
Saat pelajaran di kelas berlangsung, Aiko mendekati Mirai dan berbisik sesuatu.
"Mirai, besok hari minggu kau ada acara?"
"Tidak ada. Kenapa?"
"Besok hari minggu aku mau pergi ke kuil Akasaka. Dengar-dengar di kuil itu sangat manjur untuk doa mencari jodoh. Aku ingin berdoa di sana dan aku ingin mengajakmu pergi bersama." ucap Aiko.
Mirai berpikir sejenak. "Umm..."
"Bukankah selama ini kau ingin bertemu dengan anak laki-laki itu? Siapa tahu setelah kau berdoa di sana, kalian bisa bertemu lagi." sambung Aiko.
"Um, baiklah aku ikut," jawab Mirai.
"Oh ya, besok Hiro juga ikut. Aku sudah memberitahunya tadi. Besok kita bertiga berangkat bersama. Aku dan Hiro akan menjemputmu," ucap Aiko sambil tersenyum.
"Oke." Mirai setuju.
***
Hari minggu telah tiba, Aiko, Hiro, dan Mirai telah sampai di kuil Akasaka. Kuil ini dikelilingi pohon-pohon rindang dan juga udara yang sejuk untuk dinikmati.
Tiba di depan kuil, mereka mencuci tangan, lalu masuk ke dalam untuk berdoa.
Mirai menyentuh lonceng di atas kepalanya dan berdoa dalam hati. "Jika Tuhan mengijinkan, aku ingin bertemu lagi dengan anak laki-laki itu. Aku ingin mengembalikan saputangan ini dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Dan juga, di dalam hatiku ini, aku menyukai Eisuke. Jika memang aku dan dia berjodoh, satukanlah kami. Aku ingin bersama dia selamanya."
Sementara itu, Hiro menundukkan kepala dan berdoa dalam hatinya. "Aku berharap Mirai mau menerimaku dan membuka hatinya untukku. Aku sangat mencintainya dan aku ingin dia menjadi kekasihku!"
Beberapa menit setelah doa, Mereka bertiga keluar dari kuil.
" Ah, senangnya bisa pergi ke kuil. Hatiku nyaman," ucap Aiko senang.
"Mirai, apa hari ini hatimu juga senang?" tanya Hiro.
"Iya, pohon-pohon di sini membuatku rilek dan nyaman," jawab Mirai sambil tersenyum.
"Hei, di sini ada penjual takoyaki enak. Ayo kita makan takoyaki!" ajak Aiko. Hiro dan Mirai setuju dan mengikutinya.
"Buka mulutmu," ucap Hiro pada Mirai.
"Kenapa?"
"Cepat buka."
Mirai membuka mulutnya dan Hiro memasukkan takoyaki ke dalam mulut gadis itu. Cowok rambut merah itu menyuapi Mirai dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
"Ehem.. Ciee.. kalian berdua kelihatan serasi," ucap Aiko menggoda.
Di sisi lain, Kaito dan Eisuke sedang bersantai di ruang keluarga.
"Aku dengar kau dan Mirai menjalin hubungan dekat. Apa itu benar?" tanya Kaito.
"Kami berteman," jawab Eisuke singkat.
"Jangan menutupi kenyataan. Aku tahu kau sekarang sudah berubah. Kau sekarang jauh lebih baik daripada yang dulu. Dan aku juga tahu kalau kau telah jatuh cinta dengan gadis itu." Kaito tersenyum tipis.
"Kaito, jangan bicarakan itu lagi," ucap Eisuke pelan dan sedikit malu-malu.
"Eisuke, ibu ingin bicara denganmu." Ayano tiba-tiba muncul dari sudut lain.
"Manager kei mengatakan padaku kalau beberapa hari yang lalu kau datang ke restaurant bersama seorang cewek. Apakah itu benar? Kalau boleh tahu siapa cewek itu?" Ayano penasaran ingin tahu.
"Kalau aku boleh menjawab, cewek itu pasti Mirai. Benarkan, Eisuke?" Kaito tersenyum penuh keyakinan.
"Iya, benar. Cewek itu adalah Mirai. Kalian sekarang sudah puas?" Eisuke kesal sekaligus malu karena merasa digoda terus-terusan.
Ayano melotot terkejut. "Aku tidak menyangka kau dan Mirai menjalin hubungan dekat. Tapi aku senang kau dekat dengannya. Ibu tidak keberatan! Baiklah. Aku sekarang mau istirahat."
"Aku juga mau kembali ke kamar." Eisuke bangkit berdiri dari kursinya.
Eisuke tertegun mendengar nada tinggi Kaito.
"Aku sudah lama ingin menanyakan hal ini padamu. Bisakah kau menjawabnya dengan jujur? Kepada siapa kau memberikan saputangan warisan kakek?" tanya Kaito serius ingin tahu.
Eisuke terkejut dengan pertanyaan Kaito yang tak terduga.
"Kau tidak perlu tahu!" jawab Eisuke dingin, lalu ia pergi meninggalkan Kaito.
"Jika kau tidak mau memberitahuku, maka aku sendiri yang akan mencari tahu siapa orang itu," ucap Kaito dalam hatinya.
Setelah dari kuil, Mirai kembali ke rumah dan bersiap makan malam.
"Kak Mirai, bagaimana kunjungannya di kuil? Apakah menyenangkan?" tanya Yoshi.
"Tentu saja menyenangkan."
"Syukurlah, Kak."
"Yoshi, restaurant kita sekarang lebih ramai dibanding biasanya. Dan sesuai janji, Paman akan memberimu gaji. Ini tidak banyak, tetapi terimalah." Paman memberikan Yoshi sebuah amplop.
"Horee.. ini adalah gaji pertamaku. Terima kasih, Paman." Yoshi senang.
__ADS_1
Paman tersenyum. "Anak pintar."
"Sejak adanya Yoshi, keluarga kecilku terasa lebih hidup. Aku dan Yoshi memiliki nasib yang sama. Aku merasa kami ditakdirkan untuk menjadi keluarga. Dan aku ingin tahu lebih banyak tentang dia," batin Mirai.
"Yoshi, kalau boleh tahu kenapa kau dulu sangat membenci Eisuke? Bisakah kau menceritakan semuanya padaku?" tanya Mirai.
Yoshi diam sejenak, lalu bicara. "Itu karena... setelah kecelakaan itu terjadi, semua orang di rumah sakit menyalahkan ayahku. Mereka juga mengatakan kalau ayahku mabuk, padahal aku tahu dengan jelas kalau ayahku tidak pernah minum atau mabuk. Mereka semua memfitnah ayahku, dan aku mendengar dari beberapa orang kalau keluarga Harada lah yang telah mengatakan itu."
Mirai mengeryitkan keningnya bingung. "Tapi apa hubungan keluarga Harada dengan ayahmu? Apakah kau mendengar langsung kalau keluarga Harada yang mengatakan itu?"
Yoshi menggelengkan kepala. "Tidak. Aku tidak mendengarnya langsung. Oleh karena itu, aku juga belum yakin."
"Sudah jangan diingat lagi. Itu sudah jadi masa lalu. Sekarang kita lupakan semua itu dan memulai hidup baru. Mirai, Yoshi, kita sekarang adalah keluarga. Yang dulu biarlah berlalu, yang sudah terjadi biarlah terjadi. Hidup terus berjalan dan kita harus menatap ke depan." ujar Paman.
"Iya, paman," ucap Mirai dan Yoshi kompak.
***
Satu minggu lagi liburan musim dingin. Pada liburan musim dingin ini, mahasiswa diliburkan selama satu bulan. Aiko telah merencanakan sesuatu untuk liburan musim ini.
"Mirai, Hiro, sini kumpul," panggil Aiko.
"Ada apa?"
"Satu minggu lagi liburan musim dingin. Bagaimana kalau kita pergi ke Hokkaido? Kita main ski di sana pasti sangat menyenangkan," ajak Aiko semangat.
"Oke, aku setuju," ucap Hiro.
"Tapi aku tidak bisa bermain ski," ucap Mirai.
"Aku bisa main ski. Jangan khawatir, nanti aku akan mengajarimu," ucap Hiro penuh semangat.
"Oh ya, Mirai. Bagaimana kalau kita ajak Eisuke? Kau dan dia berteman baik, kan?" tanya Aiko sambil tersenyum.
"Aku tidak terima Eisuke ikut. Jika dia ikut, maka aku tidak akan ikut!" ancam Hiro.
Aiko menatap Hiro kesal. "Hiro, jangan seperti anak kecil! Bagaimanapun Eisuke masih teman kita satu kelas, dan dia juga teman Mirai. Terserah kalau kau tidak ikut. Aku dan Mirai akan tetap pergi ke Hokkaido."
Hiro terdiam dan berpikir serius. Ia menyadari jika dirinya tidak ikut maka Eisuke akan lebih leluasa mendekati Mirai.
"Baik lah aku ikut!" ucap Hiro terpaksa.
Aiko tersenyum. "Nah, gitu dong."
"Baiklah, kalau semua sudah setuju. Aku mau pergi ke perpustakaan sekarang." Mirai melambaikan tangan, lalu pergi.
__ADS_1