. "Terima kasih, Paman."
"Ayo, kalian semua makan yang banyak," ujar Paman.
"Paman, bolehkah aku besok izin pergi sebentar? Aku ingin pergi mengunjungi makam ayahku." Yoshi minta izin.
"Tentu saja boleh. Bagaimanapun orangtua harus tetap kita hormati," jawab Paman mengizinkan.
"Kalau begitu besok kita pergi bersama. Aku akan mengantarmu," ucap Mirai.
"Terima kasih, kak," jawab Yoshi setuju.
__ADS_1
Keesokan paginya, Mirai mengantar Yoshi pergi ke makam ayahnya. Mereka tiba di makam dan meletakkan seikat bunga di atas makam itu.
"Paman supir, bagaimana kabar Paman di sana? Sekarang Yoshi tinggal bersamaku. Aku dan Pamanku akan merawat Yoshi dengan baik. Jadi, paman supir tidak usah khawatir lagi. Semoga paman supir tenang di sana," ucap Mirai dengan ketulusannya.
Tiba-tiba, Yoshi menangis dan memeluk Mirai. "Kak Mirai, terima kasih banyak sudah mau menampungku. Aku tidak tahu bagaimana harus membalasnya."
Mirai tersenyum. "Yoshi, tidak apa-apa. Jangan menangis! Aku dan Pamanku ikhlas menolongmu. Ayo kita pulang."
Selesai dari pemakaman, Mirai dan Yoshi kembali membantu Paman di restaurant. Mirai memakai celemek dan mengikat rambutnya yang panjang. Tiba-tiba, suara lonceng di depan pintu berbunyi. Mirai mendekati pintu dan menyapa pengunjung yang datang. Namun, ia sangat terkejut ketika melihat pengunjung itu.
"Eisuke!"
"Kenapa kau terkejut melihatku? Apa aku boleh masuk?" tanya Eisuke.
Mirai menatap Eisuke heran. "Tunggu! Mengapa kau datang kemari?"
"Tentu saja aku ke sini untuk makan di restaurantmu. Aku sudah pernah mengatakannya waktu itu," jawab Eisuke.
Mirai tiba-tiba menutup pintu dan menjadi salah tingkah. "Eisuke mau makan di restaurant kecilku? Apa yang harus aku lakukan? Namun, kami sekarang sudah menjadi teman."
Mirai membuka pintu restaurantnya lagi. Dan Eisuke masih berdiri di sana.
"Seperti inikah tabiatmu pada pengunjung? Sangat tidak sopan!" ucap Eisuke sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"Restaurantku sangat sempit dan kecil. Jika kau tetap ingin makan di sini, Silakan saja!" Mirai mengizinkan masuk.
"Yoshi, kau sudah berjanji untuk tidak mengejar Eisuke lagi," ucap Mirai mengingatkan.
"Ya, aku tahu," jawab Yoshi pelan hampir tak terdengar.
Eisuke sangat terkejut melihat Yoshi ada di restaurant itu. "Kenapa anak ini ada di sini?"
"Aku dan Pamanku menampungnya di sini," jawab Mirai terus terang.
Eisuke duduk sambil mendengarkan cerita Mirai. Gadis itu menceritakan semua tentang Yoshi kepada Eisuke.
"Meskipun Mirai adalah orang yang sederhana, tetapi hatinya sangat baik dan lembut. Ini membuatku semakin menyukainya," batin Eisuke kagum.
"Eisuke, kenapa kau senyum sendiri? Apa kau tidak mendengarkan ceritaku?" Mirai merasa diabaikan.
"Aku sudah mendengarkan ceritamu. Dan sekarang berikan aku buku menu. Aku mau pesan makanan," jawab Eisuke.
"Bagaimana bisa orang elite seperti dia mau makan di restaurant kecilku ini," Batin Mirai heran.
__ADS_1
"Aku pesan sup miso."
"Baik, tunggu sebentar."
Mirai pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Ketika ia hendak kembali mengantar makanan, Mirai melihat Eisuke sedang mengusap kepala Yoshi sambil tersenyum.
"Aku minta maaf atas apa yang terjadi pada ayahmu. Tapi aku janji, suatu saat nanti aku akan mengembalikan nama baik ayahmu," ucap Eisuke pada Yoshi.
"Benarkah?" tanya Yoshi.
Eisuke mengangguk. "Kau boleh pegang kata-kataku ini!"
"Aku tak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun, aku senang mereka rukun dan tidak bermusuhan lagi," batin Mirai senang.
Setelah selesai makan, Eisuke membayar dengan menyodorkan uang kertas dengan nominal besar.
"Uang ini terlalu besar dan aku tidak ada kembaliannya. Bisakah kau membayarnya dengan uang kecil?" tanya Mirai.
"Tidak ada," jawab Eisuke.
"Kalau begitu, kau bawa dulu uangnya. Bayarnya kapan-kapan saja," ucap Mirai.
"Hmm, aku tidak suka berhutang. Bayar kembaliannya dengan berkencan denganku! Aku akan memberitahu waktunya." Eisuke meletakkan uangnya di meja, lalu ia pergi keluar dengan cepat.
"(Berkencan?)"
Di sisi lain, Fujio Shinomiya datang ke kantor Tensa untuk bertemu dengan Kenji.
"Tuan Fujio, apa kabar? Tumben anda datang ke kantorku secara tiba-tiba," sapa Kenji.
"Aku sengaja datang kemari untuk membicarakan hal pribadi," jawab Fujio.
"Katakan saja. Hal pribadi tentang apa itu?" tanya Kenji penasaran.
"Putriku Megumi sejak kecil sangat menyukai putramu Eisuke. Bagaimana jika kita menjodohkan mereka? Dengan begitu, hubungan bisnis kita juga semakin baik," ucap Fujio.
"Selama ini hubunganku dengan Eisuke kurang baik. Aku tidak yakin dia mau mendengarkanku," ucap Kenji tidak yakin.
"Cobalah dulu. Aku akan menunggu keputusannya," ucap Fujio berharap.
Kenji mengangguk. "Baiklah. Namun aku tidak janji. Eisuke berbeda dengan Kaito, Eisuke adalah anak yang tidak bisa diatur!"
"Aku mengerti. Namun aku sangat berharap Eisuke mau menikah dengan putriku," ucap Fujio.
__ADS_1
"Aku juga berharap begitu. Megumi adalah gadis yang cocok untuk Eisuke. Selain cantik, dia juga pintar." puji Kenji.
Fujio tersenyum. "Dan yang paling penting adalah kita berasal dari satu kalangan. Jika Eisuke mau menikah dengan putriku, aku jamin bisnis kita akan berkembang lebih baik lagi."