
"Eisuke, aku ingin bicara denganmu!" Megumi terlihat serius.
"Aku tidak tertarik," jawab Eisuke dingin.
"Orang tua kita sedang mengatur pertunangan kita. Apakah kau akan menerima pertunangan ini?" tanya Megumi dengan penuh harapan.
Eisuke menutup bukunya dengan kasar dan memasukkannya ke dalam rak. Cowok tampan itu melihat Megumi dengan tatapan tajam. Namun tiba-tiba pintu berderit terbuka, Mirai dan Hiro muncul dari balik pintu. Menyadari kehadiran Mirai, Eisuke tiba-tiba menarik kepala Megumi lalu mencium gadis itu. Dan saat itu juga, Mirai langsung terpaku membeku. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Mirai menggelengkan kepala dan melangkah mundur. Air mata mulai keluar dari ujung matanya. Ia berbalik dan berlari keluar perpustakaan.
"Mirai!" Sontak Hiro langsung mengejarnya.
Setelah Hiro dan Mirai keluar, Eisuke mendorong Megumi dengan kasar.
"Kenapa tiba-tiba kau menciumku? Ini artinya... kau setuju dengan pertunangan kita?" tanya Megumi dengan hati berbunga-bunga.
"Pertunangan ini tidak akan pernah terjadi!" dengan kata-kata itu, Eisuke pergi keluar perpustakaan dan meninggalkan Megumi.
"Apa maksudmu, Eisuke!!!" teriak Megumi kesal.
Eisuke mengabaikan Megumi, lalu ia keluar dari perpustakaan. Ia berjalan melewati lorong dan tiba-tiba berhenti. Eisuke memikirkan Mirai yang sedih karena melihatnya berciuman dengan Megumi. Bagaimanapun itu, ia melakukannya dengan sengaja di depan Mirai.
"Dengan begini Mirai akan lebih cepat melupakanku," ucap Eisuke dengan nada sedih.
Di sisi lain, Mirai yang berlari akhirnya berhasil dikejar oleh Hiro. Cowok rambut merah itu meraih tangannya dan menariknya dengan kuat. Hiro memeluk Mirai erat-erat.
"Jangan menangis, ada aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Hiro dengan penuh kehangatan.
"Hatiku benar-benar sakit. Aku tidak tahan dengan semua ini!" Mirai terisak dalam pelukan Hiro.
Hiro membelai rambut Mirai dengan lembut. "Aku tahu. Aku janji akan selalu menemanimu."
Tangisan Mirai semakin menjadi-jadi dan ia memeluk Hiro dengan erat.
***
Malam hari, Mirai membungkus tubuhnya dengan selimut tebal di kasur. Ia menangis seolah-olah kesedihannya telah mencapai puncak maksimal. Ia tidak mau makan ataupun minum. Ia menganggap semua yang dilihatnya adalah benar. Ia berpikir Eisuke menyukai Megumi dan akan bertunangan dengannya.
__ADS_1
"Selama ini aku berpikir kau menyukaiku, ternyata aku salah. Eisuke, kau benar-benar menyakitiku," ucap Mirai ditengah kesedihannya.
Paman dan Yoshi melihat keadaan ini dengan cemas.
"Kak Mirai seharian mengurung dirinya di kamar." Yoshi mulai khawatir.
"Aku tidak menyangka masalah cinta bisa berujung seperti ini," ucap Paman sedih.
"Apakah benar kak Eisuke akan bertunangan dengan wanita lain?" tanya Yoshi ingin tahu.
Paman mengangguk. "Iya. Mirai mengatakan seperti itu. Eisuke telah menolaknya dan mengatakan akan bertunangan dengan orang lain."
***
Keesokan harinya, Mirai tidak masuk kuliah. Hiro dan Aiko khawatir dengan keadaan Mirai yang tak seperti biasanya.
"Hiro, apa kau tahu kenapa Mirai tidak masuk hari ini?" tanya Aiko.
"Ini karena si brengsek itu. Dia-lah penyebabnya!" jawab Hiro sedikit kesal.
Aiko mengerutkan alis. "Apa maksudmu? katakan dengan jelas!"
"Oke, nanti kita pergi ke rumahnya," ucap Aiko.
Sore hari, Aiko dan Hiro tiba di rumah Mirai. Paman menceritakan semuanya kepada mereka berdua. Bahkan sampai sekarang Mirai masih tidak mau makan dan tetap mengurung dirinya di kamar.
Merasa menjadi teman dekatnya, Aiko mencoba masuk ke dalam kamar Mirai dan membujuknya.
"Mirai."
"Ai-ko." jawab Mirai lemas.
"Kenapa kau jadi seperti ini? Pamanmu bilang kau tidak makan apa-apa dari kemarin. Ceritakan semuanya padaku, jangan memendam masalah sendirian," ucap Aiko khawatir.
"Aku melihat Eisuke berciuman dengan Megumi di depan mataku. Hatiku benar-benar sakit," ucap Mirai pelan dan terdengar sedih.
"Astaga.. Eisuke sungguh kurang ajar. Dia sudah menolakmu, tetapi masih saja berbuat hal yang menyakitimu. Kelihatannya Eisuke tidak peduli dengan perasaanmu. Sebaiknya, kau lupakan saja dia." Aiko ikut marah.
__ADS_1
Mirai terdiam dan tidak menjawab. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dari arah pintu, Hiro masuk dengan membawa semangkuk makanan.
"Aku akan membuatmu melupakan si brengsek itu. Sekarang makanlah!" Hiro duduk di sisi tempat tidur. "Aku akan menyuapimu makan. Ayo bangun! Kalau kau tidak bangun, akan aku hukum."
Mirai tersenyum mendengar kata-kata Hiro. Dengan kehadiran teman-teman di sekitarnya, sedikit demi sedikit rasa sedihnya mulai hilang.
***
Hari ini adalah hari terakhir Mirai di kampus. Beasiswa yang ia terima telah berakhir, dan ia berencana berpamitan dengan teman-temannya tanpa memberitahu yang sebenarnya.
Siang ini, Mirai mengajak Aiko dan Hiro makan bersama di Kafetaria.
"Aku dan pamanku akan pergi ke rumah saudara di desa. Jadi, aku tidak akan masuk kuliah dalam waktu yang lama," ucap Mirai pelan.
Aiko menatap Mirai bingung. "Bukankah kau dulu pernah mengatakan kalau pamanmu adalah keluargamu satu-satunya. Aku tidak tahu kalau kau punya keluarga lain di desa."
"Iya, tapi pamanku bilang ada satu saudara lagi di desa dan lumayan jauh dari sini," jawab Mirai gugup karena bohong.
"Berapa lama kau akan di sana?" tanya Hiro.
Mirai diam sejenak. "Umm, aku tidak tahu. Nanti aku akan memberitahu kalian."
Mirai memilih membohongi teman-temannya dan menyembunyikan kebenaran. Ia tidak punya biaya untuk melanjutkan kuliahnya dan terpaksa berhenti kuliah. Di samping itu, ia juga berpikir tidak ingin merepotkan Hiro lagi.
"Oke, kalau sudah pulang dari desa jangan lupa kabari aku ya," ucap Aiko dengan senyuman manis.
Mirai tersenyum. "Iya."
Setelah selesai makan, Mirai pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan semua barang-barang yang ia pinjam. Ia memasukkan buku-buku ke dalam rak.
Tanpa diketahui, Eisuke diam-diam mengamati Mirai cukup lama. Tiba-tiba, angin menderu kencang di jendela dan menyatukan pandangan mereka. Mirai dan Eisuke saling bertatapan satu sama lain. Gadis itu menahan kesedihannya dan tidak menghindari Eisuke.
Mirai menatap Eisuke dan berusaha bicara dengan tenang. "Hai, aku minta maaf atas ucapanku waktu itu. Aku pikir aku sudah mengatakan hal yang tidak pantas aku ucapkan."
Eisuke mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Eisuke menyembunyikan perasaan cintanya dan memilih melepaskan Mirai.
"Umm, kita dari awal adalah teman. Dan kita akan selalu berteman, kan? Aku berharap kau dan Megumi bahagia. Jika ada kesempatan, kapan-kapan kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa!" Mirai mengakhiri kata-katanya, lalu pergi.
__ADS_1
"Kenapa kau bicara seolah-olah kita tidak akan bertemu lagi, padahal aku masih ingin melihatmu meskipun dari jauh," ucap Eisuke dalam hatinya.