
Eisuke terlihat tenang dan diam. Ia tidak menghiraukan Mirai. Namun, gadis itu tetap lanjut bicara.
Mirai mabuk dan bicara lancang. "Eisuke, kau adalah cowok playboy yang pernah aku temui. Kau sudah punya Megumi, tapi masih saja mendekati teman baikku. Aku tidak akan mengampunimu."
Eisuke melirik ke arah Mirai dengan tatapan dingin. "Diam. Kau sedang mabuk!"
Mirai tertawa. "Mabuk? Aku tidak mabuk! Kau yang mabuk. Kau sudah punya tunangan Megumi, tetapi kau juga dekat dengan Aya. Aku melihatmu datang bersama Aya di pesta pertunanganku. Kau sungguh seorang playboy. Aku membencimu!"
Mendengar ocehan Mirai yang mabuk, Eisuke menjadi kesal. "Apa kau tidak bisa diam?!"
"Aku tidak akan diam! Hanya karena kau tampan, kau jadi seenaknya mendekati dan mempermainkan wanita. Aku membencimu. Aku sangat membencimu!" ucap Mirai lantang dan kian menjadi-jadi.
"DIAM!" bentak Eisuke marah.
"Tidak! Aku akan terus bicara sampai kau mau merubah sifat burukmu itu. Aku tidak akan membiarkanmu mempermainkan teman..."
"Mmmhh..Mmh...!" Eisuke membungkam Mirai dengan ciuman. Ia menekan bibir gadis itu dengan kuat dan tidak memberinya ruang untuk bernafas. Tangannya mendekap tubuh Mirai dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Huff.. Mmmhh!" Lepaskan a-ku!" Mirai menggenggam tangannya, lalu memukul dada Eisuke dengan sekuat tenaganya. Namun, usahanya sia-sia dan nihil. Karena cowok tampan itu tidak melepaskannya dengan mudah. Eisuke terus ******* bibir gadis itu berulang kali.
Sesaat kemudian, ciumannya berubah menjadi lembut. Mirai pun mulai mengendorkan genggamannya dan berhenti memukul Eisuke.
Eisuke berbisik lembut di telinga Mirai. "Kenapa kau diam? Apa kau suka aku melakukan ini?"
"Dasar Bajingan!" Mirai hendak menampar, tetapi Eisuke meraih tangannya dan memegangnya.
Eisuke tersenyum tipis. "Selama kau masih ada di dalam mobilku, kau tidak akan bisa lepas dariku."
Eisuke menarik tangan Mirai, lalu mencium gadis itu lagi. Ciuman yang manis dan penuh gairah. Awalnya Mirai memberontak, tetapi perlahan-lahan gadis itu mulai menikmati ciumannya bersama Eisuke. Mirai bergerak dan melingkarkan tangannya di leher cowok itu. Ia membalas ciuman itu dan mereka berdua berciuman layaknya sepasang kekasih. Ciuman berlangsung lama, seperti ada kerinduan yang terpendam diantara mereka.
Mobil berhenti di depan rumah Mirai, dan ciuman mereka terganggu oleh suara supir yang mengemudi mobil itu.
"Tuan Muda, kita sudah tiba di alamat yang dituju," ucap Supir.
Seketika itu, bibir basah mereka terpisah. Eisuke menarik dirinya, lalu kembali duduk normal seperti semula.
"Antarkan dia masuk ke rumahnya. Aku akan menunggu di sini," perintah Eisuke.
"Baik, Tuan Muda," jawab Supir itu patuh. Supir itu membuka pintu mobil, lalu memapah Mirai keluar. Namun, gadis itu memberontak dan bicara lancang.
__ADS_1
"Eisuke! Aku tidak akan mengampuni perbuatanmu. Aku tidak akan memaafkanmu!" teriak Mirai ditengah mabuknya.
Supir itu berhasil memapah Mirai ke rumahnya. Paman membuka pintu, lalu memapah gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Eisuke! Aku tidak akan melepaskanmu!"
"Mirai, kau sedang mabuk. Sudah jangan berteriak-teriak lagi," ucap Paman sambil memapah Mirai masuk ke dalam rumah.
"Aku tidak mabuk, Paman. Aku bicara yang sebenarnya. Eisuke ada di sana aku melihatnya." Mirai menunjuk ke arah pintu keluar.
"Bukankah kau tadi pergi bersama Aya?" tanya Paman bingung.
"Aku bersama Eisuke, Paman. Sungguh, aku tidak bohong," jawab Mirai yakin.
Paman menggelengkan kepala. "Ah, kau ini sepertinya sudah mabuk berat. Sudah jangan sebut nama Eisuke lagi. Jika Hiro mendengarnya dia akan marah."
Sementara itu, dalam perjalanan kembali ke rumah. Eisuke terus-menerus memikirkan Mirai.
"Aku tidak bisa pergi ke rumahnya karena aku tidak ingin keluarganya salah paham denganku. Aku tidak ingin merusak hubungannya dengan Hiro," ucap Eisuke dalam hatinya.
***
"Tidurku terasa nyenyak sekali." Mirai merentangkan kedua tangannya. "Tunggu, semalam aku melihat Eisuke. Apakah itu mimpi? Aku telah berciuman dengannya."
Mirai menyentuh bibirnya dengan jari. Ia mengingat kembali kejadian semalam.
"Pasti itu cuma mimpi. Tidak mungkin aku bersama Eisuke. Aku minum bersama Aya semalam," gumam Mirai.
Kini, Mirai telah tiba di kampus. Saat tengah mengikuti mata pelajaran kuliah di kelas, pikirannya masih terganggu oleh kejadian semalam. Ia memutuskan untuk bertanya kepada Aya.
"Aya, apa semalam kau yang mengantarku pulang?" tanya Mirai bimbang.
"Kau tidak ingat apa-apa semalam? Kau mabuk berat," jawab Aya pura-pura tidak tahu.
"Oh, iya. Aku benar-benar mabuk semalam." Mirai tersenyum miris.
"Eisuke yang aku lihat semalam pasti hanyalah mimpi," batin Mirai.
Disaat perjalanan pulang bersama Hiro, Mirai terlihat gundah dan tidak banyak bicara. Ia terus-menerus berpikir tentang Eisuke.
__ADS_1
"Kau hari ini sangat aneh tidak seperti biasanya. Apa kau sedang ada masalah?" tanya Hiro ingin tahu.
"Tidak ada. Aku hanya kurang enak badan hari ini," jawab Mirai menutupi kegelisahannya.
"Kalau begitu kau harus banyak istirahat," ucap Hiro khawatir.
Mirai mengangguk. "Iya, sampai rumah aku akan istirahat."
***
Beberapa hari kemudian, Aya telah menyusun rencana untuk Mirai. Cewek tomboy itu berusaha mendekatkan kembali Mirai dengan Eisuke.
Siang itu, Aya mengajak Mirai ke gudang dan minta tolong sesuatu.
"Mirai, bisa minta tolong sebentar? Jam tanganku ketinggalan di atas rak lemari itu. Bisakah kau mengambilkannya untukku?" Aya memohon.
Mirai mendongak ke atas. "Umm.. rak lemari itu sangat tinggi."
"Sebenarnya aku ingin mengambilnya sendiri. Namun aku tidak ada waktu sekarang. Profesor memanggilku, dan aku harus pergi menemuinya di kantor," ucap Aya bohong.
"Umm, baiklah. Aku akan membantumu mengambilnya," jawab Mirai.
Aya tersenyum. "Terima kasih, Mirai. Kau memang temanku yang paling baik. Hati-hati mengambilnya. Aku pergi dulu."
Aya pergi meninggalkan gudang. Setelah itu, Mirai mengambil tangga kayu yang ada di ujung ruangan, lalu ia memanjat ke atas mencari jam tangan Aya yang hilang.
Sementara itu, di tempat yang lain. Aya menggunakan ponsel-nya untuk mengirim pesan kepada Eisuke.
"Mirai saat ini sedang dalam bahaya di gudang. Cepat tolong dia," ucap Aya pada pesan itu.
Sesudah itu, Aya pergi ke kelas untuk menemui Hiro yang tengah menunggu Mirai.
"Hiro," panggil Aya.
"Apa kau tahu dimana pacarku? Aku sudah menelepon dan mencarinya, tetapi dia tidak ada." Hiro terlihat khawatir.
"Tenang, jangan khawatir. Mirai sekarang sedang membantuku mencari jam tanganku yang hilang. Hari ini dia akan pulang bersamaku. Jadi, kau tidak usah khawatir." Aya mencoba meyakinkan Hiro.
"Hmm, oke. Aku percaya padamu, tapi nanti jika sudah selesai suruh dia menghubungiku." Hiro percaya dengan kata-kata Aya.
__ADS_1
"Oke, aku akan bilang padanya," jawab Aya.