Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 43 --> Persiapan pernikahan


__ADS_3

Mirai melihatnya dengan perasaan cemburu. Ia dengan cepat menggelengkan kepala mencoba menyangkal perasaannya.


"Sebentar lagi aku akan menikah dengan Hiro. Aku tidak boleh seperti ini. Bagaimanapun itu, aku dan Eisuke hanyalah teman. Aku harus bersikap layaknya teman, tidak boleh lebih dari itu," gumam Mirai.


Mirai bergerak ingin menghampiri Eisuke untuk mengucapkan selamat. Tiba-tiba, ada sebuah tangan yang menariknya.


Mirai menoleh. "Hiro!"


"Kau ingin pergi kemana?" tanya Hiro sambil mengerutkan kening.


"Aku ingin mengucapkan selamat pada Eisuke. Sebagai teman kami sudah lama tidak bertemu," jawab Mirai.


"Tidak! Kau tidak boleh menemuinya lagi. Aku tidak mengizinkanmu untuk menemuinya!" ucap Hiro dengan nada tinggi. Hiro menarik pergelangan tangan Mirai, lalu membawanya keluar dari gedung.


"Hiro, aku hanya ingin mengucapkan selamat sebagai teman, tidak lebih dari itu. Kenapa kau melarangku?" Mirai ingin tahu alasannya.


"Pokoknya mulai sekarang aku melarangmu untuk menemuinya. Aku tidak suka kau bertemu dengannya. Dan tiga hari lagi, kita akan menikah. Tolong hargai aku sebagai pasanganmu," ucap Hiro.


Mirai mengangguk pelan. "Baiklah. Aku tidak akan menemuinya lagi."


Hiro memeluk Mirai dengan erat. "Terima kasih. Kau tahu, aku sangat mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu."


"Aku mengerti," jawab Mirai.


Malam hari itu, keluarga Harada sedang berkumpul bersama. Eisuke telah mengajukan sesuatu pada ayahnya. Ia ingin meninggalkan Tokyo, dan ingin pergi ke Kyoto.


"Eisuke, apa kau yakin ingin tinggal di Kyoto? coba pikirkan sekali lagi tentang keputusanmu ini," ucap Ayano khawatir.


"Iya. Aku ingin tinggal di Kyoto. Aku ingin belajar mengelola hotel milik ayah di sana," jawab Eisuke.


"Jangan bertindak bodoh. Kau telah ditunjuk kakek sebagai penerus perusahaan, tetapi kenapa kau malah ingin mengelola hotel? Sebaiknya hentikan pikiran bodohmu itu!" Kaito tidak setuju.


"Biarkan saja dia. Anak ini memang tidak pernah mau diatur!" ucap Kenji.


Ayano menghela nafas. "Baiklah. Jika kau tetap ingin tinggal di sana, ibu akan mengizinkan. Eisuke, kalau kau sudah tinggal di sana, tolong sering-seringlah telepon ibu."


Eisuke mengangguk. "Aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Ibu tidak usah khawatir."


"Ibu sekarang mau istirahat di kamar. Eisuke, nanti jangan lupa telepon ibu kalau kau sudah tiba di Kyoto." Ayano bangkit dari sofa, lalu ia pergi menuju kamarnya. Perlahan, Kenji menyusulnya dari belakang.


Kini, tersisa Kaito dan Eisuke di ruangan itu.

__ADS_1


"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, aku mau bersiap-siap untuk pergi," ucap Eisuke sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu!" Kaito dengan cepat menghentikannya. "Tiga hari lagi Hiro dan Mirai akan menikah. Mereka mengundangmu untuk datang."


Kaito menyodorkan sebuah undangan pernikahan pada Eisuke.


"Sampaikan ucapan selamat dariku untuk mereka. Maaf, aku tidak bisa hadir." Eisuke menolak dan tidak ingin menerima undangan itu.


Kaito hanya diam melihat adiknya pergi. Eisuke mengemasi barang-barangnya, lalu pergi keluar. Seorang supir pribadi tengah menunggunya di depan rumah. Eisuke masuk ke dalam mobil, kemudian mobil itu melaju pergi menuju ke Kyoto.


***


Keesokan harinya, Mirai dan Hiro pergi ke butik Aiko untuk mencoba gaun pernikahan.


"Bagaimana yang ini?" Mirai keluar dari kamar ganti.


"Hm, ini kurang cocok. Coba ganti yang lain," jawab Hiro.


"Hiro, aku sudah mencoba lima gaun, tetapi satu pun tidak ada yang cocok," ucap Mirai kesal.


"Mirai sayang, jangan marah. Coba lagi yang lain." ucap Hiro sambil menangkup pipi Mirai dengan lembut.


"Ehem... Maaf menganggu, apa kau mau mencoba yang ini? Kelihatannya ini sangat cocok untukmu." Aiko datang dengan membawa sebuah gaun warna putih.


Sesaat kemudian, Mirai keluar dengan memakai gaun dari Aiko. Dan seketika itu juga, Hiro tercengang dan terpesona melihat Mirai yang cantik.


"Hiro, bagaimana menurutmu?" tanya Mirai.


"Ka-kau sangat cantik," ucap Hiro terbata takjub.


"Benarkah? Umm, kalau begitu aku ambil yang ini," ucap Mirai.


Hiro mengangguk dan membalas Mirai dengan senyuman.


"Iya, aku ambil yang ini sekalian rias pengantin untuk Mirai," jawab Hiro.


"Oke, kalau begitu enam jam sebelum acara dimulai, Mirai harus datang ke sini untuk melakukan persiapan," ucap Aiko.


"Baik, karena semua yang aku butuhkan sudah selesai maka aku dan Mirai mau pamit," ucap Hiro pamitan.


"Hati-hati di jalan," Aiko tersenyum melihat sepasang calon pengantin itu.

__ADS_1


Tak lama setelah Mirai dan Hiro pergi, Kaito datang ke butik Aiko.


"Nona Aiko."


Aiko menoleh. "Kak Kaito, senang kita bisa bertemu lagi. Ada yang bisa aku bantu?"


"Aku kemari ingin memesan baju kemeja. Kebetulan waktu dulu ke sini, aku pernah melihat kemeja yang aku suka. Bolehkah aku melihat baju koleksimu lagi?" tanya Kaito.


"Iya, boleh. Mari ikut aku!" Aiko membawa Kaito ke tempat koleksi baju miliknya.


Setelah cukup lama memilih, akhirnya Kaito menemukan kemeja yang ia sukai.


"Nah, ini yang aku suka. Namun kelihatannya, ukuran kemeja ini terlalu besar untukku," ucap Kaito sedikit kecewa.


"Coba sini aku lihat." Aiko melihat kemeja yang Kaito pegang. "Ehm, benar. Kemeja ini sedikit lebih besar, tetapi jangan khawatir aku akan mengecilkan kemeja ini sesuai dengan ukuran yang pas untukmu."


Kaito tersenyum. "Terima kasih. Aku lega mendengarnya."


"Sini, aku akan mengukur lebar dada kak Kaito," ucap Aiko.


Kaito mendekati Aiko, lalu ia merentangkan kedua tangannya ke samping. Saat hendak mengukur dada Kaito, tiba-tiba wajah Aiko memerah dan hatinya berdebar-debar. Kaito mengetahuinya, dan ia tersenyum.


Setelah selesai mengukur, Aiko mencatatnya di buku.


"Aku akan mengecilkan kemeja ini. Mungkin besok lusa sudah selesai," ucap Aiko.


"Besok lusa jam berapa?" tanya Kaito.


"Ehm, mungkin pagi sudah selesai karena siangnya aku sibuk merias pengantin Mirai. Apakah kemeja ini nanti akan dipakai ke pesta pernikahan Mirai?" tanya Aiko ingin tahu.


"Iya benar. Kemeja ini akan aku pakai ke acara pernikahan mereka. Besok lusa aku akan datang ke sini. Aku sekarang mau pamit." Kaito melambaikan tangan dan tersenyum pada Aiko.


Setelah Kaito pergi, Aiko meletakkan kedua tangan di dadanya. "Setiap kali dekat dengan kak Kaito, aku selalu grogi. Apakah ini yang dinamakan cinta?"


***


Sehari menjelang pernikahan, Mirai berkumpul bersama Paman dan Yoshi. Mereka makan bersama di rumah.


"Akhirnya, keponakan paman besok akan menikah," ucap Paman dengan raut wajah bahagia.


"Kak Mirai, selamat ya, besok kakak akan menikah," ucap Yoshi ikut bahagia.

__ADS_1


"Paman, Yoshi, terima kasih. Bagaimanapun kalian adalah keluargaku. Meskipun aku sudah menikah nanti, aku akan sering datang ke sini untuk mengunjungi kalian," ucap Mirai.


Paman, Yoshi, dan Mirai menikmati makan bersama dan mereka terlihat bahagia. Paman menuangkan bir ke dalam tiga gelas, kemudian mereka bertiga bersulang merayakan hari kebahagiaan Mirai.


__ADS_2