Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 25 --> Kesedihan


__ADS_3

"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" tanya Aiko penuh kekhawatiran.


Dokter menatap mereka bertiga. "Mirai mengalami benturan yang cukup keras dan dia mengalami cedera pada kakinya. Tulang kakinya retak. Meskipun demikian, dengan berjalannya waktu bisa disembuhkan. Namun, dia tidak boleh bekerja atau melakukan pekerjaan apapun sampai cederanya benar-benar sembuh. Dia harus istirahat total setidaknya satu bulan atau lebih."


"Apa kami boleh menjenguknya?" tanya Hiro.


"Boleh. Namun saat ini dia sedang tertidur," jawab Dokter.


"Kalau begitu kami akan menjenguknya nanti setelah dia bangun. Terima kasih, Dokter. Kami permisi," ucap Aiko sambil berjalan keluar.


Aiko memberi isyarat pada Hiro dan Eisuke supaya mereka mengikutinya. Setelah itu, mereka bertiga melihat Mirai dari kaca jendela kamar.


"Kasihan Mirai. Kenapa dia bisa mengalami hal seperti ini," ucap Aiko sedih.


"Kalau si brengsek ini tidak ada, Mirai tidak akan mengalami hal seperti ini," ucap Hiro sambil mengepalkan kedua tangannya.


Aiko menoleh ke arah Hiro. "Hei, sudah jangan mulai lagi. Ini adalah kecelakaan. Tidak ada yang benar dan tidak ada salah. Hiro, daripada kau marah-marah seperti ini, sebaiknya kau temani aku makan sekarang."


"Aku ingin menjaga Mirai!" jawab Hiro.


"Nanti kita akan masuk ke kamarnya setelah dia bangun. Sekarang ayo temani aku makan, aku sangat lapar." Aiko menarik tangan Hiro, lalu menoleh ke arah Eisuke. "Eisuke, apa kau juga mau ikut makan bersama kami?"


"Tidak," jawab Eisuke.


"Oke, baiklah. Kalau begitu aku dan Hiro mau pergi makan sebentar," Aiko dan Hiro pergi meninggalkan Eisuke sendirian.


Setelah sesaat Aiko dan Hiro pergi, Eisuke memberanikan diri masuk ke dalam kamar Mirai. Ia mendekati Mirai yang sedang terpejam. Cowok tampan itu mengulurkan tangannya dan membelai wajah Mirai dengan lembut.


"Maafkan aku! Aku tidak bisa menjagamu dengan baik. Karena aku, kau jadi terluka. Mirai, aku berharap kau bisa hidup bahagia. Selamat tinggal!" Eisuke mengecup bibir Mirai dan air mata kesedihan keluar dari ujung matanya.


Eisuke keluar meninggalkan Mirai yang terpejam. Cowok itu kembali ke kamar hotelnya dan mengemasi semua barang-barangnya. Ia memutuskan untuk menolak perasaannya pada Mirai. Dan saat itu juga, Eisuke kembali ke Tokyo sendirian.


Pada saat Aiko dan Hiro kembali ke rumah sakit, Eisuke sudah tidak ada di sana.


"Eisuke tidak ada. Kemana dia pergi?" ucap Aiko sambil melihat sekeliling.


"Baguslah kalau dia pergi. Akhirnya bajingan itu tahu diri!" Hiro menyeringai.

__ADS_1


Tiba-tiba dari dalam ruangan terdengar suara Mirai yang terbangun. Aiko dan Hiro masuk ke dalam kamar.


"Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?" tanya Aiko cemas.


"Aku tidak apa-apa, cuma sedikit nyeri," jawab Mirai.


"Syukurlah kau tidak apa-apa," ucap Aiko lega.


"Dimana Eisuke?" tanya Mirai.


Aiko dan Hiro saling menatap satu sama lain. "Tadi waktu aku pergi makan dengan Hiro, Eisuke ada di sini. Namun, saat aku kembali dia sudah tidak ada."


"Benarkah? Kemana dia pergi," Mirai terlihat sedih.


Aiko menyadari raut wajah Mirai yang kelihatan sedih. "Ehm, jangan khawatir. Aku nanti akan pergi ke kamarnya. Siapa tahu dia sekarang sedang istirahat di kamarnya."


"Terima kasih, Aiko." Mirai tersenyum tipis.


"Aku akan menunggu di luar, jika butuh apa-apa panggil aku." Hiro berjalan keluar kamar.


"Mirai, aku akan kembali ke hotel sekarang. Nanti kalau aku bertemu Eisuke, aku akan menyuruh dia ke sini menemuimu. Oh ya, jika butuh sesuatu kau bisa panggil Hiro di luar. Aku pergi dulu," ucap Aiko.


"Kemana Eisuke? Jangan-jangan dia..." Timbul kecurigaan dalam hati Aiko. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi ke lobby dan bertanya kepada petugas hotel di sana.


"Permisi, apakah teman kami yang bernama Eisuke Harada masih menginap di hotel ini?" tanya Aiko.


"Baik, tunggu sebentar ya. Saya akan mengeceknya," petugas itu melihat catatan pembukuan di mejanya. "Maaf, Eisuke Harada sudah check out beberapa jam yang lalu."


Sontak Aiko terkejut. "Oh?! Begitu ya. Terima kasih infonya."


"Apa mungkin Eisuke sudah kembali ke Tokyo? Bagaimana ini! Apa yang harus aku katakan pada Mirai," gumam Aiko bingung.


Sementara itu, Eisuke telah tiba di rumahnya dengan raut wajah sedih. Ia berjalan dengan tatapan kosong.


"Kau sudah pulang? Bukankah kau bilang akan liburan di Hokkaido selama seminggu. Kenapa sekarang kau sudah pulang?" tanya Kaito.


Eisuke tertegun lemas. Tanpa mengeluarkan kata-kata, ia terus melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Kaito menyadari ada sesuatu yang aneh. "Aku tahu telah terjadi sesuatu padamu. Sampai kapan kau akan menyimpannya sendiri?"


Eisuke berhenti dan bicara pelan. "Aku akan melepaskan Mirai. Aku tidak ingin membuatnya menderita."


"Kau yakin dengan keputusanmu itu?" Kaito menatap Eisuke dengan penuh tanya. "Apa kau sudah siap untuk kehilangan dia?"


"Ya!" jawab Eisuke.


Di sisi lain, Aiko telah memberitahu Mirai kalau Eisuke sudah pergi dari hotel. Mirai sangat sedih dan mencoba menahan air matanya.


"Kenapa dia pergi begitu saja? Padahal orang yang ingin aku lihat pertama kali adalah dia," batin Mirai sedih.


"Jangan sedih. Aku akan menemanimu di sini. Kapan saja kau butuhkan, aku akan selalu ada untukmu," ucap Hiro sambil membelai wajah Mirai.


"Mirai, kata dokter kau harus istirahat di sini dulu selama sebulan. Dan maaf, aku mungkin tidak bisa menemanimu lama-lama di sini," ucap Aiko.


Mirai terkejut. "Tapi aku harus pulang untuk bekerja di minimarket. Pekerjaan itu sangat penting untukku."


"Kau tidak boleh bekerja lagi. Mulai hari ini aku yang akan memenuhi semua kebutuhanmu. Jangan khawatir, selama satu bulan ini aku akan menemanimu di sino." Hiro menatap Mirai dengan tersenyum.


"Syukurlah ada Hiro yang akan menemanimu. Besok lusa aku akan kembali ke Tokyo. Nanti aku akan memberitahu pamanmu. Dengan begitu dia tidak akan khawatir," ucap Aiko.


Mirai mengetahui kalau dirinya tidak bisa lagi bekerja. Ia hanya bisa meratapi nasib buruk yang menimpanya.


***


Hari demi hari telah berlalu, Hiro dengan sabar merawat Mirai dan menemaninya di rumah sakit. Sudah sebulan lebih, akhirnya hari ini mereka kembali ke Tokyo.


Hiro mengantar Mirai pulang ke rumahnya dan memapah gadis itu masuk ke dalam kamarnya.


"Hati-hati jalannya. Kata dokter kau masih tidak boleh banyak bergerak," ucap Hiro penuh perhatian.


Mirai mengangguk. "Terima kasih, Hiro."


Mirai berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata. Sesudah itu, Hiro keluar dari kamar Mirai.


"Mirai sudah tidur?" tanya Paman pada Hiro.

__ADS_1


"Iya, dia sudah tidur. Untuk saat ini Mirai tidak boleh bekerja. Dia harus istirahat total sampai kakinya benar-benar sembuh. Untuk masalah keuangan aku siap membantu dengan senang hati. Aku... benar-benar menyukai Mirai." Hiro mengungkapkan perasaannya.


__ADS_2