Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 49 --> Tak ingin kehilangan


__ADS_3

"Eisuke masih di ruang operasi dan sampai sekarang dokter belum juga keluar," jawab Mirai sedih.


"Aku sangat terkejut saat menerima telepon dari rumah sakit. Aku benar-benar tidak menyangka kalau putraku mengalami musibah seperti ini," ucap Ayano mulai menangis.


"Ini semua salahku. Jika Eisuke tidak mengejarku, dia tidak akan mengalami hal seperti ini," Mirai merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Ini bukan lah kesalahanmu," ucap Kaito bijak.


Di sisi lain, berita tentang Eisuke telah menyebar ke seluruh penjuru. Kenji duduk diam di ruang kerjanya dan merenungi kembali kesalahan yang telah ia perbuat. Perasaan khawatir muncul dalam hatinya ketika ia memikirkan putra bungsunya itu.


Sementara itu, Mirai, Kaito, dan Ayano masih menunggu di depan ruang operasi dengan gelisah. Ayano tak henti-hentinya menangis. Ia benar-benar terpukul atas nasib buruk yang menimpa putra kesayangannya. Tiga puluh menit kemudian, dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang operasi. Ayano dengan cepat berlari mendekati dokter itu.


"Dokter, bagaimana keadaan anak saya? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Ayano penuh kekhawatiran.


Dokter itu menggelengkan kepala pelan. "Saya minta maaf sebelumnya. Putra anda mengalami cedera berat di bagian kepala dan dia mengalami penurunan kesadaran. Kondisinya saat ini kritis dan dia mengalami koma. Saya sendiri tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar. Sebaiknya, anda berdoa supaya terjadi keajaiban. Saya permisi!"


Dokter bersama para perawat itu pergi meninggalkan mereka bertiga. Ayano menangis menggeru-geru dalam pelukan Kaito.


"Ibu, jangan menangis. Eisuke akan baik-baik saja," ucap Kaito.


Ayano menangis sedih. "Aku tidak rela kalau Eisuke pergi."


"Ibu, duduklah dulu. Aku akan membelikan minum." Kaito memapah Ayano ke sebuah kursi panjang.


"Mirai, tolong jaga ibuku sebentar. Aku mau pergi membeli minum," ucap Kaito minta tolong.


"Iya, aku akan menemaninya di sini," jawab Mirai.


Mirai duduk di kursi panjang bersama Ayano di sampingnya, sedangkan Kaito pergi menuju ke minimarket terdekat. Disaat Kaito dalam perjalanan menuju minimarket, ia bertemu dengan Kenji di tengah jalan. Kaito memutuskan untuk berhenti dan menyapa ayahnya itu.


"Kenapa tiba-tiba ayah datang ke sini? Aku kira ayah sudah tidak peduli lagi dengan Eisuke," ucap Kaito ketus.


"Eisuke adalah anakku, mana mungkin aku tidak peduli dengannya," jawab Kenji.

__ADS_1


"Hmm, saat ini Eisuke dalam kondisi kritis. Dokter juga tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar. Jika terjadi sesuatu pada Eisuke, ini semua karena kesalahan ayah! Andai saja, ayah merestui pernikahan mereka maka hal ini tidak akan terjadi. Aku juga ini mengatakan satu hal pada ayah, jika memang Eisuke tidak bisa selamat, jangan harap aku untuk menggantikan posisinya. Karena aku sama sekali tidak tertarik untuk meneruskan perusahaan!" ucap Kaito. Kemudian, ia pergi meninggalkan Kenji.


Kenji Harada terpatung dan membisu mendengar kalimat Kaito. Ia tidak menyangka kalau kedua putranya akan membenci dan menyalahkannya. Perasaan bersalah sedikit demi sedikit tumbuh dalam dirinya.


"Eisuke, maafkan ayah," batin Kenji menyesal.


***


Bulan sudah menggantung tinggi di langit. Malam pun sudah terlihat sangat gelap. Mirai tiba di rumah dengan wajah pucat.


"Mirai, kau sudah kembali," sapa Paman.


"Paman, aku..." Belum sempat bicara, Mirai terjatuh dan pingsan. Paman dan Yoshi menggotong gadis itu ke tempat tidurnya.


"Paman, sepertinya telah terjadi sesuatu pada kak Mirai," ucap Yoshi.


Paman menghela nafas. "Aku benar-benar bingung dengan semua yang terjadi."


Setelah cukup lama tertidur, Mirai bangun dan melihat Yoshi ada di sisi tempat tidurnya.


"Terima kasih, Yoshi," jawab Mirai.


Setelah meminum teh dan cukup tenang, akhirnya Mirai pergi menemui paman dan menceritakan semua yang terjadi tentang dirinya dan Eisuke. Berkaitan dengan itu, paman merasa sangat terkejut dan kata-kata Mirai membuat paman terdiam. Seketika itu suasana menjadi hening.


Mirai menangis saat memikirkan Eisuke. Ia sungguh tidak ingin kehilangan cowok yang ia cintai.


"Mirai tenangkan dirimu. Semua ini adalah ujian dari Tuhan. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain berdoa untuk kesembuhan Eisuke," ujar Paman prihatin.


Yoshi ikut memberi suara. "Kak Mirai, sebaiknya kita berdoa untuk kak Eisuke supaya dia cepat sadar dan bisa kembali semula."


Mirai mengangguk dalam isak tangisnya. Keluarga kecil itu akhirnya memutuskan untuk berdoa bersama.


Sejak hari itu, Mirai setiap hari pergi ke rumah sakit untuk melihat Eisuke dan memantau kondisinya. Eisuke dirawat di ruang ICU dengan sangat ketat. Meskipun jam kunjungan dibatasi, tetapi Mirai tidak pernah absen untuk datang ke sana. Gadis itu selalu hadir untuk menjenguk sang pujaan hatinya.

__ADS_1


***


Satu minggu telah berlalu. Hari ini, Mirai pergi ke rumah sakit seperti biasa. Ia melihat Ayano sedang duduk di sebuah kursi panjang di rumah sakit.


"Nyonya," sapa Mirai lembut.


Ayano menoleh. "Mirai, apakah kau kemari untuk menjenguk Eisuke?"


"Iya, Nyonya. Saya datang ke sini hanya untuk melihat Eisuke," jawab Mirai pelan.


"Aku senang sampai saat ini kau masih peduli dengan putraku." Ayano tersenyum tipis. "Mirai, sini duduk lah!"


Ayano mengundang Mirai untuk duduk di sampingnya. Tanpa basa basi Ayano menatap Mirai dan mengatakan sesuatu.


"Sejujurnya, saat pertama kali melihatmu aku sudah menyukaimu. Dari dulu, aku selalu ingin punya anak perempuan, tetapi Tuhan berkendak lain. Tuhan hanya memberi kami 2 anak laki-laki," ucap Ayano.


Saya juga senang bisa bertemu dengan Nyonya," jawab Mirai tersenyum.


"Sebenarnya, aku juga sama sepertimu. Aku bukan berasal dari keluarga elite. Oleh karena itu, aku tidak pernah memandang seseorang dari statusnya," Ayano menceritakan asal usulnya.


"Saya tidak menyangka ternyata Nyonya memiliki sifat yang sederhana. Saya kagum dengan Nyonya," puji Mirai.


"Kau terlalu memuji." Ayano tersenyum sejenak, lalu ia kembali serius. "Walaupun aku telah diadopsi oleh keluarga elite, tetapi aku merasa tidak pernah berubah. Mirai, aku merestui hubunganmu dengan Eisuke. Aku minta tolong padamu, tetap lah bersama putraku sampai akhir."


Mirai mengangguk yakin. "Sampai kapan pun saya tidak akan pernah meninggalkan Eisuke. Saya telah berjanji pada diriku sendiri untuk selalu bersamanya."


"Terima kasih, Mirai." Ayano tersenyum dan menyentuh tangan Mirai dengan lembut. Mereka saling bertukar senyuman dan keduanya terlihat akbrab satu sama lain."


***


Hari demi hari telah berlalu. Sudah hampir sebulan Eisuke dirawat di ruang ICU. Namun, sampai hari ini tidak ada tanda-tanda ia akan sadar. Cowok itu masih tertahan dalam kondisi kritis dan koma.


Dalam jam kunjungan, Mirai masuk ke dalam ruang ICU dan berdiri di sisi tempat tidur.

__ADS_1


"Eisuke, kau telah berjanji tidak akan meninggalkanku. Aku berharap kau menepati janjimu. Jangan tinggalkan aku sendirian, cepatlah bangun. Aku benar-benar membutuhkanmu." Mirai menangis menatap Eisuke yang terpejam.


__ADS_2