
"Maaf, aku tidak minum," jawab Mirai menolak.
"Mau coba segelas saja, Nona cantik?" sahut Hiro menggoda.
Mirai menatap Hiro kesal. "Tidak. Terima kasih."
Dengan santainya, Hiro mengambil segelas minuman dari pelayan itu lalu meletakkannya di meja.
"Apa yang kau lakukan, Hiro? Aku sudah bilang kalau aku tidak minum!" ucap Mirai sedikit marah.
"Jika kau tidak ingin minum tidak masalah. Aku yang akan meminumnya," jawab Hiro santai.
"Terserah kau saja!" ucap Mirai kesal.
Disaat emosinya meluap, tiba-tiba ia mendengar suara dentingan piano yang indah. Dalam sekejab, Mirai dapat menemukan darimana asal suara itu muncul. Di depan meja para tamu, Eisuke sedang memainkan piano dengan bagus dan indah. Cowok itu mengenakan jas hitam dan terlihat sangat tampan. Seketika itu, tatapan Mirai berfokus pada Eisuke. Tanpa ia sadari, ia mengulurkan tangan lalu meneguk minuman yang ada di depannya.
"Mirai, kau akhirnya minum juga?!" tanya Hiro sambil tersenyum.
"Huh? Aku tidak sengaja meminumnya." Mirai terlihat panik melihat gelas yang ada di tangannya.
Hiro terkikik. "Bagaimana rasanya? Enak?"
"Rasanya tidak enak dan aku tidak merasakan efek apapun," jawab Mirai.
Kring.. Kring..! Tiba-tiba ponsel Hiro berdering.
"Mirai, aku ada telepon dari ayahku. Aku mau keluar sebentar mengangkat telepon. Tunggu aku dan jangan pergi terlalu jauh, Oke?" ucap Hiro.
Dengan langkah cepat dan buru-buru, Hiro pergi keluar meninggalkan Mirai. Sesaat kemudian, dentingan piano Eisuke berhenti. Cowok tampan itu bangkit berdiri, lalu pergi menuju ke arah kolam renang. Mirai berdiri dari kursinya dan berjalan mengikuti Eisuke pergi. Namun, ia tidak sengaja menabrak seseorang di depannya. Seorang wanita seumuran ibunya, tetapi dia terlihat sangat cantik dan menawan.
"Maaf, saya tidak sengaja." Mirai membungkuk minta maaf.
"Tidak apa-apa. By the way, kau cantik sekali. Siapa namamu?" tanya wanita itu.
"Nama saya, Mirai," jawab Mirai lembut.
Wanita itu mengangguk pelan. "Kau datang ke sini sendirian?"
"Tidak, saya ke sini bersama temanku Hiro," jawab Mirai.
__ADS_1
"Kau sungguh sangat cantik. Andai saja aku punya putri sepertimu, pasti aku sangat senang," puji wanita itu.
Tiba-tiba, seorang pengawal datang dan memanggil wanita itu. "Nyonya Ayano."
Ayano mengangguk pada pengawal itu, lalu ia melihat ke arah Mirai. "Lanjutkan menikmati pestanya. Aku permisi."
Mirai membungkuk memberi salam dan ia melihat wanita itu pergi. Sesekali wanita itu menoleh ke belakang dan tersenyum. Mirai pun membalasnya dengan senyuman. Dan tiba-tiba, semua mata di sekitar mengarah pada Mirai dan berbisik-bisik sesuatu. Sontak Mirai menjadi gugup. Tanpa berpikir panjang, Gadis itu langsung mengambil dan meneguk segelas minuman yang di bawa oleh pelayan di depannya.
"Mau lagi, Nona? Saya masih punya 2 gelas," ucap Pelayan.
"Baiklah," jawab Mirai tanpa ragu-ragu. Ia mengambil 2 gelas minuman yang dibawa pelayan itu, lalu meneguknya sampai habis. Setelah itu, ia pergi menuju ke kolam renang.
Mirai tiba di depan pintu kolam renang. Namun, kepalanya terasa berat dan pusing.
Ia berhenti sejenak. "Ada apa denganku?"
Gadis itu kehilangan kendali dan jalannya kian sempoyongan, tetapi ia tetap tidak berhenti. Mirai terus berjalan menuju sisi kolam renang. Dan di sana ia melihat Eisuke sedang berdiri sendirian. Cowok tampan itu sedang berdiri sambil membawa segelas red wine di tangannya.
"Eisuke, tidak kusangka dari wajahmu yang pendiam ternyata kau suka minum. Dasar pemabuk!" Mirai mulai mabuk dan ia tak sadar dengan apa yang diucapkannya.
Eisuke tersenyum tipis. "Sepertinya kau sedang membicarakan dirimu sendiri."
"Terus? Kau sendiri tidak seperti itu? Lihat dirimu, kau jauh lebih parah dariku," ucap Eisuke.
Mirai tertawa mabuk. "Tidak, tidak, aku tidak seperti dirimu. Aku bukan peminum dan aku tidak pernah mabuk."
Mirai berjalan sempoyongan dan hampir jatuh, tetapi ia tidak sadar kalau dirinya telah mabuk.
Cowok tampan itu meletakkan gelasnya di meja, lalu ia berjalan mendekati Mirai.
"Kenapa kau mendekatiku? Mundur!" ucap Mirai sambil berdiri sempoyongan.
"Kemana pacarmu? Kenapa dia membiarkanmu seperti ini?" tanya Eisuke.
"Aku tidak punya pacar. Aku... AHK!!" Mirai mabuk berat. Ia kehilangan keseimbangan dan tergelincir hampir jatuh.
Dengan cepat, Eisuke menangkap tubuh Mirai dan mendekapnya.
"Eisuke...," Mirai berbisik lirih.
__ADS_1
Tubuh gadis itu mulai melemah dan pikirannya tak terkontrol.
"Aku.. menyukaimu..," ucap Mirai ditengah mabuknya.
Eisuke menatap wajah Mirai dan tatapan mereka menyatu. Gadis itu perlahan-lahan mendekati Eisuke dan bibir mereka bersentuhan. Dalam keadaan mabuk, Mirai mencium Eisuke dan cowok tampan itu tidak menghindar. Namun, semua itu tidak berlangsung lama. Pandangan Mirai menjadi blur dan gadis itu tak sadarkan diri. Mirai tertidur dalam pelukan Eisuke.
Dan tanpa diduga, Hiro tiba-tiba muncul dengan tatapan marah.
"Jangan sentuh dia, Brengsek!" teriak Hiro dengan nada tinggi.
Eisuke terkejut dan menoleh ke arah Hiro. Cowok rambut merah itu mendekati Eisuke dan merebut gadis itu darinya. Hiro mengangkat tubuh Mirai dengan kedua tangan, lalu membawanya pergi. Tanpa sengaja, saputangan Mirai terjatuh di lantai dan Eisuke mengambil saputangan yang jatuh itu.
"Saputangan ini..! Hmm, Jadi anak perempuan itu adalah Mirai." Eisuke sangat terkejut.
Sementara itu, Hiro sedang mengantar Mirai pulang ke rumahnya. Mobil sudah tiba di depan rumah, tetapi cowok rambut merah itu tetap tidak keluar dari mobilnya. Hiro menatap Mirai yang tengah tertidur. Ia mendekati gadis itu dan membelai pipinya yang merah.
"Mirai, aku sangat menyukaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"
Mirai tertidur sangat lelap sehingga tak bisa mendengar suara itu. Tiba-tiba, gadis cantik itu memeluk Hiro sambil mengigau. "Eisuke. Ei-su-ke."
Hiro yang mendengar suara Mirai hanya terdiam dalam keheningan.
***
Cahaya matahari sudah menerangi ruangan. Hari ini, Mirai bangun terlambat dari biasanya.
"Kepalaku pusing sekali. Aku semalam terlalu banyak minum sehingga tidak ingat apa-apa," ucap Mirai sambil memegangi kepalanya.
Tok..Tok..! Suara ketukan pintu berbunyi. Mirai mendengar suara Yoshi memanggilnya.
"Kak Mirai, sudah bangun?" panggil Yoshi dari luar.
"Yoshi, masuk lah! Aku sudah bangun," jawab Mirai.
Yoshi masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas teh hangat. "Minum tehnya, Kak. Ini bisa membuatmu lebih segar. Kakak semalam pulang dalam keadaan mabuk berat."
"Oh ya, semalam siapa yang mengantarku pulang?" tanya Mirai.
Yoshi berpikir sejenak. "Semalam kalau tidak salah namanya Hiroto."
__ADS_1
"Huh? Aku ingat, aku bersama Eisuke semalam. Tapi bagaimana bisa Hiro mengantarku pulang. Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Ini pasti bukan sesuatu yang baik," batin Mirai cemas.