
"Aya, kau hebat sekali bisa membuat dia ketakutan dan pergi," ucap Mirai tersenyum.
Aya menarik nafas dan menatap Mirai. "Betapa bodoh dan polosnya dirimu. Sudah dihina seperti itu kau masih diam saja. Kalau aku jadi dirimu mungkin aku sudah memukulnya sampai babak belur." Wajah Aya berubah menjadi geram. "Mirai, jika dia mengganggumu lagi katakan padaku. Aku akan menghajarnya!"
Aiko menggelengkan kepala. "Aya, sebenarnya kau ini seorang model atau preman?"
"Tentu saja aku seorang model. Aku dulu pernah masuk menjadi model majalah di New York. Dan ayahku juga adalah seorang seniman yang terkenal." jawab Aya bangga.
"Wah, kau benar-benar hebat," puji Mirai.
"Ya, benar. Kau hebat, Aya," imbuh Aiko.
Mirai tersenyum tipis. "Aku sekarang mau ke perpustakaan. Apa kalian mau ikut?"
"Tidak. Maaf, aku harus pulang sekarang. Selesai kuliah aku sibuk membantu ibuku di butik. Aya, jika kau tidak sibuk tolong temani Mirai ke perpustakaan ya. Aku mau pulang duluan. Bye." Aiko pergi meninggalkan Kafetaria.
"Mirai, aku temani kau ke perpustakaan," ucap Aya.
Mirai mengangguk dan mereka berdua pergi ke perpustakaan. Pada saat tiba di sana, Mirai dan Aya melihat Eisuke sedang berdiri di depan rak buku.
"Mirai, lihat! Ada Eisuke." Aya tersenyum senang. "Ayo kita hampiri dia." Aya menarik tangan Mirai, lalu pergi mendatangi cowok tampan itu.
Sontak raut wajah Mirai berubah menjadi gugup. Setelah sampai di dekat Eisuke, Mirai dengan cepat menundukkan kepalanya.
"Hai ganteng, kenapa kau sendirian di sini? Mana pacarmu yang jahat itu?" sapa Aya pada Eisuke.
"Itu bukan urusanmu!" Eisuke menatap Aya sesaat, lalu beralih menatap Mirai. Cowok tampan itu menatap Mirai sesuatu.
"Kau ini tampan, tetapi sayang sikapmu sangat dingin. Apakah kau selalu bersikap seperti ini kepada semua cewek?" Aya menatap Eisuke, dan ia menyadari kalau Eisuke tidak memperhatikannya. Cewek tomboy itu mengamati gerak gerik Eisuke, lalu tatapannya beralih pada Mirai yang sedang menundukkan kepala.
"Sepertinya ada yang aneh diantara mereka berdua," ucap Aya dalam hatinya.
"Mirai," panggil Aya.
"Iya?" Mirai tersentak kaget.
__ADS_1
"Kau tadi ingin datang ke perpustakaan karena ada keperluan, kan? Uruslah keperluanmu. Aku akan menunggumu di sini," ucap Aya.
"Baik lah, aku mau pergi mencari buku yang aku butuhkan. Nanti jika aku sudah selesai, aku akan memberitahumu." Mirai tersenyum, lalu ia pergi ke arah lain.
Setelah Mirai pergi, Aya dan Eisuke terdiam di tempat. Eisuke berbalik dan mencoba pergi, akan tetapi ia terhenti oleh kata-kata Aya yang tak terduga.
"Aku melihatmu! Kau melihat Mirai dengan tatapan berbeda." Aya dengan serius menatap Eisuke yang hendak pergi. "Apakah pernah terjadi sesuatu diantara kalian berdua? Aku selama ini sudah banyak mengenal laki-laki, jadi sebaiknya kau berkata jujur padaku."
"Tak ada yang perlu aku katakan padamu," ucap Eisuke dingin, lalu ia pergi meninggalkan Aya.
"Hmm, sepertinya aku perlu menyelidikinya lebih lanjut," batin Aya curiga.
Tak lama kemudian, Hiro masuk ke dalam perpustakaan dan menghampiri Aya dengan tergesa-gesa.
"Hai, tomboy. Kau tahu pacarku ada di mana? Tadi aku pergi ke Kafetaria dan kalian tidak ada di sana." Hiro terlihat khawatir.
"Hei, rambut merah. Kalau tanya yang sopan. Jangan panggil aku tomboy, aku tidak suka! Pacarmu ada di perpustakaan ini. Carilah sendiri!" jawab Aya ketus.
"Sorry dan terima kasih." Hiro tersenyum tipis.
"Kau tahu betapa khawatirnya aku? Kalau mau pergi, kau harus memberitahuku lebih dulu. Kau mengerti?" Hiro mengecup kening Mirai dan memeluknya erat.
"Aku mengerti. Jangan khawatir," jawab Mirai dalam pelukan Hiro.
Sementara itu, di rak buku sebelah. Eisuke sedang mengamati Hiro dan Mirai yang sedang berpelukan. Eisuke menyandarkan tubuhnya ke rak sambil memejamkan mata. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Rasa cemburu dan emosi muncul berkecamuk jadi satu dalam benaknya. Perasaan menyesal sedikit demi sedikit mulai tumbuh ketika ia melihat wanita yang dicintainya bersama orang lain.
"Aku tidak pernah menyukai seseorang seperti ini sebelumnya," ucap Eisuke dalam hatinya.
***
Beberapa hari kemudian, Hiro mengantar Mirai pulang ke rumahnya. Saat mobilnya sampai di depan rumah Mirai, Hiro menarik tangan gadis itu dan menahannya di mobil.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Hiro dengan nada serius.
"Ya? Katakan saja tentang apa itu?" tanya Mirai.
__ADS_1
"Minggu depan aku ingin mengajakmu makan malam di rumahku. Aku ingin mengenalkanmu kepada kedua orang tuaku. Dan aku harap kau tidak menolaknya," ucap Hiro dengan penuh harapan.
Mirai berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke. Minggu depan kita makan malam bersama di rumahmu."
"Aku senang sekali mendengarnya." Hiro tersenyum, lalu mencium tangan Mirai dengan lembut.
***
Hari ini di kelas, Aya terus-menerus menatap ke arah Eisuke. Cowok tampan itu tampak tidak bersemangat dan terlihat sibuk menulis sesuatu di bukunya. Aya merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh cowok itu. Setelah menunggu beberapa saat, Aya bangkit dari kursinya, lalu pergi menghampiri Eisuke di tempat duduknya. Dengan senyuman nakal, Aya menarik buku Eisuke dan membawanya pergi.
"Hei, kembalikan!" Eisuke tersentak kaget.
Aya tersenyum sambil menyembunyikan buku itu di belakang tubuhnya. "Tidak akan aku kembalikan!"
Aya bersembunyi dan melihat gambar yang ada di buku itu. Sontak cewek tomboy itu membulatkan matanya ketika melihat gambar wanita yang ada di buku itu.
Aya berpikir sejenak dan berkata lirih. "Inikah hasil menggambar Eisuke? Gambar wanita ini sangat mirip dengan Mirai."
Eisuke mendekati Aya, lalu merebut buku itu secara paksa. "Dengar, mulai sekarang jangan mengangguku lagi! Apa kau mengerti?!" ucap Eisuke dengan nada dingin dan tajam.
Aya tersenyum. "Semakin kau marah kau semakin terlihat tampan."
Eisuke berpaling dan kembali ke tempat duduknya seperti semula.
"Aku merasa ada sesuatu diantara Eisuke dan Mirai," ucap Aya dalam hatinya.
Kini, pelajaran di kelas telah selesai. Semua orang dengan cepat meninggalkan kelas. Mirai dan Hiro berpamitan pada Aiko dan Aya untuk pulang lebih awal. Sepasang kekasih itu nampak rukun dan ekspresinya bahagia.
"Aiko, apakah Mirai dan Hiro sudah lama pacaran?" tanya Aya.
"Belum lama. Mungkin masih beberapa bulan. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?" jawab Aiko sambil bersiap-siap untuk pulang.
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu saja," ucap Aya.
Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Aiko akhirnya mereka berdua berpisah. Aya berjalan keluar menuju mobil jemputannya. Namun, langkahnya terhenti pada sosok di depannya. Aya melihat Kaito sedang menyetir mobil dengan kaca terbuka. Dengan refleks cepat, Aya berlari menghentikan mobil itu. Aya berhenti tepat di depan mobil Kaito sambil merentangkan kedua tangannya ke samping. Melihat Aya ada di depan mobilnya, Kaito pun tersenyum dan menghentikan mobilnya.
__ADS_1