Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 37 --> Mabuk berat


__ADS_3

"Kabarku baik. Aku akhir-akhir ini sibuk dengan tugas kuliahku karena sebentar lagi aku wisuda. Pengurus perpustakaan juga sudah digantikan dengan orang lain," jawab Akihiro dengan raut wajah lelah.


Mirai mulai menyadari. "Oh, pantas saja aku tidak pernah melihatmu lagi di perpustakaan."


Akihiro mengangguk tersenyum. "Iya, begitulah. Oh iya, kalian berdua sudah bertunangan, kan? Aku ucapkan selamat atas pertunangan kalian."


"Terima kasih," jawab Hiro.


"Terima kasih ucapannya, Kak," ucap Mirai sambil tersenyum.


"By the way, apakah kalian sudah tahu? untuk merayakan kelulusan para senior nanti, pihak kampus akan mengadakan liburan bersama di gunung. Rencananya akan berkemah di gunung selama tiga hari. Apa kalian mau ikut?" tanya Akihiro.


"Kemah di gunung? umm.." desah Mirai bingung.


"Berkemah di gunung kedengarannya menarik." Hiro tertarik dengan tawaran Akihiro.


"Liburan di gunung masih beberapa bulan lagi. Jadi, kalian masih ada waktu untuk memutuskannya. Oh iya, aku sekarang ada urusan yang harus aku selesaikan. Aku permisi, sampai jumpa." Akihiro melambaikan tangan, lalu pergi dengan terburu-buru. Setelah itu, Hiro dan Mirai melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


***


Malam hari ini, Mirai berjanji pada Aya akan menemaninya pergi ke bar. Mirai menyelesaikan make-up di wajahnya, lalu menunggu Aya datang menjemputnya di rumah.


"Kau mau pergi?" tanya Paman.


"Iya. Aku mau pergi dengan teman baruku di kampus. Dia anak baru pindahan dari luar negeri." Mirai cerita tentang teman barunya.


"Baguslah. Semakin banyak teman maka kau tidak akan kesepian," ujar Paman.


Ketukan pintu terdengar nyaring di telinga. Mirai bergegas membuka pintu, dan di sana sudah ada Aya yang tengah berdiri sambil memakai kacamata hitam layaknya bintang film terkenal.


"Aya, apa kau mau masuk ke dalam rumahku dulu?" tanya Mirai.


"Ya, boleh." Aya masuk ke dalam rumah dan matanya berputar melihat sekeliling ruangan.


"Aya, duduklah. Mau aku ambilkan minum?" tanya Mirai.


"Tidak perlu. Karena sebentar lagi kita langsung berangkat." Aya duduk sambil menyilangkan kakinya. "Mirai, rumahmu kecil sekali ya."


"Iya, memang rumahku kecil. Terus kenapa kalau rumahku kecil?" tanya Mirai sedikit kesal.

__ADS_1


Aya tertawa keras. "Jangan marah. Aku tidak bermaksud menghinamu. Aku justru merasa kagum padamu. Selama ini kau bisa hidup dengan keadaan seperti ini. Kau sungguh luar biasa."


"Aku memang bukan orang kaya sepertimu. Aku hanyalah orang kecil. Bisa makan sehari-hari saja aku sudah bersyukur." Mirai jujur dengan keadaannya.


"Itulah yang membuatmu berbeda dengan yang lain. Dan jujur saja, aku senang memiliki teman sepertimu." Aya tersenyum menatap Mirai. "Bisakah kita pergi sekarang? Supirku sudah menunggu di luar."


"Oh, baiklah kita pergi sekarang," ucap Mirai. Ia hendak berpamitan dengan paman, tetapi Paman sudah lebih dulu menyapanya.


"Kalian berdua mau pergi?" tanya Paman.


"Iya, Paman. Ini teman baruku yang aku ceritakan tadi," ucap Mirai memperkenalkan teman barunya.


"Perkenalkan nama saya Aya Shiraki. Saya mau mengajak Mirai keluar," ucap Aya sopan.


"Iya, hati-hati di jalan ya." Paman mengantar Mirai dan Aya ke depan rumah. Kemudian, Mereka berdua masuk ke dalam mobil, lalu pergi.


Setelah beberapa saat perjalanan, akhirnya Aya dan Mirai tiba di sebuah bar. Mereka duduk di sofa sambil memesan minuman. Mendengar suara musik di bar, tiba-tiba raut wajah Mirai berubah.


"Mirai, apa kau bahagia dengan pertunanganmu?" tanya Aya.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu? Tentu saja aku bahagia," jawab Mirai badmood.


Mirai terdiam dan hatinya mulai resah. Ia ingin mencurahkan isi hatinya dan bercerita pada Aya, tetapi ia bimbang.


"Mirai, kau kelihatan tegang. Apa kau mau minum?" Aya menawarkan minuman.


"Boleh."


Aya menuangkan minuman ke gelas, lalu memberikannya pada Mirai. "ini minumlah!"


Mirai lantas meneguk minuman itu dan ia mulai bicara. "Aku sebenarnya tidak tahu harus senang atau sedih. Pertunanganku dengan Hiro tiba-tiba terjadi begitu saja."


Mirai mulai sedih dan risau. Tiba-tiba, gadis itu ingin minum lebih banyak.


"Aya, aku ingin minum lagi."


"Oke." Aya menuangkan minuman ke dalam gelas Mirai. Ia sengaja membuat Mirai mabuk supaya bisa mengorek informasi darinya.


"Apakah kau bahagia bersama Hiro?" tanya Aya.

__ADS_1


"Hiro sangat baik padaku. Dia sangat mencintaiku," jawab Mirai sambil meneguk minumannya.


"Kau mencintainya?"


"Aya, jangan tanyakan itu. Aku tidak bisa menjawabnya."


Aya tersenyum, lalu menuangkan minuman lagi ke gelas Mirai. "Lalu, bagaimana dengan Eisuke?"


"Eisuke? Dia telah menyakitiku. Aku sangat membencinya," jawab Mirai sambil meneguk minuman sampai habis.


Mirai mabuk dan ia mengungkapkan semua isi hatinya pada Aya. Namun, Aya mengerti di balik kata-kata bencinya itu. Mirai sebenarnya masih mencintai Eisuke. Aya dapat melihatnya dengan jelas.


"Sebenarnya mereka berdua masih saling mencintai," ucap Aya dalam hatinya.


Malam semakin larut, Mirai telah menghabiskan banyak minuman dan akhirnya mabuk berat. Mirai menyandarkan kepalanya di meja. Tanpa sadar, matanya mulai terpejam dan ia tertidur.


"Mirai, aku mau pergi ke toilet," ucap Aya pada Mirai, tetapi gadis itu mabuk dan tidak merespon.


Aya menggelengkan kepala. "Kelihatannya Mirai sudah mabuk berat."


Aya pergi ke toilet, ia membuka tas dan mengambil handphone-nya. Setelah itu, ia menelepon Eisuke.


"Halo, cowok ganteng. Maaf menganggu waktumu sebentar. Aku mau bilang Mirai sekarang sedang bersamaku di Nikka Bar. Dia sedang mabuk. Apa kau bisa mengantarnya pulang?" ucap Aya dalam telepon.


"Itu bukan urusanku. Sebaiknya kau telepon tunangannya untuk menjemputnya," jawab Eisuke di telepon.


"Aku tidak punya nomor Hiro. Sekali lagi aku tanya, apa kau bisa mengantar dia pulang malam ini?" tanya Aya sekali lagi.


"Aku tidak mau," jawab Eisuke.


"Oke, kalau kau tetap bersikeras tidak mau. Tidak masalah. Aku akan meninggalkan dia sendirian di bar. Semua keputusan ada di tanganmu, Bye!" Aya menutup telepon, lalu pergi.


Dua puluh menit kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan bar. Supir mobil itu keluar, lalu membuka pintu bagian belakang. Eisuke keluar dari mobil itu, lalu masuk ke dalam bar. Cowok tampan itu menghampiri Mirai yang tertidur di meja. Dengan lembut, ia mengangkat gadis itu lalu membawanya pergi.


Dari kejauhan, Aya melihat Eisuke sambil tersenyum. "Aku tahu kau pasti akan datang!"


Eisuke membawa Mirai masuk ke dalam mobilnya. Dan sesaat kemudian, mobil itu melaju pergi dengan cepat. Saat dalam perjalanan, Mirai perlahan-lahan membuka mata. Ia sangat terkejut melihat Eisuke ada di sampingnya.


"Ei-suke!" ucap Mirai ditengah mabuknya. Ia tak percaya kalau orang yang di sampingnya itu adalah Eisuke. Ia mengucek matanya dan melihat cowok itu sekali lagi.

__ADS_1


__ADS_2