
Sementara itu, Eisuke sudah tiba di hotel milik ayahnya di Kyoto. Ia sedang melihat pemandangan luar dari dalam jendela kamarnya.
"Selamat menempuh hidup baru, Mirai." Eisuke mengangkat sebotol minuman ke mulutnya dan meneguknya hingga habis. Cowok itu mabuk dalam kesunyian malam.
***
Hari pernikahan Mirai telah tiba. Hari ini, Hiro dan Mirai datang ke butik Aiko lebih awal dari yang dijadwalkan sebelumnya.
"Permisi."
Aiko menoleh ke arah pintu masuk. "Eh, Mirai, Hiro, kenapa pagi-pagi kalian sudah datang? Meriasnya masih beberapa jam lagi."
"Iya, tidak apa-apa aku akan menunggu. Hari ini Hiro sibuk, dia sebentar lagi akan pergi mengawasi dekorasi gedung," ucap Mirai.
Aiko, aku serahkan pacarku padamu. Tolong make-up dia secantik mungkin hari ini," ucap Hiro sambil tersenyum.
"Iya, iya, jangan khawatir. Aku akan membuatnya menjadi bidadari malam ini." Aiko tersenyum melihat mereka berdua.
Hiro memegang kedua tangan Mirai, lalu menariknya mendekat. "Mirai, aku harus pergi melihat dekorasi gedung sekarang. Aku ingin membuat dekorasi yang paling indah untuk pernikahan kita. Sampai ketemu nanti di pelaminan. Aku akan menunggumu di sana, I Love You!"
"Iya," jawab Mirai tersenyum.
Kemudian, Hiro pergi meninggalkan Mirai di butik Aiko. Waktu masih kurang beberapa jam lagi, Mirai menunggu sambil membantu Aiko menyiapkan gaun pernikahan yang akan dipakainya nanti. Sepuluh menit kemudian, pintu berderit terbuka dan seseorang masuk ke dalam butik.
"Selamat pagi," sapa Kaito.
Aiko menoleh. "Kak Kaito, kau sudah datang."
"Aku mau mengambil kemeja pesananku." Kaito menatap Aiko sejenak, lalu ia menoleh ke arah Mirai. "Mirai, kau ada di sini juga?"
"Iya, aku datang untuk persiapan pernikahanku," jawab Mirai.
"Oh iya, aku lupa. Sepertinya kemarin nona Aiko juga sudah memberitahuku," ucap Kaito.
__ADS_1
Tiba-tiba, Aiko memotong pembicaraan. "Kak Kaito, ini kemeja yang kau pesan sudah siap. Apakah kau mau mencobanya dulu?"
"Iya, boleh. Aku akan mencobanya lebih dulu," jawab Kaito sambil menerima kemeja dari Aiko.
Kaito melepas jas yang ia pakai dan meletakkannya di sebuah kursi. Selanjutnya, ia masuk ke dalam kamar ganti untuk mencoba kemeja yang ia pesan. Setelah dirasa cukup pas dan nyaman akhirnya ia keluar dari kamar ganti.
"Ukurannya pas aku suka. Terima kasih, Nona Aiko," Kaito tersenyum.
Aiko mengangguk dan tersenyum senang. "Syukurlah."
"Jahitannya bagus aku suka. Oh iya, dimana jasku tadi ya? Aku lupa menaruhnya." Kaito mencari jasnya.
"Ada di sini." Mirai menyela pembicaraan. "Jas kak Kaito ada di kursi. Biar aku ambilkan."
Mirai mengambil jas yang ada di kursi, lalu memberikannya pada Kaito. Disaat Kaito menerimanya, tidak sengaja saputangan yang ada di dalam saku jas itu terjatuh di lantai. Kaito tak menyadarinya dan bersikap seperti biasa, akan tetapi Mirai melihatnya dan mengambil saputangan itu.
Mirai membulatkan matanya dan terkejut melihat saputangan itu. "Saputangan ini sama persis dengan milikku!" batin Mirai terkejut.
"Kak Kaito, apakah saputangan ini milikmu?" tanya Mirai.
"Tunggu!" Mirai mengeluarkan saputangan miliknya.
"Saputanganmu sama persis dengan milikku. Darimana kau mendapatkan saputangan ini?" tanya Mirai ingin tahu.
Kaito menatap gadis itu dalam diam. Ia tak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya. Dan Aiko mengamati mereka dengan perasaan khawatir.
Mirai menatap Kaito dengan tatapan bingung. "Kenapa kak Kaito diam saja? Dimana kak Kaito membeli saputangan ini?"
"I-itu..." Kaito tidak melanjutkan kalimatnya.
"Itu apa? Tolong jawab aku. Baru kali ini aku melihat ada seseorang yang memiliki saputangan sama denganku," ucap Mirai.
Tiba-tiba, pintu berderit terbuka dan Aya muncul dari balik pintu. "Saputangan itu saling berhubungan."
__ADS_1
"Aya, kenapa kau ada di sini?" Kaito terkejut.
"Aku mau masuk ke dalam dan tak sengaja mendengar percakapan kalian. Maafkan aku kalau aku sedikit menguping, tapi Mirai butuh kebenaran ini. Kaito, katakan saja yang sebenarnya pada Mirai. Jangan menyimpan masalah ini terlalu lama," ucap Aya.
"Aya, apa maksudmu? Kebenaran apa yang kau katakan? Apakah kau mengetahui sesuatu tentang saputangan ini? Tolong jelaskan padaku!" Mirai menatap Aya dengan penuh tanda tanya.
Aya memandang Kaito yang sedang terpatung diam, dan Mirai pun mengikuti pandangan cewek tomboy itu.
"Apa kalian berdua menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Mirai dengan ekspresi sangat bingung.
Kaito menarik nafas dalam-dalam sebelum bicara. "Iya, benar. Apa yang Aya ucapkan tadi adalah benar. Kedua saputangan ini memang saling berhubungan. Namun sebelum aku mengatakan yang sebenarnya, aku ingin bertanya satu hal padamu. Apakah saputangan milikmu itu adalah pemberian dari seseorang?"
"Iya, saputangan ini adalah pemberian dari seseorang. Tapi bagaimana kau bisa tahu tentang hal ini?" tanya Mirai.
"Aku akan menunjukkan sesuatu padamu." Kaito membuka dompetnya, lalu ia mengeluarkan foto masa kecilnya bersama Eisuke. " Apakah orang yang memberimu saputangan adalah salah satu dari anak ini?"
Kaito menunjukkan foto itu pada Mirai, dan saat itu juga Mirai terdiam membeku oleh foto yang dilihatnya. Sedikit demi sedikit kebenaran mulai terungkap dan hal yang tak terduga terjadi.
"Iya, benar. Ini adalah anak laki-laki yang memberiku saputangan. Aku masih ingat wajah anak ini." Mirai menunjuk salah satu anak di foto itu. "Apakah kau mengenal dia? siapakah dia?"
Kaito menyipitkan mata. "Kau ingin tahu siapa dia?"
"Siapa anak laki-laki di foto itu? Sudah lama aku ingin bertemu dengannya. Please, beritahu aku. Aku ingin sekali bertemu dengannya!" ucap Mirai sungguh ingin tahu.
"Jika itu yang kau inginkan, aku akan mengatakan semuanya padamu. Anak itu adalah Eisuke. Dan saputangan ini adalah warisan dari keluargaku." Kaito mengungkapkan kebenaran.
Mirai menggeleng tak percaya. "Ti-tidak mungkin."
Di samping itu, Aiko juga sangat terkejut mendengar kalimat yang diucapkan Kaito. Aiko menutup mulutnya dengan kedua tangan dan menggelengkan kepala. Ia nyaris tak percaya dengan semua kebenaran ini.
"Semua yang diucapkan Kaito itu benar. Anak laki-laki yang kau temui waktu kecil itu adalah Eisuke," ucap Aya menambahkan.
"Ta-tapi.. bagaimana mungkin?!" Mirai masih tak percaya dengan kenyataan ini.
__ADS_1
"Waktu itu kami sedang menjenguk ayah kami yang sedang dirawat di rumah sakit. Dan tidak sengaja, Eisuke bertemu denganmu di sana. Namun, aku tidak menyangka dia memberikan saputangan itu padamu. Bagaimanapun itu, saputangan burung merak ini adalah milik keluarga Harada dan orang lain tidak mungkin memilikinya," ucap Kaito.
Mirai terdiam diiringi tetesan air mata di pipinya. Ia benar-benar tak menyangka kalau anak laki-laki yang ia temui itu adalah Eisuke. Mimik wajahnya terlihat frustasi dan pikirannya terkoyak.