
"Ayah sudah merestui hubunganmu dengan Mirai. Dia ingin kalian berdua menikah. Ayah sekarang memang sedang ditahan di penjara. Dia mengorbankan dirinya untuk menebus semua kesalahannya. Apakah kau masih tidak ingin bertemu dengan ayah?" tanya Kaito.
Eisuke menarik nafas sebelum menjawab. "Aku akan menemuinya. Begitu aku keluar dari rumah sakit, aku akan langsung menemuinya."
"Kak Eisuke, aku mengucapkan terima kasih karena kini nama baik ayahku telah kembali," ucap Yoshi.
Eisuke tersenyum. "Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Dari awal aku sudah berjanji ingin membantumu."
***
Satu bulan kemudian, Eisuke dan Mirai terlihat saling bergandengan tangan. Mereka berjalan menuju tempat di mana Kenji sedang di penjara. Kini, mereka duduk di sebuah ruangan tempat bertemunya tamu dan tahanan.
"Anakku.. Eisuke!" Kenji muncul didampingi dua orang penjaga.
"Ayah," panggil Eisuke.
Kenji menatap Eisuke dengan berlinang air mata. "Ayah senang akhirnya kau sembuh. Ayah sungguh bahagia bisa melihatmu sehat. Ayah minta maaf selama ini ayah banyak membebanimu dengan perbuatan ayah. Apakah kau mau memaafkan ayahmu yang berdosa ini?"
"Aku sudah memaafkan ayah. Aku dan Mirai datang ke sini untuk menjenguk ayah sekaligus berterima kasih karena ayah telah merestui hubungan kami. Aku minta maaf jika selama ini sifatku pada ayah kurang baik," jawab Eisuke.
Kenji menggelengkan kepala. "Tidak ada yang salah dengan sifatmu. Semua itu murni kesalahan ayah. Menikahlah dengan Mirai, ayah doakan semoga kalian bahagia."
"Paman Kenji, terima kasih banyak. Aku berharap paman bisa segera keluar dari penjara dan berkumpul lagi bersama kami," ucap Mirai tulus.
Kenji mengangguk. "Mirai, kau memang anak yang baik. Setelah semua yang aku lakukan padamu kau masih tidak membenciku. Kau sungguh anak yang baik. Aku beruntung memiliki menantu sepertimu. Aku berharap kau segera menikah dan hidup bahagia bersama putraku."
"Jaga diri ayah baik-baik. Aku janji akan sering datang menjenguk ayah." Eisuke bangkit berdiri dari kursinya dan bersiap-siap untuk pergi.
Kenji mengangguk dan wajahnya memancarkan ekspresi bahagia. Ia tersenyum menatap anak bungsunya yang dulu membencinya, kini menjadi baik padanya.
***
Hari ini, pernikahan Eisuke dan Mirai resmi digelar di sebuah taman. Taman itu dipenuhi dekorasi bunga-bunga dan juga kursi-kursi. Dibandingkan dekorasi pernikahan yang lain, mungkin ini terlihat lebih sederhana, tetapi justru inilah yang diinginkan oleh pasangan itu.
Dari kejauhan, nampak seorang wanita cantik sedang keluar dari mobil dengan memakai gaun pengantin putih yang indah. Dengan menyeret gaun pengantin yang panjang, Mirai didampingi pamannya berjalan menyusuri karpet merah menuju pelaminan, di mana sang calon mempelai telah menunggunya.
Eisuke mengulurkan tangannya dan tersenyum pada pengantin wanitanya. Perlahan, Mirai meletakkan jarinya pada tangan Eisuke, keduanya saling tersenyum dan acara pernikahan pun dimulai.
__ADS_1
Setelah mengikat janji suci bersama, akhirnya Eisuke dan Mirai resmi menjadi sepasang suami istri. Mereka berdansa mesra di hadapan semua orang dan menunjukkan cinta kasih mereka.
Eisuke menarik tubuh Mirai dan berbisik lembut. "Apakah kau bahagia?"
Mirai tersenyum. "Lebih dari yang kau bayangkan. Aku sangat bahagia."
"Aku akan mencintaimu selamanya. Bahkan, jika aku tidak dapat bernafas lagi, aku masih ingin terus mencintaimu. I Love You, Mirai," bisik Eisuke, lalu cowok itu mencium bibir Mirai dengan lembut.
Para tamu bertepuk tangan melihat sepasang pengantin itu berciuman. Setelah dansa selesai, Mirai dan Eisuke berjalan mendekati para tamu di sana.
"Mirai." Aiko berjalan mendekat. "Mirai, Eisuke, selamat ya. Aku turut bahagia atas pernikahan kalian."
"Terima kasih, Aiko." jawab Mirai dan Eisuke bersamaan.
Dari arah samping, Aya datang menghampiri mereka. "Hai, ganteng. Selamat ya, akhirnya apa yang kau harapkan selama ini jadi kenyataan."
Eisuke melotot ke arah Aya dan berekspresi kesal seolah-olah tidak ingin Aya mengucapkan kata-kata itu.
"Harapan?" tanya Mirai pada Aya.
Aya tertawa terbahak. "Hahaha! Iya, harapan kalian berdua. Kalian saling mencintai dan layak untuk menikah. Benar begitu, kan?"
Mirai menatap Aya dan Aiko. "Terima kasih kalian sudah datang. By the way, bagaimana kabar Hiro sekarang? Apakah selama ini dia baik-baik saja?"
Hiro baik-baik saja dan sekarang dia ada di depan," jawab Aiko.
"Hiro ada di sini? Kenapa dia tidak masuk?" tanya Mirai terkejut.
Aiko menggelengkan kepala. "Aku sendiri juga tidak tahu."
"Hmm, aku akan bicara dengan Hiro," ucap Eisuke sambil berjalan keluar.
"Tapi, Eisuke..." Mirai hendak mencegahnya, akan tetapi Aya dengan santai menarik lengan Mirai.
"Lebih baik jangan halangi dia. Aku yakin para lelaki punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah," ucap Aya.
Pada saat itu, Hiro sedang berdiri dan merokok di luar taman. Eisuke datang mendekatinya dari belakang.
__ADS_1
"Hiro," panggil Eisuke.
Hiro menoleh ke belakang dan melihat Eisuke sejenak, lalu ia melanjutkan merokok dengan santai.
Eisuke melangkah maju dan berdiri di samping cowok rambut merah itu.
"Kau sudah datang ke sini, tetapi kenapa kau tidak masuk ke dalam?" tanya Eisuke.
"Apa kau tidak melihat aku sedang merokok?!" jawab Hiro ketus.
"Jangan menjawabku dengan pertanyaan. Aku rasa bukan itu jawaban sesungguhnya, kau tahu benar apa maksudku. Aku harap kita bisa melupakan permusuhan di masa lalu." Eisuke diam sejenak. "Hiro, apakah kita bisa berteman?"
Hiro mendesah kasar. "Berteman?"
"Aku ingin berteman denganmu," ucap Eisuke.
Hiro tertawa kecil dan mematikan rokoknya. "Jangan bercanda dengan kata-kata itu."
"Aku tidak bercanda, kali ini aku serius. Aku harap kau mau melupakan semua yang telah terjadi di masa lalu," ucap Eisuke serius.
Hiro menatap Eisuke dan menghindari pertanyaan. "Aku ucapkan selamat atas pernikahanmu dengan Mirai. Jaga dia dengan baik. Jangan sampai kau menyakitinya lagi. Jika kau sampai menyakitinya maka aku tidak akan mengampunimu. Aku pamit, Bye!"
Hiro membalikkan badan dan mulai melangkah pergi. Namun, Eisuke kembali melontarkan kata-kata untuk menghentikannya.
"Apakah kau tidak ingin bertemu dengan Mirai?" tanya Eisuke.
Tanpa menoleh ke belakang, Hiro berhenti. "Tidak ada alasan bagiku untuk menemuinya lagi. Aku percayakan Mirai padamu, jaga dia baik-baik."
Hiro kembali melangkah pergi, tetapi Eisuke tidak tinggal diam. Cowok tampan itu terus mengatakan sesuatu untuk mencegahnya pergi.
"Jadi, kau mau berteman denganku?" tanya Eisuke dengan suara lantang.
Hiro tetap berjalan pergi dan tidak berhenti. Namun, sebuah senyuman muncul di bibirnya.
"Akan aku pertimbangkan!" jawab Hiro. Cowok rambut merah itu mengangkat tangan dan melambaikan tangannya.
Eisuke tersenyum menatap Hiro pergi. Ia terus menatapnya sampai cowok rambut merah itu menghilang dari pandangannya.
__ADS_1
Di dalam pesta, Mirai sedang sibuk menyapa tamu dan teman-temannya. Dari arah depan, tiba-tiba muncul sosok laki-laki membawa sebuah kado dihiasi pita merah.
"Hai, Mirai. Selamat ya, aku sangat bahagia bisa hadir dalam pesta pernikahanmu," ucap laki-laki itu sambil tersenyum.