Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 29 --> Kesempatan untuk yang lain


__ADS_3

Setelah malam tiba, pengunjung di restaurant Mirai menjadi semakin ramai. Mirai dan Yoshi sibuk berjalan ke sana ke sini mengantarkan makanan. Dan tiba-tiba Hiro datang ke restaurant tanpa menimbulkan suara. Cowok rambut merah itu tersenyum melihat Mirai yang sedang sibuk.


"Mirai," panggil Hiro.


Mirai menoleh. "Hiro."


"Sini berikan padaku. Biarkan aku membantumu," ucap Hiro sambil menarik baki yang dibawa Mirai.


"Hi-Hiro!"


"Jangan membantah!" Hiro tersenyum dan mengedipkan mata, lalu Cowok rambut merah itu pergi mengantar makanan ke meja pengunjung.


Mirai tersenyum melihat Hiro. Setelah beberapa jam kemudian, pengunjung restaurant mulai berkurang dan sepi. Sisa seorang wanita tua pengunjung terakhir. Paman dan Mirai telah membereskan dapur dan bersiap-siap untuk tutup.


"Apakah cowok ganteng ini adalah menantumu? Dia sangat rajin," tanya Wanita tua itu.


Paman tertawa. "Oh, dia adalah teman Mirai."


"Sayang sekali hanya teman. Lebih baik Mirai menikah saja dengannya. Kelihatannya cowok ini bisa menjadi calon suami yang baik." Wanita tua itu tersenyum melihat Hiro.


"Ah, sudah jangan menggodanya lagi. Sekarang restaurant mau tutup, besok saja datang lagi," ucap Paman sambil mendorong wanita tua itu dengan pelan dan terlihat sangat akrab.


"Iya, iya aku pergi. Tapi kalau Mirai menikah jangan lupa undang aku ya. Hehe," Wanita tua itu tertawa, lalu keluar dari restaurant.


Hiro dan Mirai tersenyum melihat Paman dan Wanita tua itu.


"Wanita tua itu memang banyak bicara, tetapi dia baik. Dia adalah pelanggan setia restaurant," ujar Paman.


Hiro tersenyum. "Namun, aku pikir tidak ada yang salah dengan kata-katanya."


"Benar." Paman tertawa. "Hiro, paman mengucapkan terima kasih kau sudah mau membantu restaurant hari ini. Maaf sudah merepotkanmu."


"Aku merasa senang bisa membantu." Hiro menatap Paman dengan senyuman. "Oh iya, sekarang sudah larut malam. Aku permisi mau pamit."


"Hati-hati di jalan. Hiro, sekali lagi terima kasih ya." Paman mengantar Hiro keluar.


Sejak saat itu, Hiro setiap hari datang ke restaurant untuk membantu Paman dan Mirai. Hubungan Mirai dan Hiro pun sedikit demi sedikit menjadi lebih dekat.


"Mirai, sudah hampir 2 bulan ini Hiro datang membantu di restaurant. Dia sungguh orang yang baik. Apakah kau tidak ingin memberi dia kesempatan? Hiro kelihatannya benar-benar menyukaimu," ucap Paman.


Mirai terdiam, dan Yoshi hanya menunduk mendengarkan percakapan itu.


Namun, Mirai tiba-tiba membuka suara. "Aku mengerti maksud paman. Aku juga merasa lebih dekat dan nyaman dengan Hiro."


Paman mengangguk. "Kau sudah dewasa. Kau harus bisa menemukan jalan hidupmu."

__ADS_1


Malam hari di rumah kediaman Shinomiya, Megumi mendatangi ayahnya yang berada di ruang kerja.


"Ayah, belum tidur?"


"Belum sayang, sini masuklah!"


"Ayah, aku mau tanya. Apakah ayah sudah bicara dengan paman Kenji? Bagaimana hasilnya?" tanya Megumi dengan penuh harapan.


Fujio Shinomiya menarik nafas dan menggelengkan kepala. "Maafkan ayah, pertunanganmu dengan Eisuke tidak dapat dilakukan. Tuan Kenji membatalkan pertunangan ini karena Eisuke dengan keras menolaknya. Ayah minta maaf tidak bisa membantumu dalam hal ini."


Seketika itu, tubuh Megumi berubah menjadi kaku dan gemetaran. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.


"Ini pasti karena cewek murahan itu! Di dalam hati Eisuke hanya ada wanita itu!" ucap Megumi dalam hatinya.


***


Beberapa hari kemudian, Hiro mengajak Mirai pergi ke pasar malam. Mirai mengenakan kimono dan memakai aksesories bunga-bunga di kepalanya.


"Kau sungguh cantik seperti bunga sakura," puji Hiro sambil tersenyum.


"Terima kasih." Mirai tersenyum malu.


"Di sana banyak penjual jajanan enak. Ayo kita beli!" Hiro menarik tangan Mirai dan menggandengnya berjalan.


"Kau mau makan apa? Aku belikan," tanya Hiro.


"Oke, siap Tuan Putri. Kau tunggu sini aku akan pergi membelinya." Hiro tersenyum penuh perhatian.


Beberapa saat kemudian, Hiro kembali dengan membawa ikayaki di tangannya.


"Terima kasih," ucap Mirai.


Mereka duduk di taman sambil makan ikayaki. Suara keramaian di pasar malam itu terdengar ribut. Kembang api sebentar lagi akan dinyalakan, dan semua orang bersiap-siap untuk melihat langit yang indah itu.


Cuit.. Bum.. Pyar.. !


Bunga-bunga api bermekaran di langit yang gelap. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan menyambutnya.


"Mirai, apakah kau hari ini senang?"


"Ya, aku senang."


Hiro tiba-tiba menyentuh wajah Mirai dengan lembut. "Mirai, aku ingin mengatakan ini sekali lagi. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku? Berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu."


Mirai terdiam, lalu mengangguk. "Iya, aku menerimamu."

__ADS_1


Hiro melebarkan matanya ketika melihat respon dari gadis itu. "Benarkah? ini artinya kau mau menjadi pacarku?"


"Iya," jawab Mirai pelan.


"Sungguh? Aku sangat senang sekali. Mulai sekarang kau adalah pacarku dan aku janji akan menjagamu dengan baik." Hiro tersenyum bahagia, dan Mirai pun membalasnya dengan senyuman.


Perlahan, Hiro mendekati wajah Mirai dan mencium bibir gadis itu dengan lembut. Mereka berciuman di bawah bunga-bunga api yang indah.


Mirai menyandarkan kepalanya di pundak Hiro sambil menggenggam saputangan di tangannya. Hiro mengamati tangan Mirai dan melihat saputangan itu.


"Apa yang ada di tanganmu itu?" tanya Hiro.


"Ini saputangan."


"Kenapa kau selalu menggengamnya?"


"Ini adalah saputangan penting bagiku."


"Bolehkah aku melihatnya?" Hiro mengambil saputangan itu dari tangan Mirai.


"Saputangan bordir burung merak yang indah. Dimana kau membelinya?" tanya Hiro ingin tahu.


"Aku tidak membelinya."


"Terus?"


Mirai menarik tubuhnya dari pundak Hiro, lalu ia menceritakan semua kisah kenangan di masa kecilnya pada Hiro. Mirai menceritakan semuanya tanpa ditutupi sedikit pun.


"Hmm.. Aku cemburu dengan anak laki-laki itu. Aku tidak rela kalau pacarku bertemu dengan nya." Hiro memalingkan wajahnya dan sedikit ngambek.


"Hiro, itu kan dulu saat aku masih kecil. Sekarang sudah berbeda. Aku dan dia tidak mungkin bertemu," ucap Mirai.


Hiro menatap wajah Mirai dari dekat. "Bagaimana jika kalian bertemu lagi? Apakah kau akan jatuh cinta padanya?"


"I-itu.. tidak mungkin," jawab Mirai sedikit terbata.


"Mirai, aku percaya padamu. Aku.. benar-benar mencintaimu," ucap Hiro sambil mengecup bibir gadis itu sekali lagi.


Mulai keesokan harinya, Hiro selalu menjemput dan mengantar Mirai kuliah. Mereka berdua selalu bersama-sama di kampus.


"Ehem.. ada yang sudah jadian nih," sindir Aiko pada Mirai.


"Aiko.." Mirai terlihat malu.


"Hiro sudah cerita semuanya padaku kalau kalian telah resmi pacaran. Selamat ya, Mirai," ucap Aiko dengan nada senang. Dan Mirai pun membalasnya dengan senyuman.

__ADS_1


Di sisi lain, Megumi berada di dalam kelasnya dengan emosi yang berapi-api. Ia sangat membenci Mirai dan ia sudah merencanakan sesuatu yang buruk pada gadis itu.


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya Eisuke harus jadi milikku. Jika aku tidak bisa mendapatkannya maka aku akan membunuhmu gadis jalang!" ucap Megumi.


__ADS_2