Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 48 --> Kecelakaan yang tak terduga


__ADS_3

Mirai tertawa. "Baiklah, aku menyerah."


Mereka berdua saling tertawa satu sama lain. Menikmati perjalanan menuju Tokyo.


***


Tiga jam berlalu, kini Mirai dan Eisuke telah tiba di Tokyo. Dalam perjalanan menuju kediaman Harada, Mirai merasa tidak nyaman dan penuh ketakutan. Rasa kekhawatiran mengalir dalam pikirannya.


"Bagaimana jika orangtua Eisuke tidak menyukaiku seperti orangtua Hiro dulu? Aku benar-benar takut hal ini terulang lagi," batin Mirai khawatir.


Mirai tak henti-hentinya menggigit bibirnya. Ia merasa tak percaya diri. Rasa trauma atas penghinaan yang diucapkan orangtua Hiro muncul lagi dalam benaknya. Tiba-tiba, ia menyadari ada sebuah tangan yang sedang meremas pinggangnya.


Mirai menoleh. "Eisuke."


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan? Aku sudah bilang padamu, percayalah padaku. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap Eisuke.


Di sisi lain, Hiro tiba di Tokyo dan langsung menuju ke tempat Aiko. Cowok itu berjalan terhuyung lemas dan kelelahan. Ditambah lagi, rasa kesedihan yang mendalam pada dirinya.


Suara ketukan pintu sayup-sayup terdengar. Aiko membuka pintu dan terkejut melihat Hiro lemas tak punya tenaga. Tubuh cowok itu melemah dan ambruk di lantai.


"Hiro! Hiro!" panggil Aiko.


Aiko menyangga cowok itu dengan sekuat tenaganya. Ia membawanya masuk ke dalam dan mendudukannya di sebuah sofa.


"Hiro, kau tidak apa-apa?" tanya Aiko khawatir.


"Aiko, aku telah kehilangan Mirai. Bahkan, sampai akhir aku masih tidak bisa mendapatkannya," ucap Hiro sambil meneteskan air mata.


Aiko memeluk Hiro dan menepuk punggungnya pelan-pelan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba menghibur teman baiknya itu.


"Ini pertama kalinya aku menangis untuk seorang wanita. Aku sungguh mencintainya," ucap Hiro berlinang air mata.


"Hiro, tabahkan hatimu," ucap Aiko menghibur.

__ADS_1


Di sudut lain, Eisuke dan Mirai telah tiba di depan rumah kediaman Harada. Gadis itu mendadak kaku dan meremas erat jari tangan Eisuke.


"Eisuke, aku takut!" ucap Mirai.


Eisuke menoleh. "Jangan takut! ada aku disampingmu."


Eisuke membawa Mirai masuk ke dalam rumahnya. Setelah masuk ke dalam rumah itu, mereka terkejut melihat Kaito, Ayano, dan Kenji yang sedang duduk bersama di ruangan.


"Eisuke, kenapa kau tiba-tiba kembali?" Ayano bingung, lalu ia menoleh ke arah Mirai. "Hm, gadis ini..?"


"Aku kembali karena aku ingin mengatakan sesuatu. Aku dan Mirai saling mencintai. Aku akan menikahinya!" jawab Eisuke tegas.


Semua pandangan tertuju pada gadis cantik itu. Namun, Mirai hanya membisu ketika menatap semua orang di sekitarnya.


"Aku pernah bertemu wanita ini di pesta ulang tahun kak Kaito. Dan ternyata wanita ini adalah ibunya Eisuke," ucap Mirai dalam hatinya.


Ayano menatap Mirai. "Bukankah kau sudah bertunangan dengan Hiro?"


"Sa-saya.." Mirai menunduk dan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku tidak setuju! Aku sudah mendengar kalau gadis ini kabur saat pernikahannya dengan keluarga Watanabe. Aku tidak setuju kalau kau menikah dengannya!" ucap Kenji tidak setuju.


"Ayah, Mirai meninggalkan pernikahan itu karena dia tidak mencintai Hiro. Aku dan Mirai saling mencintai dan kami ingin bersama. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu. Hanya ini saja yang aku inginkan!" ucap Eisuke.


Kaito yang dari tadi diam, akhirnya ikut angkat bicara. "Aku pikir tidak ada salahnya jika mereka menikah. Mereka berdua saling mencintai, sebaiknya ayah merestui mereka."


"TIDAK! Aku bilang tidak ya tidak!" jawab Kenji keras kepala.


Eisuke menatap Kenji kesal. "Apa ayah lupa, kejahatan ayah di masa lalu? Ayah telah membunuh banyak orang dan salah satu diantaranya adalah orangtua Mirai. Dia adalah gadis satu-satunya yang selamat dari kecelakaan yang telah ayah buat! Bahkan, sampai sekarang ayah tidak merasa bersalah sedikit pun. Aku benar-benar kecewa padamu!"


Ayano terkejut dan menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi, Mirai adalah gadis yang selamat dalam kecelakaan puluhan tahun yang lalu?"


"Aku tidak peduli siapa dia pokoknya aku tidak mengizinkan kalian menikah!" ucap Kenji tak ingin dibantah.

__ADS_1


"Suamiku, restui saja mereka. Ini demi kebahagiaan anak kita. Sejak awal, aku juga sudah menyukai gadis ini," bujuk Ayano.


Kenji menatap tajam Mirai. "Aku tidak akan pernah menerima gadis yatim piatu seperti dia. Seharusnya dia dulu ikut mati bersama orangtuanya!"


Mirai tersentak kaget dan menggelengkan kepala. Ia merasa ketakutan dan air mata keluar bersamaan menyelimuti wajahnya yang polos. Bahkan, sampai tahap ini dia masih tak sanggup untuk bicara. Akhirnya, Mirai membalikkan badan dan berlari meninggalkan semua orang di belakangnya.


"Mirai!" Eisuke menoleh ke arah Mirai sejenak, lalu kembali menatap ayahnya. "Kau benar-benar keterlaluan!"


Eisuke dengan cepat mengejar Mirai yang berlari keluar rumah. Tanpa berpikir jernih, gadis itu berlari dan terus berlari menyusuri jalan.


"Mirai! Berhenti!"


Suara teriakan Eisuke terdengar jelas di telinga gadis itu. Namun, Mirai mengabaikannya dan terus berlari menyeberangi jalan. Mobil nampak ramai berlalu lalang di jalanan. Suara klakson mobil terus berbunyi di sekitar area itu.


Tanpa ragu-ragu, Eisuke mengejar gadis itu dan mengikutinya menyeberang jalan. Namun, ketidakberuntungan sedang menantinya. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi sedang melaju kencang dari arah kiri Eisuke. Dan sesaat kemudian..


Ciiitt.... BRUK !


Pengemudi mobil itu mengerem mobilnya dan berusaha menghindari Eisuke, tetapi tidak bisa. Kecepatan mobil itu terlalu tinggi dan akhirnya menyebabkan kecelakaan terjadi. Mobil itu menabrak Eisuke dan cowok itu lantas tak sadarkan diri.


Mendengar bunyi rem mobil yang keras, akhirnya Mirai berhenti dan menoleh ke belakang. Sontak ia terkejut ketika melihat Eisuke berbaring di jalan dengan darah mengalir dari tubuhnya.


"Eisuke!" jerit Mirai.


Mirai berlari mendekati Eisuke yang tergeletak di jalan. Ia menjerit histeris dan merasa ketakutan.


"Tolong, tolong panggilkan ambulan!" teriak Mirai pada orang-orang di sekitar.


Sesaat kemudian, mobil ambulan datang dan membawa Eisuke ke rumah sakit. Mirai ikut bersama mobil ambulan itu. Dan isakan tangisnya mulai terdengar keras di dalam mobil. Ia tak sanggup membayangkan bagaimana rasanya jika kehilangan orang yang dicintainya.


"Semua ini salahku. Andai saja aku tidak berlari keluar, mungkin kecelakaan ini tidak akan terjadi," batin Mirai menyesal.


Kini, mobil ambulan telah tiba di rumah sakit. Para petugas medis membawa Eisuke ke ruang gawat darurat untuk melakukan pemeriksaan. Karena lukanya dianggap cukup serius, akhirnya dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi.

__ADS_1


Mirai berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi dengan wajah cemas. Satu jam telah berlalu, tetapi dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Tak lama kemudian, Kaito dan Ayano datang dengan wajah kaku dan tegang.


"Mirai, bagaimana keadaan Eisuke?" tanya Kaito panik.


__ADS_2