Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 8 --> Mencari pekerjaan


__ADS_3

Hari ini, Aiko terlihat berbeda dari biasanya. Ia lebih banyak diam dan melamun. Ia masih berpikir tentang saputangan milik Kaito yang dilihatnya waktu itu.


"Aiko!" panggil Mirai.


"Ah! Mirai, Kau membuatku kaget" Aiko terlihat kaget.


"Hari ini kau banyak melamun. Apa kau ada masalah?"


"Tidak ada."


"Sungguh?"


"Iya, sungguh."


"Jika ada masalah ceritalah padaku. Aku dengan setia akan mendengarkan semua keluh kesahmu," ucap Mirai sambil tersenyum.


"Iya, jangan khawatir," jawab Aiko dengan sedikit senyuman miris.


"Aku tidak dapat menjelaskan pada Mirai. Aku sedang berpikir bagaimana bisa saputangan kak Kaito begitu mirip dengan saputangan Mirai. Apakah anak laki-laki yang Mirai temui waktu kecil itu adalah Kaito? Aku tidak akan memberitahu Mirai sebelum aku tahu kebenarannya," ucap Aiko dalam hatinya.


Setelah pelajaran selesai, Mirai berjalan melewati lorong menuju ke Kafetaria. Pada waktu itu, ia melihat Eisuke tengah keluar dari ruang musik.


"Eisuke! Sepertinya aku harus berterima kasih kepadanya," ucap Mirai dalam hatinya.


"Eisuke!"


Cowok tampan itu menoleh ke arah Mirai dan mereka berdua saling berhadapan.


"Aku ingin berterima kasih padamu," ucap Mirai.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Eisuke tidak mengerti.


"Terima kasih karena kemarin kau mau berdansa denganku. Kalau kau tidak ada mungkin aku..." Mirai sedikit bingung mengutarakan isi hatinya.


Tiba-tiba, dari arah belakang Hiro muncul dan memotong pembicaraan. "Mirai!"


Mirai menoleh. "Hiro, apa yang kau lakukan di sini?"


"Aku ke sini menjemputmu untuk makan bersamaku. Ayo kita pergi!" Hiro tersenyum sinis saat menatap Eisuke.


Cowok rambut merah itu menarik tangan Mirai, lalu membawanya pergi. Mereka berdua meninggalkan Eisuke di belakangnya.


"Hiro, lepaskan!" Mirai memberontak.


"Baik, aku lepaskan," ucap Hiro sambil melepaskan tangan Mirai.

__ADS_1


"Lain kali kau tidak boleh melakukan hal ini lagi. Kau mengerti?" tanya Mirai sedikit kesal.


"Baik, My Princess aku mengerti," jawab Hiro dengan nada menggoda, lalu mereka berdua makan bersama di Kafetaria.


Jam terus berputar, Mirai pun pulang ke rumah. Setibanya di rumah, ia melihat Paman sedang berjalan membungkuk sambil memegangi pinggangnya.


"Paman, kenapa? Apa paman sakit?" tanya Mirai sambil berlari memapah pamannya.


"Paman tidak apa-apa. Hari ini restaurant lumayan ramai dan paman sedikit kewalahan. Mau bagaimana lagi, kita tidak sanggup membayar karyawan. Lagipula pinggang paman sakit karena dulu pernah jatuh dari tangga," ucap Paman.


"Jika paman sakit, tidak usah dipaksa bekerja. Libur dulu untuk beberapa hari. Setidaknya sampai paman merasa baikan." ucap Mirai khawatir.


"Mana bisa begitu. Kalau restaurant tutup, kita nanti mau makan apa? Sudah jangan terlalu pikirkan paman. Kau harus fokus dengan kuliahmu, karena itu sangat penting untuk masa depan," ujar Paman.


Mirai terdiam dan berkata dalam hatinya. "Paman sangat peduli padaku. Sepertinya aku harus segera mencari pekerjaan sampingan untuk berobat paman dan untuk membayar kuliahku nanti."


Keesokan harinya, Aiko berjalan di halaman kampus dan tidak sengaja melihat Kaito sedang keluar dari mobilnya. Sontak Aiko berlari mendekatinya.


"Kak Kaito..."


Kaito menoleh ." Oh, Nona Aiko."


"Ehm, Kak Kaito berangkat kuliah sendirian?" tanya Aiko basa basi.


"Iya, aku selalu berangkat sendirian. Kenapa? Apakah kau ada perlu denganku?" tanya Kaito.


"Oh, bukan, dia adalah sepupuku. Kami berdua disuruh menjemputnya di toko baju," jawab Kaito.


Aiko mengangguk. "Oh, begitu ya."


"Bagaimana memulainya, ya," batin Aiko bingung.


Aiko terlihat bingung. "Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan. Ehm..."


"Mau tanya apa? Katakan saja."


"Sa-saputangan itu. Saputangan burung merak," ucap Aiko terbata.


Kaito menyipitkan mata. "Ya? Kenapa dengan saputangan itu? Kau menyukainya?"


"Tidak, bukan itu. Saputangan itu sangat mirip dengan saputangan milik temanku. Apakah keluargamu hanya memiliki satu saputangan itu saja? Maksudku, apakah ada saputangan yang lain?" tanya Aiko sungguh ingin tahu.


"Saputangan ini dibuat khusus oleh kakek ku. Dan aku sudah pernah mengatakannya padamu, kalau saputangan ini cuma satu yaitu milikku. Jika ada saputangan yang lain, berarti itu bukan milikku," jawab Kaito.


"Maaf, bukannya aku tidak percaya. Aku hanya ingin memastikannya saja. Terima kasih atas waktunya," ucap Aiko sambil bergegas pergi.

__ADS_1


"Jika orang yang ditemui Mirai waktu kecil itu bukan Kaito, lalu siapa?" gumam Aiko bingung.


Di ruangan kelas yang lain, seorang cewek berambut pendek tengah menyerahkan selembar kertas pada Megumi.


"Putri Megumi, aku sudah mendapatkan data cewek itu."


Megumi menyeringai saat membaca kertas itu. "Hmm.. Menarik! Cewek kampungan yang masuk kuliah dengan gratis. Ia tak sadar akan derajatnya. Benar-benar cewek yang tak tahu diri!"


Siang itu, Mirai duduk sendirian sambil membaca koran di Kafetaria. Ia sedang melihat-lihat lowongan pekerjaan yang ada di dalam koran. Dan dari arah pintu, Aiko dan Hiro muncul lalu menghampirinya.


"Mirai, kau sedang apa?" tanya Aiko.


"Aku sedang melihat lowongan pekerjaan," jawab Mirai.


Hiro mengerutkan alis. "Hei, apakah kau mau mencari kerja? Kau sedang butuh uang?"


"Iya, aku mau mencari kerja sampingan," jawab Mirai.


"Kau mau mencari pekerjaan seperti apa? Mungkin aku bisa membantumu," ucap Aiko ingin membantu.


"Pekerjaan part time dan tidak menganggu jadwal kuliahku," ucap Mirai.


"Kau tidak perlu bekerja seperti itu. Jika butuh uang, aku bisa membantumu. Katakan padaku berapa uang yang kau butuhkan?" tanya Hiro serius.


"Tidak, Hiro. Aku hargai niat baikmu, tetapi aku lebih suka menghasilkan uang dengan hasil keringatku sendiri," jawab Mirai jujur.


"Yah, dari dulu Mirai memang seperti itu dan tidak pernah berubah," ucap Aiko.


Di sisi lain, Kaito dan Eisuke tengah berdiri di atap gedung sambil melihat pemandangan di sekitar.


"Apakah kau masih selalu mengingat kejadian itu?" tanya Kaito.


"Iya, aku tidak akan pernah melupakan perbuatan kotor ayah," jawab Eisuke dengan penuh kebencian.


"Seharusnya kau bersyukur, ayah masih hidup saat kecelakaan itu," ucap Kaito.


Eisuke mengerutkan alis. "Kalau aku jadi dia, lebih baik aku mati."


"Sejak kecil kau telah ditunjuk sebagai penerus perusahaan. Kau tidak boleh terlalu membenci ayah." Kaito memberi saran.


"Aku tidak peduli!" jawab Eisuke bersikukuh dengan pendiriannya.


Kaito menatap Eisuke tajam. "Hmm, aku ingin tanya satu hal padamu. Saputangan itu sebenarnya tidak hilang, melainkan kau telah memberikannya pada seseorang. Benar?"


"Kaito!" Eisuke tidak ingin membicarakan hal itu.

__ADS_1


"Kau bisa membohongi orang lain, tetapi kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri. Saputangan itu adalah barang terakhir yang diberikan oleh kakek. Bagaimana bisa kau dengan mudah membuangnya!" ucap Kaito dengan nada kesal.


Dengan ekspresi geram, Kaito pergi meninggalkan Eisuke yang sedang merenung sendirian. Dalam sekejab, Eisuke teringat kembali kejadian yang dialaminya waktu kecil. Kejadian yang membuatnya menjadi pribadi yang berbeda. Kejadian yang membuatnya menjadi seorang introvert, dan tidak ingin berteman dengan siapapun.


__ADS_2