
Sementara itu, Hiro duduk di pelaminan dan menunggu Mirai yang tak kunjung datang. Ia mengepalkan tangannya dengan erat. Ekspresi kesedihan dan kekecewaan terukir jelas di wajahnya.
"Mana pengantin wanitanya? Mengapa tak kunjung datang?" tanya salah seorang tamu.
"Sudah jam berapa ini? Sebenarnya kau jadi menikah atau tidak?" tambah tamu yang lain.
"Huu... apa-apaan ini? Sudah larut malam, tetapi pengantin wanitanya tidak ada?!" seru para tamu.
Hiro dan kedua orangtuanya hanya diam mendengar cemohan para tamu-tamu itu. Rasa malu yang besar terpampang jelas di wajah kedua orangtuanya.
Pada waktu yang sama, Eisuke dan Mirai sedang bercinta menikmati cinta mereka.
"Nngh, Ah.. Ah..!" Mereka menghabiskan malam bersama dan berbagi kehangatan satu sama lain.
PLAK! Tuan Watanabe melayangkan tamparan keras ke pipi kiri Hiro. Ia nampak geram melihat peristiwa yang terjadi hari ini.
"Seperti itukah wanita yang kau cintai? Bahkan, dia tidak memperdulikanmu sama sekali. Wanita itu hanya mempermalukan keluarga kita saja! Mulai detik ini jangan berhubungan lagi dengannya!" ucap Tuan Watanabe marah.
"Aku sudah tahu sejak awal kalau gadis itu tidak bisa dipercaya!" tambah Nyonya Watanabe.
Setelah itu, Tuan dan Nyonya Watanabe keluar dari ruangan meninggalkan Hiro yang terdiam di sana. Cowok rambut merah itu tidak mengira kalau pernikahan yang dinantikannya bakal berakhir seperti ini. Hiro mengepalkan tangannya, lalu bergegas pergi untuk menemui Aiko. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mirai.
Sementara itu, Aiko berada di rumahnya dengan rasa takut. Bahkan, ia tidak berani pergi ke pesta pernikahan Hiro. Ia memilih untuk berdiam diri di dalam kamarnya. Dan beberapa saat kemudiam, bel pintu rumahnya berbunyi. Tidak biasanya ada tamu di tengah malam seperti ini. Namun, ia sudah menduga cepat atau lambat Hiro pasti akan datang menemuinya.
Aiko membuka pintu rumahnya dan melihat Hiro berdiri di depan pintu.
"Aiko, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Mirai tidak datang ke pelaminan?" tanya Hiro dengan tatapan tajam.
"Hi-Hiro! Dengarkan penjelasanku," ucap Aiko terbata.
"Cepat katakan apa yang telah terjadi pada Mirai? Mengapa kau tidak memberitahuku!" tanya Hiro menekan.
Aiko menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Hiro. Dan saat itu juga, raut wajah Hiro dipenuhi dengan kekhawatiran. Cowok rambut merah itu terlihat sangat terkejut mendengar cerita dari Aiko.
"Aku harus segera menemukan Mirai!" ucap Hiro sambil berjalan menuju mobilnya.
"Hiro, Kyoto sangat jauh. Jika kau pergi ke sana menggunakan mobil maka kau butuh waktu lama untuk bisa sampai ke sana," ucap Aiko sambil mengejar Hiro.
__ADS_1
"Aku tidak peduli dengan semua itu! Aku akan pergi ke Kyoto sekarang juga," ucap Hiro sambil masuk ke dalam mobilnya.
***
Keesokan paginya, cahaya matahari berkilauan menyinari wajah Mirai yang tertidur. Gadis itu perlahan membuka matanya. Ia menoleh ke arah Eisuke yang sedang tidur telanjang dada di sampingnya. Mirai tersenyum, lalu bergeser mendekati cowok itu. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh wajah Eisuke dengan lembut.
"Rambut hitam, mata yang indah, hidung yang mancung, dan wajah yang tampan. Eisuke memang cowok yang sempurna untukku. Entah kenapa, disaat dia tidur dengan rambut acak-acakan seperti ini justru dia terlihat lebih tampan," batin Mirai bahagia.
Eisuke tiba-tiba membuka matanya, ia terbangun oleh sentuhan Mirai. Cowok tampan itu menarik Mirai ke dalam pelukannya.
"Ahk!" jerit Mirai kaget.
"Kau benar-benar nakal." Eisuke tersenyum sambil mencium kening Mirai.
"Sekarang sudah pagi, aku harus bersiap-siap untuk kembali ke Tokyo. Aku harus menjelaskan semuanya pada Hiro dan membatalkan pertunanganku dengannya," ucap Mirai.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi sendirian. Kita harus pergi bersama. Aku yang akan menjelaskannya pada Hiro," ucap Eisuke tegas.
Mirai mengangguk. "Baiklah, kita hadapi bersama."
"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Hiro marah.
"Hiro!" Mirai terkejut.
"Hiro, kita harus bicara," ucap Eisuke.
"Apa yang ingin kau bicarakan, brengsek!" jawab Hiro emosi.
"Sebelumnya, aku minta maaf padamu. Aku dan Mirai saling mencintai. Tolong izinkan kami bersama," ucap Eisuke sambil menggenggam erat tangan Mirai.
"Bisa-bisanya kau bicara seperti itu setelah semua yang terjadi selama ini!" jawab Hiro dengan nada tinggi.
Eisuke menatap Hiro tegas. "Aku telah menyentuh Mirai, dan aku akan bertanggung jawab penuh atas dirinya!"
Hiro membulatkan matanya terkejut dengan pengakuan Eisuke. "Apa kau bilang? DASAR KEPARAT!"
BUGH!
__ADS_1
Hiro menonjok Eisuke dan cowok itu terhuyung hampir jatuh. Sontak Mirai panik, lalu ia bergerak ke tengah-tengah untuk menghentikannya.
"Hiro, hentikan!" Mirai merentangkan kedua tangannya di depan Hiro.
"MIRAI, MINGGIR!" bentak Hiro kasar.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Eisuke," ucap Mirai dengan suara lantang.
Eisuke menarik Mirai ke belakangnya, lalu ia maju mendekati Hiro.
"Hiro, seperti inikah caramu menyelesaikan masalah? Mari kita akhiri semua pertikaian ini!" ucap Eisuke lantang tanpa ragu-ragu sedikit pun.
Hiro terdiam sejenak, lalu ia mengulurkan tangannya pada Mirai. "Mirai, kembalilah padaku. Jika kau kembali ke Tokyo bersamaku, aku akan memaafkanmu dan menganggap kejadian ini tidak ada."
Mirai menggelengkan kepala dan berucap pelan. "Aku minta maaf padamu, Hiro. Aku tidak bisa kembali padamu. Orang yang aku sukai adalah Eisuke. Sampai kapan pun itu tidak akan berubah. Aku ingin mengembalikan cincin yang telah kau berikan padaku, dan aku juga ingin membatalkan pertunangan kita."
Mirai mengulurkan tangannya dan meletakkan cincin berlian di atas telapak tangan Hiro. Kemudian, Hiro menggenggam cincin itu dan meremasnya.
"Baiklah, jika memang itu keputusanmu!" Hiro membalikkan badan, lalu pergi meninggalkan Mirai. Cowok rambut merah itu kembali ke Tokyo dengan perasaan sedih yang mendalam.
Setelah itu, Eisuke dan Mirai pergi menuju ke stasiun Kyoto.
"Kita harus ke Tokyo sekarang. Aku ingin membawamu dan mengenalkanmu pada keluargaku," ucap Eisuke.
"Aku takut keluargamu tidak menyukaiku," jawab Mirai khawatir.
"Mirai, semuanya pasti akan baik-baik saja. Percayalah padaku!" ucap Eisuke yakin.
Mirai mengangguk, lalu mereka masuk ke dalam kereta shinkansen. Mirai terkejut ketika bangku yang tertera dalam tiketnya adalah kursi VIP.
"Eisuke, kenapa kau membeli tiket VIP? Seharusnya kita berhemat dan kursi ekonomi saja sudah cukup," ucap Mirai.
Eisuke tersenyum geli. "Aku tidak ingin perjalananku bersama kekasihku yang cantik ini terganggu dengan hal-hal yang tidak nyaman."
"Menurutku kursi ekonomi sudah cukup nyaman," bantah Mirai.
"Kursi ekonomi terlalu sempit dan aku tidak suka." Eisuke mendekati Mirai dengan tatapan nakal. "Jika kau bersikeras melawan, aku akan menciummu di depan banyak orang!"
__ADS_1