Trip Of My Heart

Trip Of My Heart
EPISODE 45 --> Pergi ke Kyoto


__ADS_3

Mirai flashback teringat kata-kata Eisuke!!


*Eisuke : "Jika kau bertemu lagi dengan anak itu, apa yang akan kau lakukan?"


*Mirai : "Aku ingin mengembalikan saputangan ini dan berterima kasih padanya."


*Eisuke : "Tapi sepertinya anak laki-laki itu sudah tidak membutuhkan saputangan itu lagi. Sebaiknya, kau urungkan niatmu untuk mengembalikannya."


Back to present !


"Aku tahu sekarang, mengapa dia dulu mengatakan itu padaku. Karena anak laki-laki itu adalah dirinya sendiri. Aku sungguh bodoh! Kenapa aku tidak menyadari hal ini," batin Mirai.


"Jika benar anak laki-laki itu adalah Eisuke, mungkin aku tidak bisa menemuinya lagi. Aku akan menikah dengan Hiro, sedangkan dia juga sudah punya tunangan. Sebagai teman pun kami tidak bisa bertemu," ucap Mirai.


Aya ikut buka suara. "Kau salah, Mirai! Eisuke sama sekali tidak pernah bertunangan dengan Megumi. Aku sudah melihatnya sendiri. Tidak ada hubungan apa-apa diantara mereka."


"Aya!" bentak Kaito keberatan dengan penjelasan Aya.


"Kaito, aku telah mengatakan yang sebenarnya. Sebaiknya kita katakan semuanya pada Mirai. Biar dia sendiri yang memutuskannya." Aya menatap Kaito sejenak, lalu beralih menatap Mirai. "Mirai, semua yang aku katakan ini benar. Eisuke sangat mencintaimu dan hatinya hanya untukmu. Hiro atau Eisuke, siapa yang akan kau pilih, hanya kau sendiri yang tahu jawabannya."


"Kak Kaito, apakah yang Aya katakan itu benar? Tolong jawab aku," tanya Mirai dengan berurai air mata.


"Iya, benar. Eisuke tidak pernah bertunangan dengan Megumi. Sejak awal dia sudah menolak pertunangan itu," jawab Kaito jujur.


"Benarkah? Lalu, kenapa dia membohongiku dan mengatakan akan bertunangan dengan Megumi?" tanya Mirai bingung tak mengerti.


Semuanya terdiam dan tak tahu harus berkata apa. Air mata terus bercucuran di pipi Mirai dan suasana hatinya semakin memburuk.


"Biaya kuliahmu, Eisuke-lah yang membiayai semuanya. Dia-lah orang yang membantu biaya kuliahmu sampai akhir." Tiba-tiba Kaito membongkar semuanya.


Sontak Mirai gemetar mendengar semua kebenaran yang diucapkan Kaito. Tubuhnya terhuyung hampir jatuh, tetapi dengan cepat tangannya berpegang pada kursi di sebelahnya.


"Dia berbohong padaku selama ini. Bahkan, kebohongannya terlalu banyak sehingga aku tak dapat menyadarinya," batin Mirai sedih.

__ADS_1


"Tanpa diketahui orang, ternyata Eisuke telah banyak berkorban untuk Mirai," gumam Aya.


"Kak Kaito, dimana Eisuke sekarang? Aku ingin bicara dengannya," ucap Mirai.


"Eisuke tidak ada di sini. Dia sudah pergi ke Kyoto," jawab Kaito.


Mirai membelalakkan mata. "Kyoto? Beritahu aku alamatnya. Aku ingin pergi menemuinya."


Kaito terlihat ragu-ragu untuk bicara. Ia melirik ke arah Aya, lalu cewek tomboy itu menganggukkan kepala menandakan ia setuju dengan permintaan Mirai. Kaito membuka dompetnya dan memberikan sebuah kartu nama hotel kepada Mirai.


"Ini hotel bintang lima milik ayahku di Kyoto. Eisuke sekarang tinggal di sana," ucap Kaito.


Mirai menerima kartu nama itu. "Aku akan pergi menemuinya sekarang."


Mirai membalikkan badan dan mulai melangkah pergi, tetapi Aiko meraih tangannya dan menghentikannya.


"Mirai, hari ini adalah hari pernikahanmu dengan Hiro. Jika kau pergi ke Kyoto sekarang maka kau tidak akan punya waktu untuk datang ke pelaminan," ucap Aiko.


Aiko merasa khawatir dan gelisah karena Mirai mendadak pergi. Ia tak tahu harus berkata apa pada Hiro nanti.


Beberapa saat kemudian, Mirai tiba di rumah. Ia mengambil tas dan bersiap-siap untuk pergi ke Kyoto. Namun, paman tiba-tiba datang menyapanya.


"Mirai, bukankah seharusnya kau sekarang ada di butik Aiko. Mengapa kau tiba-tiba pulang?" tanya Paman.


"Paman, aku harus pergi sekarang," jawab Mirai tergesa-gesa.


"Kau mau pergi kemana?" tanya Paman sambil mengerutkan dahi.


"Paman, aku harus pergi menemui Eisuke sekarang. Ini sangat penting bagiku. Anak laki-laki yang memberiku saputangan itu adalah Eisuke. Dia juga yang membiayai kuliahku selama ini. Aku harus bicara dengannya. Tolong izinkan aku pergi, Paman," ucap Mirai sambil meneteskan air mata.


"Mirai, paman mengerti perasaanmu. Tapi pernikahan bukanlah hal untuk main-main. Kau dan Hiro sudah berjalan sejauh ini dan kau ingin pergi begitu saja? Paman tidak akan mengizinkanmu pergi," ujar Paman.


"Aku tahu itu, Paman. Tetapi aku tidak bisa menikah dengan Hiro. Izinkan aku pergi, Paman. Aku mohon!" Mirai menyiratkan permohonan.

__ADS_1


Disaat Mirai dan Paman sedang bercakap, Yoshi mengintip dari balik pintu. Ia telah mendengar semua percakapan itu dan memahami maksud hati Mirai. Anak itu bergegas pergi mengambil celengan uangnya, lalu ia pergi menuju stasiun.


Setelah tiba di stasiun, Yoshi lantas meluncur ke tempat penjual tiket.


"Hallo, ada yang bisa aku bantu?" ucap Wanita penjual tiket.


"Apakah kereta menuju Kyoto masih ada? Saya ingin membeli tiket ke Kyoto," ucap Yoshi.


Wanita itu menatap komputer-nya dan berkata. "Kebetulan kereta shinkansen terakhir menuju Kyoto akan berangkat satu jam lagi. Mau beli tiket untuk berapa orang?"


"Saya ingin membeli satu tiket. Apakah uangku ini cukup untuk membayarnya?" Yoshi menyerahkan celengannya yang berbentuk ayam kepada wanita itu.


Sementara itu, paman masih melarang Mirai pergi. Mirai masuk ke dalam kamar dan menangis. Beberapa saat kemudian, Yoshi masuk ke dalam kamar Mirai dengan nafas ngos-ngosan.


"Yoshi." Mirai melihat Yoshi dengan tatapan kaget.


"Kak Mirai, aku barusan dari stasiun membeli tiket ke Kyoto. Sebentar lagi kereta jurusan Kyoto akan berangkat. Ini tiket untukmu, terimalah!" ucap Yoshi sambil menyodorkan sebuah tiket.


Mirai menerima tiket itu dengan ekspresi bingung. "Ta-tapi, bagaimana bisa kau membelinya."


"Kak Mirai jangan pikirkan itu. Aku membeli tiket ini dengan uang gaji tabunganku. Aku sudah menganggap kak Mirai seperti kakak kandungku sendiri. Aku ingin kak Mirai bahagia. Cepatlah pergi, Kak! Biar aku yang mengurus paman," jawab Yoshi.


"Yoshi, terima kasih banyak." Mirai memeluk Yoshi dan meneteskan air mata.


Atas bantuan Yoshi, akhirnya Mirai berhasil keluar dari rumah dan bergegas pergi menuju stasiun. Setelah tiba di stasiun, Mirai berlari dengan sekuat tenaganya dan masuk ke dalam kereta. Tak lama kemudian, kereta mulai melaju kencang menuju ke Kyoto.


Di sisi lain, Hiro sedang berdandan dan bersiap-siap untuk acara pernikahannya. Ia tidak tahu kalau Mirai telah pergi meninggalkan Tokyo.


Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya Mirai tiba di stasiun Kyoto. Gadis itu lantas pergi menuju alamat hotel yang diberikan Kaito.


Mirai keluar dari taksi, lalu mendongak ke atas. Ia tiba di depan hotel bintang lima yang besar dan megah.


"Apa benar Eisuke tinggal di sini?" tanya Mirai dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2