
Mirai, Paman, dan Yoshi sedang sarapan pagi di rumahnya. Mereka tidak sengaja melihat siaran berita di TV. Dalam siaran itu, media memberitahukan bahwa Kenji Harada resmi ditahan. Dan kini, supir bus itu terbukti tidak bersalah.
"Paman Kenji masuk penjara!" ucap Mirai kaget.
"Akhirnya nama baik ayahku kembali," ucap Yoshi sambil mengusap air matanya.
Paman menghela nafas. "Ini semua sudah takdir."
"Semoga paman kenji selalu baik-baik saja selama di penjara. Dan aku tak henti-hentinya berharap, semoga Eisuke segera sadar dan sembuh dari sakitnya," doa Mirai tulus dalam hatinya.
Sementara itu, di alam mimpi, Eisuke bertemu dengan kakeknya yang sudah meninggal.
*Kakek : "Eisuke, ayo ikut pergi bersama kakek."
*Eisuke mengangguk dan mulai mengikuti kakeknya, tetapi dari belakang terdengar suara yang memanggilnya.
*Mirai : "Eisuke!"
*Eisuke menoleh ke belakang dan menghadap Mirai.
*Kakek : "Eisuke, siapa gadis itu?"
*Eisuke : "Dia adalah Mirai, kekasihku."
*Mirai : "Eisuke, kembali lah. Jangan pergi!"
*Eisuke : "Aku ingin bersama Mirai, Kek. Maaf, aku tidak bisa pergi bersama kakek."
*Kakek : "Apakah kau mencintainya?"
*Eisuke : "Iya, aku sangat mencintainya."
*Kakek : "Pergilah bersamanya! Kakek merestui kalian."
***
Seorang perawat berjalan tergesa-gesa menuju ruang dokter.
"Dokter, pasien bernama Eisuke di ruang ICU mengalami perubahan," ucap perawat itu.
Dokter tersentak kaget. "Benarkah? Mari kita cek ke sana."
Dokter bersama perawat itu pergi ke ruang ICU. Sesampainya di sana, dokter langsung memeriksa Eisuke dengan cepat.
"Ini sungguh aneh. Aku kira anak muda ini tidak akan selamat. Namun sebaliknya, justru dia sekarang menunjukkan perubahan yang baik," ucap Dokter itu.
Mendengar kabar Eisuke membaik, Ayano pergi ke rumah sakit dengan cepat. Ayano tiba di ruang ICU tempat Eisuke dirawat, tetapi ruangan itu kosong dan tidak ada Eisuke di sana. Ayano menghampiri seorang perawat yang kebetulan sedang berjalan di depan ruangan itu.
"Permisi, apakah anda tahu pasien yang dirawat di ruang ICU ini? Kenapa dia tidak ada di dalam?" tanya Ayano.
__ADS_1
"Oh, karena kondisinya sudah membaik, dokter memindahkannya ke ruangan lain. Ruangannya ada di ujung lorong ini." Perawat itu memberi petunjuk.
"Terima kasih," ucap Ayano tergesa-gesa.
Ayano masuk ke dalam ruangan yang ditunjuk perawat itu. Sebuah senyuman muncul di wajahnya ketika ia melihat putra bungsunya sedang duduk di tempat tidur.
"Eisuke," panggil Ayano.
Eisuke menoleh. "Ibu."
Ayano memeluk Eisuke. "Setelah sekian lama, akhirnya kau bangun juga."
Eisuke tersenyum. "Ibu, aku baik- baik saja."
Ayano melepas pelukannya dan tersenyum. "Apa yang kau rasakan sekarang? Apakah badanmu terasa sakit?"
Eisuke menggeleng. "Tidak, aku merasa enakan sekarang. Di mana Mirai? Apakah dia tidak datang ke rumah sakit?"
"Mirai datang mengunjungimu setiap hari. Mungkin sekarang dia belum berangkat. Sebentar, ibu akan meneleponnya," ucap Ayano sambil mengambil handphone-nya.
Ayano menelepon rumah Mirai dan saat telepon sudah tersambung, Eisuke mengambil alih ponsel itu.
"Hallo, bisa bicara dengan Mirai?" tanya Eisuke dalam telepon.
Sementara di rumah Mirai, paman sedang mengangkat telepon dari Eisuke. Namun, ia tak tahu kalau itu adalah Eisuke.
"Mirai, ada telepon untukmu," teriak Paman.
"Telepon dari siapa?" tanya Mirai.
"Dia tidak menyebutkan nama. Katanya dia adalah orang terdekatmu," jawab Paman tidak tahu.
"Seharusnya paman tanya namanya dengan jelas. Paman kan tahu kalau aku sekarang sedang sibuk siap-siap mau pergi ke rumah sakit," ucap Mirai sedikit kesal.
Tanpa disadari, suara keras percakapan itu terdengar di telepon. Mirai mengambil gagang telepon, lalu membuka mulutnya untuk bicara.
"Hallo, aku Mirai. Ini siapa ya?" tanya Mirai dalam telepon.
"Kau bersiap-siap terlalu lama sehingga membuatku tidak sabar untuk menunggu kedatanganmu," jawab Eisuke dalam telepon.
Mendengar suara yang tidak asing, sontak Mirai terdiam dan kaku. Ia dengan cepat menyadari kalau itu adalah suara orang yang telah lama ia rindukan.
"Eisuke? Benar kau adalah Eisuke? Kau sudah bangun dari koma? Aku akan pergi ke rumah sakit sekarang. Tunggu aku!" Mirai menutup telepon dan melompat girang.
"Paman, Eisuke sudah sadar dari koma. Aku sungguh bahagia. Terima kasih Tuhan kau telah mengabulkan semua doaku," ucap Mirai dengan penuh puji syukur.
Paman dan Yoshi tersenyum melihat Mirai yang sedang bahagia.
***
__ADS_1
Mirai dan keluarganya tiba di rumah sakit. Gadis itu masuk ke dalam ruangan dengan mata berbinar-binar.
"Eisuke!"
Mirai dengan cepat berlari memeluk Eisuke. Dengan berurai air mata, Mirai memeluk Eisuke dengan erat seolah-olah tidak ingin melepaskan pelukan itu.
"Eisuke, aku sangat merindukanmu," ucap Mirai.
Eisuke tersenyum memeluk Mirai. "Aku tahu, aku sekarang telah kembali. Aku juga sangat merindukanmu."
"Aku minta maaf, semua ini salahku. Kalau aku tidak pergi waktu itu, kau tidak akan mengalami hal seperti ini." Mirai merasa bersalah.
"Ssstt, semua ini bukan salahmu. Lupakan hal itu, sekarang kita sudah bersama lagi." Eisuke mempererat pelukannya.
Mengabaikan semua orang yang ada di sana. Eisuke dan Mirai berpelukan erat saling merindukan satu sama lain.
"Uhuk!" Paman memotong pelukan itu dengan suara batuk. Perlahan, Mirai dan Eisuke melepaskan pelukan mereka.
"Eisuke, paman senang akhirnya kau telah baikan," ucap Paman.
"Ini berkat doa kalian semua," jawab Eisuke.
"Sepertinya hari ini adalah hari yang bahagia." Kaito datang dan menyela pembicaraan. "Aku datang karena mendengar kabar keadaanmu sudah membaik."
Kaito menatap Eisuke dan Mirai. "Hmm, kalian berdua kelihatan serasi. Sepertinya aku harus segera mengatur pernikahan kalian."
"Aku merestui Eisuke menikah dengan keponakanku," ucap paman.
Ayano yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Aku juga setuju jika putraku Eisuke dan Mirai menikah."
"Tapi bagaimana dengan ayah? Bukankah dia tidak setuju?" tanya Eisuke.
Semua orang terdiam mendengar pertanyaan itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa kalian semua diam?" tanya Eisuke bingung.
"Sesungguhnya.." Kalimat Ayano terhenti karena Kaito memotong secara tiba-tiba.
"Apa kau tidak ingin menemui ayah?" tanya Kaito.
Eisuke memalingkan wajah. "Untuk apa aku menemuinya. Dia pasti tidak akan setuju dengan apa yang aku lakukan!"
"Kau salah, Eisuke. Paman Kenji sudah setuju dengan pernikahan kita," ucap Mirai.
"Huh? Apa itu benar?" Eisuke menatap Kaito dan Ayano. "Apakah yang dikatakan Mirai barusan itu benar?"
Ayano mengangguk pelan. "Iya, benar. Ayahmu sudah setuju dengan pernikahanmu dengan Mirai, dan ayahmu juga telah membuka kembali kasus kecelakaan itu. Dia telah menyerahkan dirinya ke polisi dan dia sekarang ada di penjara."
Eisuke menatap semua orang dengan sedikit bingung seolah-olah dirinya tak percaya dengan apa yang sudah didengarnya.
__ADS_1