
Eisuke membawa Mirai masuk ke dalam restaurant. Gadis itu tercengang dengan pemandangan di dalam restaurant itu. Restaurant yang besar dan perabotan yang mewah. Para pelayan di sana juga memakai baju seragam yang cantik dan menarik.
"Kenapa kau berdiri di situ? Sini duduk," ucap Eisuke, lalu Gadis itu menyusul dan duduk di depan nya.
Tak lama kemudian, seorang laki-laki berpakaian jas hitam datang menghampiri mereka.
"Selamat malam, Tuan Muda. Lama tidak datang kemari," sapa laki-laki jas hitam itu.
Eisuke menoleh ke arah laki-laki itu. "Hai manager kei, apa kabar? Aku datang ke sini untuk memesan makanan. Bisakah kau memberi kami menu?"
"Oh, ini silakan." Manager itu menyodorkan sebuah buku menu.
"Tissu di meja kami habis. Bolehkah aku minta tissu yang baru?" tanya Mirai pada manager itu.
"Oh, bisa. Maaf kami terlambat mengisi tissunya." Manager itu memanggil pelayan di sekitar, tetapi semuanya terlihat sibuk dan tidak merespon.
"Tidak usah panggil pelayan. Biar aku yang mengambil tissunya." Eisuke bangkit berdiri, lalu berjalan menuju ruang staff.
"Huh? Bagaimana bisa Eisuke masuk ke dalam ruang staff restaurant?" batin Mirai heran.
"Apakah anda adalah pacarnya Tuan Muda Eisuke?" tanya manager itu.
"Bukan, aku adalah temannya," jawab Mirai.
"Oh begitu ya. Selama ini Tuan muda Eisuke tidak pernah membawa wanita ke sini. Anda adalah yang pertama," ucap Manager itu sambil tersenyum.
"Benarkah?" tanya Mirai tersipu.
Manager itu tersenyum dan mengangguk. "Tuan muda sangat baik dan pengertian. Dia juga suka membantu. Seperti saat ini dia mengambil tissu sendiri, padahal ini adalah tugas kami sebagai pelayan. Namun, Tuan muda justru melakukannya sendiri. Dia juga tidak malu bergaul dengan para pelayan. Sifatnya memang berbeda dengan yang lain."
"Aku juga baru tahu kalau dia seperti itu. Namun sepertinya, manager kei tahu banyak tentang Eisuke," ucap Mirai dalam hatinya.
Tak lama, Eisuke datang dengan membawa tissu lalu memasukkannya ke dalam kotak tissu yang kosong.
"Apa kau sudah memilih makanannya?" tanya Eisuke.
"Belum, aku tidak tahu makanan italia apa yang enak," jawab Mirai.
Eisuke mengambil alih buku menu dan membacanya sekali lagi.
__ADS_1
"Manager kei, aku pesan spinach lasagna, spaghetti carbonara, chicken saltimbocca, dan tiramisu coffe cake," ucap Eisuke memesan makanan.
"Baik, Tuan muda. Saya akan segera menyiapkan pesanan anda." Manager itu bergegas pergi.
Eisuke dan Mirai terdiam dan merasa canggung satu sama lain. Wajah gadis itu mulai merona merah.
"Eisuke, kenapa kau memesan banyak makanan? Harga makanan di sini sangat mahal. Uangku tidak cukup untuk membayarnya." Mirai mulai khawatir.
Eisuke tertawa geli. "Jangan membuatku tertawa. Aku yang mengajakmu ke sini tentu aku yang traktir. Lagipula ini adalah restaurant milik ibuku, tentu saja aku bebas melakukan apa saja di sini."
Mirai membulatkan matanya. "Apa? ini restaurant milik ibumu? Bukankah orangtuamu adalah pemilik perusahaan Tensa."
"Sebenarnya, ayah dan ibuku memiliki pemikiran yang berbeda. Tensa adalah perusahaan kakekku yang diteruskan oleh ayahku, sedangkan ibuku lebih menyukai bisnis kuliner." Eisuke menceritakan tentang keluarganya.
"Ternyata begitu ya." Mirai merasa senang. Akhirnya, Eisuke mau bercerita tentang keluarganya. Sedikit demi sedikit kepribadian Eisuke mulai terbuka dan Mirai merasa enjoy menghabiskan waktu dengannya.
Manager kei datang dengan membawa gerobak makanan. Satu demi satu piring diletakkan di meja.
"Makanan yang dipesan telah siap. Selamat menikmati!" Manager itu menundukkan kepala dan melangkah mundur.
Eisuke menyodorkan makanan. "Cobalah ini. Lasagna adalah makanan yang paling enak di restaurant ibuku."
Mirai memasukan makanan ke mulutnya. "Ini enak sekali."
"Bagaimana makanannya? Apa kau puas?"
"Iya, puas. Makanan di sini enak sekali," jawab Mirai tersenyum.
Eisuke mengulurkan tangan. "Maukah jalan-jalan di tepi pantai bersamaku?"
Ditemani cahaya bulan, Eisuke dan Mirai berjalan menyusuri tepi pantai. Embusan angin menyapa mengacak-acak rambut mereka.
"Apa kau suka pantai?" tanya Mirai.
"Iya. Sejak kecil aku suka bermain di pantai. Jika merasa bosan, aku selalu datang ke sini untuk menenangkan pikiran," jawab Eisuke sambil menatap lurus ke laut.
"Waktu kecil aku juga sering pergi ke pantai bersama orangtuaku." Mirai menatap Eisuke di sampingnya. "Eisuke, apa kau bisa berenang?"
"Bisa. Kalau kau?"
__ADS_1
"Aku tidak bisa berenang."
"Bagaimana jika kau tenggelam di air?"
"A-aku.. mungkin pasrah dan menunggu bantuan."
"Dasar bodoh!" Eisuke tersenyum.
Waktu terasa sangat cepat, dan Eisuke mengantar gadis itu pulang. Mobil telah berhenti tepat di depan rumahnya, tetapi mereka berdua masih tidak bergerak dan tertahan di dalam mobil.
Mirai memutuskan untuk memulai pembicaraan. "Aku mengucapkan terima kasih karena kau sudah mengajakku ke restaurant ibumu. Aku senang bisa mengenalmu lebih dekat."
"Dekat seperti apa yang kau inginkan?" Eisuke perlahan mendekati Mirai.
"A-aku hanya berpikir.. ingin mengenalmu lebih dekat lagi," Mirai terbata dan hatinya berdebar-debar sangat kencang.
"Sedekat inikah?" Eisuke memiringkan kepalanya seakan-akan hendak mencium Mirai. Hembusan nafasnya yang hangat jatuh menerpa wajah cantik gadis itu.
Perlahan-lahan, ciuman mulai terjadi. Eisuke mencium bibir Mirai dan ********** dengan lembut. Nafas menjadi semakin berat dan panas.
"Mmmhh..Mmh."
Eisuke terus ******* bibir Mirai berulang kali sampai gadis itu pasrah dan menyerahkan bibirnya.
Perlahan-lahan, bibir basah mereka mulai berpisah. Eisuke menarik diri dan mundur ke tempat semula.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Mirai dengan wajah merah merona.
"Apa itu salah?"
"Ti-tidak."
"Kau juga pernah melakukannya dengan Hiro. Dan sepertinya, kau suka melakukan ini dengan banyak pria," ucap Eisuke.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? Aku dan Hiro hanya teman biasa. Aku hanya melakukan ini dengan orang yang aku sukai." Mirai mengerutkan kening dan raut wajahnya terlihat kesal.
Eisuke terdiam dan tidak menjawab. Karena kesal dengan kata-kata Eisuke, akhirnya Mirai keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.
"Dia tidak mengejarku. Aku sungguh bodoh. Tidak mungkin Eisuke punya perasaan yang sama denganku," batin Mirai sedih.
__ADS_1
Sementara itu, Eisuke masih termenung di dalam mobilnya. ia menyandarkan kepalanya di setir mobil.
"Aku tidak bisa mendekatinya. Jika Mirai tahu ayahku-lah yang menyebabkan orangtuanya meninggal, dia pasti membenciku! Ayahku juga yang telah memfitnah ayah Yoshi dan menghancurkan nama baiknya. Aku benar-benar tidak pantas untuknya."